Sabtu, 23 Januari 2021 / 9 Jumadil Akhir 1442 H

Kisah & Perjalanan

Di PLN Pusat, Empat Remaja Asmat Bersyahadat

muh. abdus syakur/hidayatullah.com
Yopi (kanan) bersyahadat dengan bimbingan Syamsurijal Munif, Ketua Lazis PLN.
Bagikan:

YANCE menghambur senyumnya sesemringah mungkin. Barisan gigi putih kekuningan tampak dari balik kedua bibir pria berkulit hitam itu. Ia tengah duduk lesehan bersama 3 orang sebayanya.

Keempat remaja asli suku Asmat, Papua, itu dikelilingi 500-an pria. Tapi bukan di kampung mereka. Melainkan di lantai dua Masjid at-Taqwa, kantor pusat PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), Jl Trunojoyo, Jakarta.

Kamis, 4 Rabiuts Tsani 1437 H (14/01/2016) itu menjadi hari istimewa. Baju koko-peci putih dan sarung yang mereka kenakan menjadi saksi. Ini adalah momentum bersejarah atas perpindahan keyakinan mereka.

Ya! Siang itu, secara berurutan, Yance (18), Yopi (16), Gerry (15), dan Hilman (15) mengucapkan dua kalimat syahadat. Satu persatu, mereka dibimbing oleh 4 orang pengurus PLN dan Lembaga Amil Zakat (Lazis)-nya.

Prosesi ini berlangsung usai shalat Zuhur, disaksikan para jamaah yang kebanyakan karyawan BUMN itu. Pengamatan hidayatullah.com, suasana haru campur bahagia menyelimuti masjid tersebut. Beberapa kali pekikan takbir jamaah memenuhi ruangan.

Pengislaman ini diprakarsai dan didampingi oleh Ketua Al-Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN), Ustadz Fadlan Garamatan, serta Kepala Suku Asmat Besar, Umar Abdullah Kayimter.

Asyhadu alla ilaha ilallah, wa asyhadu anna Muhammadarrasulullah. Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad utusan Allah,” ujar Yance yang bersyahadat cukup lancar, dibimbing oleh Helmi Najamuddin, Kepala Keselamatan dan Kesehatan Kerja PLN.

Menyusul kemudian Yopi, ia bersyahadat dengan bimbingan Syamsurijal Munif, Ketua Lazis PLN. Lalu Gerry oleh Herry Hasanuddin (Ketua Bidang Koordinasi dan Kerjasama Strategis Lazis PLN).

Sementara Hilman dipandu Heru Sri Widodo, General Manager PLN UIP 1 Medan yang sedang ada urusan di Jakarta.

Usai itu, atas permintaan Fadlan, keempat pengurus PLN tersebut memberi nama sesuai keinginannya kepada masing-masing mualaf yang dibimbingnya.

Di Balik Nama Baru

Selepas pemberian nama, tuan rumah memberikan hadiah dan bingkisan perlengkapan Muslim kepada para mualaf. Lazis PLN mengagendakan memberikan mereka beasiswa pada Jumat (15/01/2016) siang.

“Untuk anak-anakku ini, dari Lazis PLN menyampaikan hadiah Rp 5 juta. (Penyebutan) ini bagian dari transparansi (penggunaan dana),” ujar Syamsurijal.

Para mualaf (bawa bingkisan) foto bersama Fadlan, Umar, serta para pengurus PLN. [Foto: Syakur]

Para mualaf (bawa bingkisan) foto bersama Fadlan, Umar, serta para pengurus PLN. [Foto: Syakur]

Para jamaah pun menghadiahkan mereka dengan salaman, pelukan, dan cipika-cipiki. Terlihat pula seorang karyawan memberikan mereka uang tunai ratusan ribu rupiah.

Siang itu, diiringi doa para jamaah, Yance berganti nama menjadi Muhammad Yusuf, Yopi jadi Muhammad Ismail, Gerry jadi Muhammad Iqbal, dan Hilman jadi Muhammad Hanif.

Nama baru Yance dan Yopi mengambil spirit dari nama Nabi Yusuf dan Nabi Ismail. Sedangkan nama Iqbal, kata pemberinya, dipilih sebagai doa agar sang pemilik menjadi orang yang cerdas.

