Senin, 5 Juli 2021 / 25 Zulqa'dah 1442 H

Kisah & Perjalanan

Berkah Sedekah Jamu Gratis untuk Hafidz Quran

Fauzi bersama para pelanggan jamunya: Gratis selamanya bagi yang hafal al-Quran
Bagikan:

Hidayatullah.com –Menjadi diri sendiri dan berbeda memang membutuhkan usaha dan keberanian. Setidaknya itu yang dilakukan Muhammad Fauzi. Suatu hari, tiba-tiba ia punya ide tidak biasa. Setelah melakoni pekerjaan ini sejak 20 tahun silam, ia punya ide menjual jamu membawa puluhan buku-buku bacaan di gerobak motornya.

Saiki zamane moco” (sekarang zamannya membaca, red). Tulisan itu ditempel di motor dekat dengan botol-botol jamunya. Di sisi lain, ia juga memberi penguman bertuliskan “yang hafal al-Quran minum gratis selamanya”.

Fauzi Jamu 2a

Bonus gratis ‘minum jamu sepuasnya dan selamanya bagi hafidz/hafidzah (penghafal al-Quran)’

Sejak ide unik Fauzi berjualan jamu sambil membawa buku bacaan bagi para pelanggannya, ia jadi ramai diperbincangkan di sosial media. Apalagi, ia juga menambahkan bonus gratis ‘minum jamu sepuasnya dan selamanya bagi hafidz/hafidzah (penghafal al-Quran)’.

“Ide itu muncul secara spontan, kebetulan istri saya juga seorang hafidzah (penghafal al-Quran). Ini juga sebagai penghargaan terhadap para penghafal al-Quran,” kata Fauzi kepada hidayatullah.com saat ditemui di rumahnya di Jalan Sukorejo RT 9 RW III, Desa Sukerejo, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Selasa (08/12/2015) lalu.

Fauzi bukan sedang bergurau. Ia mengaku sengaja memberikan bonus ‘minum jamu gratis selamanya’. Syaratnya cukup mudah, hanya mengaku sebagai seorang hafidz/hafidzah, maka Fauzi akan dengan senang hati memberikan jamunya secara cuma-cuma alias gratis.

“Cukup mengaku dia hafidz, saya akan kasih jamu sepuasnya dan selamanya. Urusan itu benar atau tidak, perkara dirinya dengan Allah saja,” tutur ayah dua anak yang mengaku berpenghasilan 50.000 rupiah perhari ini.

Saat ditanya apakah dirinya tidak merasa rugi dengan cara seperti itu? Pria yang juga alumni Pondok Pesantren Bustanul Arifin, Banyuwangi ini menganggap hal itu sebagai sedekah biasa saja.

“Tidak sama sekali, itu ibarat sedekah atau berbagi sama teman saja. Lagipula insya Allah nggak mengurangi pendapatan,” ungkapnya.

Bahkan, keyakinan ini Fauzi tularkan kepada temannya yang seorang penjual kerupuk keliling.

“Awalnya juga bertanya ‘nggak rugi tah?’ Saya jawab, ‘wis tah (sudahlah) anggap saja sedekah, insya Allah nggak rugi,” ucapnya yakin.

Hanya saja menurutnya, sampai hari ini belum ada yang dapat minum gratis.

“Belum ada yang gratis karena dia penghafal al-Quran, “ ujarnya.

Zamannya Membaca

Fauzi mengaku, ia mulai dikenal ke publik karena keunikannya dalam berjualan jamu. Tidak hanya menjajakan jamu, ia juga membawa puluhan buku setiap hari di gerobaknya untuk sekedar dibaca atau dipinjamkan kepada para pelanggannya.

Fauzi Jamu Perpus1

Muhammad Fauzi dengan latar belakang Taman Ilmu Masyarakat (TIM) Buduran, Sidoarjo [hidayatullah.com]

Dilatarbelakangi oleh hobinya yang memang membaca, pria kelahiran 7 Mei 1982 ini juga berkeyakinan bahwa dengan membaca akan lebih mencerdaskan masyarakat bahkan mengangkat derajat hidup seseorang. Terlebih, kata Fauzi, membaca adalah seruan agama melalui wahyu yang pertama kali turun, yakni Iqra’ (perintah membaca).