“Saya suka nama Nabi Ismail. Dia berkurban, kemudian dia orang yang taat kepada orangtuanya, orang yang teguh. Jadi saya harapkan Yopi seperti Nabi Ismail,” ujar Syamsurijal.

Seakan menguji, ia lantas bertanya kepada Yopi, “Siapa namanya?”

“Muhammad Ismail,” jawab Yopi alias Ismail dengan mantap tapi agak pelan.

Sementara Heru punya alasan tersendiri. Kata dia, karena nama Hilman dan nama Heru sama-sama berawalan H, maka dia memberi mualaf yang dibimbingnya itu nama Hanif.

“Hanif seperti (nama) anak saya yang pertama,” ujarnya sedikit berguyon disambut tawa kecil sebagian hadirin.

Setiap selesai pemberian masing-masing nama itu, jamaah berbarengan mendoakannya dengan bacaan Surat al-Fatihah.

Selama ini, keempat remaja itu hanyalah lulusan Sekolah Dasar. Di tempat asal, Kampung Peer, Distrik Agats, Kabupaten Asmat, mereka tak tentu profesi. Kadang melaut, kadang menganggur. Tak heran jika mereka belum bisa berbahasa Indonesia dengan baik.

Seorang reporter media online yang hendak mewawancarai mereka saat itu sempat menceletuk, “Saya menanyakan umurnya aja susah banget dijawab.” Fadlan pun menjadi juru bicara ke wartawan.

Didukung Keluarga Nasrani

Fadlan menjelaskan, para santrinya itu baru tiba di Jakarta, Selasa (12/01/2016) lalu. Dalam proses pembinaan sebagai mualaf, mereka dimasukkan ke Pondok Pesantren Nuu Waar di Bekasi, Jawa Barat, yang dikelola AFKN.

Lembaga dakwah khusus anak-anak Papua ini memang memiliki kerjasama dengan Lazis PLN, yang telah cukup perhatian terhadap para santri Nuu Waar. “Lazis PLN telah memberikan beasiswa 76 santri Irian selama tahun 2016 ini,” ujarnya mencontohkan kepada hidayatullah.com usai acara.

Nantinya, setamat dari pesantren, Fadlan menargetkan, mereka dipulangkan untuk menghidupkan kampungnya dengan sosok dan jiwa baru, bersama cita-cita masing-masing.

“Harapannya ke depan mereka ini akan tampil menjadi anak bangsa yang gagah, pintar, cerdas, dan hebat. Sehingga memahami Islam yang ada dengan kuat dan menjaga NKRI di belakang sana (Papua. Red)” ujarnya.

Para remaja berlatar keluarga Nasrani itu tentunya masuk Islam karena hidayah Allah Subhanahu Wata’ala. Selain tanpa paksaan, kata Fadlan, juga didukung keluarga mereka.

Berdoa untuk kebaikan para mualaf Asmat, Papua. [Foto: Syakur]

Berdoa untuk kebaikan para mualaf Asmat, Papua. [Foto: Syakur]

Usai bersyahadat, Yusuf, Ismail, Iqbal, dan Hanif bersantap siang bareng di lantai dua ruang kantor masjid. Seorang dari mereka pun mengambil beberapa tangkai buah anggur dari atas meja, lalu menikmatinya.

Kenikmatan hidangan yang dirasakan itu, akan jauh lebih dahsyat, jika mereka mampu mencicipi Islam dengan keistiqomahan. Sebagaimana harapan Syamsurijal dalam doanya saat di masjid; “Mudah-mudahan diberikan keberkahan yang melimpah, kemudian bersama-sama (kita) masuk ke syurga. Aamiin!.”*

Rep: Muhammad Abdus Syakur
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Sekulerisme Wariskan Problem Besar Muslim Turki

Sekulerisme Wariskan Problem Besar Muslim Turki

Sisa Ketakutan pada Pria Berjanggut

Sisa Ketakutan pada Pria Berjanggut

Gereja dan Inkuisisi Spanyol

Gereja dan Inkuisisi Spanyol

Melihat Caravansaray dan Hotel Gratis di Era Keemasan Islam [2]

Melihat Caravansaray dan Hotel Gratis di Era Keemasan Islam [2]

Haji Itu Tentang Ketaatan

Haji Itu Tentang Ketaatan

Baca Juga

Berita Lainnya