“Sebagaimana perintah Al-Quran itu kan Iqra’, bacalah. Nah dalam dakwah salah satunya kan bisa dengan membagikan buku agar orang mau membaca,” terang pria berambut gondrong ini.

Ia punya ide membuat perpustakaan saat di rumahnya melihat istrinya membuka Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) bagi anak-anak warga sekitar tempat tinggalnya.

Melihat banyak anak-anak ngaji di rumahnya, tahun 1998, Fauzi berinisiatif membuat perpustakaan mini di rumahnya. Modal pertama buku-bukunya saat di pesantren dulu. Sampai pada sekitar 2011, ia memutuskan untuk membawa buku-buku tersebut bersama dagangan jamunya.

Sejak punya ide uniknya, kini menjadi berkah tersendiri bagi Fauzi. Kini, ia sudah memiliki sebuah taman baca bernama Taman Ilmu Masyarakat (TIM) Buduran, Sidoarjo dengan jumlah sekitar 7000 koleksi buku bacaan.

Santri TPA di rumahnya yang mengaji setiap sore hari pun, kini sudah berjumlah hampir 100 anak. Ia juga mengelola sebuah PAUD yang diberi nama Bustanul Hikmah yang menampung sebanyak 40 anak dengan gratis alias tanpa dipungut biaya.

“Itu sudah kita batasi, karena keterbatasan tempat. Sebetulnya target awalnya hanya 15, tapi ternyata sekarang ada 40. Dan itu diasuh sendiri oleh istri saya bersama dua orang relawan,” jelas Fauzi.

Ditanya mengenai pembiayaan operasional, Fauzi menjawab bahwa semuanya berjalan dengan modal kepedulian dari orang lain.

“Relawan pun hanya kami beri insentif 100 ribu per-bulan. Ya saya akan terus usahakan agar semua ini tetap jalan, saya yakin masih banyak di luar sana orang-orang yang peduli,” ungkapnya.

Sejak wajahnya muncul dan jadi perbincangan media sosial. Keberkahan ikut mengiringinya.
Beberapa orang bahkan perusahaan mendatanginya. Belum lama ini ia mendapat hibah motor dari Tata Motor, perusahaan motor asal India guna menjadikannya sebagai perpustakaan keliling. Ada pula yang membangu merenovasi rumahnya.

Bahkan Fauzi mengungkapkan, bahwa ia berencana membangun pesantren di rumahnya.

“InsyaAllah tahun depan ini kita akan realisasikan, sekarang masih tahap merancang bangunannya. Jadi atas ini bakal didek semua, dan dibuat seperti kamar-kamar, untuk belajarnya nanti bisa di alam terbuka saja,” jelasnya sambil menunjuk atap rumahnya.

“Saya juga berencana mencari hafidz untuk disekolahkan sampai tamat kuliah,” lanjut Fauzi.
Terkait pendanaan dan lainnya, Fauzi mengaku menyerahkan semuanya kepada Allah, sebagaimana yang sudah ia lalui selama ini.

“Dananya ngalir saja, insyaAllah ada. Seperti halnya rumah ini, kalau saya bekerja tanpa melibatkan Allah misalnya, saya yakin sampai detik ini pun saya belum bisa bangun rumah sampai jadi seperti sekarang ini,” tuturnya.

“Sebelum buka perpustakaan saya juga bekerja, tapi nggak bisa sampai begini, makanya menurut saya penting sekali bekerja untuk Allah,” pungkasnya. *

Rep: Yahya G. Nasrullah
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Kisah Muhammad Keith, Usia 90 Tahun Semangat Belajar Baca Quran

Kisah Muhammad Keith, Usia 90 Tahun Semangat Belajar Baca Quran

“Selamat Datang di Kota Nabi”

“Selamat Datang di Kota Nabi”

Lari Saat Gempa, Muslimah Sempatkan Ambil Kerudung

Lari Saat Gempa, Muslimah Sempatkan Ambil Kerudung

Jalan Setapak Itu Kini Telah Jadi Sungai

Jalan Setapak Itu Kini Telah Jadi Sungai

Nikah Ramai-ramai, Aqiqah pun Ramai-ramai

Nikah Ramai-ramai, Aqiqah pun Ramai-ramai

Baca Juga

Berita Lainnya