Semalaman dari Makassar ke Luwu Timur

Kejujuran Kernet Garuda yang Mengejutkan

“Yang mau shalat Shubuh, Shubuh,” kernet berkaos hitam berteriak kepada para penumpang. Sebagian orang turun.

Kejujuran Kernet Garuda yang Mengejutkan
muh. abdus syakur/hidayatullah.com
Suasana di dalam armada sebelum keberangkatan.

Terkait

RODA Garuda berputar perlahan meninggalkan Terminal Regional Daya, Kota Makassar. Puluhan penumpang di atasnya sudah mulai bersiap menempuh perjalanan cukup jauh. Saya, mungkin karena terlambat pesan tiket, kebagian kursi paling belakang.

Ini pertama kalinya saya naik Garuda, salah satu bus umum di ibukota Sulawesi Selatan (Sulsel) itu. Sebenarnya ada perasaan kurang sreg, sebab ini bukan bus yang semula mau kutumpangi.

Sebelum ke terminal, Lukman Hakim, kawan yang akan kukunjungi dalam perjalanan ini, merekomendasikan bus Bintang Timur. Pelayanan bus ini dinilainya memuaskan.

Kupesanlah kepada Ahmad Sabil, kawan lain, yang mengantarku ke Terminal Daya, agar mencari bus tersebut. Namun, malam itu, begitu tiba di terminal, bus yang terlihat sesuai jurusan tujuanku adalah Garuda.

Mungkin atas pertimbangan efesiensi waktu, Sabil tak menyarankanku mencari bus lain. “Naik Garuda saja,” ujarnya padaku usai ia berkomunikasi dengan petugas bus.

Sebelum menyetujuinya, saya memastikan sejenak bahwa kondisi bus ini bagus. Bodi Garuda didominsi ungu dengan gambar-gambar “love” warna-warni. Interiornya cukup elit, berformasi kursi 2-2. Full AC. Perjalanan malam ini akan terasa dingin, pikirku.

“Ada (jatah) selimutnya ya?” saya bertanya kepada kernet bus.

“Iya, ada!” jawabnya mantap.

Saya pun mengikuti saran Sabil. Kuserahkan 4 lembar uang Rp 50 ribu padanya untuk membayar tiket.

Sejurus kemudian, Sabtu kedua Agustus 2015 itu, Sabil sudah pulang meninggalkanku. Saya pun mengatur posisi barang di dekat tempat duduk. Sebagian penumpang lain menarik selimut masing-masing. Anehnya, tak kujumpai selimut di kursiku. Begitu pula dengan penumpang di samping kananku. Rupanya cuma kami berdua yang tak kebagian selimut. Nggak bener ini, batinku.

“Mas, di sini kok tidak ada selimutnya?”

Saya bertanya pada seorang kernet yang tadi menjanjikanku ketersediaan selimut. Petugas berkaos hitam itu tampak kebingungan. Ia celingak-celinguk, mencari-cari, siapa tahu selimut jatahku terselip di suatu tempat di bus ini.

Karena tidak ketemu –atau mungkin memang tidak ada, ia meminta kesediaan seorang penumpang wanita di kursi seberangku untuk meminjamkan selimutnya.

“Mbak, selimutnya kita pakai tidak?” tanya sang kernet.

Tradisi orang Sulsel, kata ganti kita biasanya digunakan sebagai “bahasa halus” pengganti kamu.

Wanita tersebut tidak bersedia. Kernet pun pergi ke bagian depan bus, seakan mencari-cari selimut alternatif. Saya mencoba berlapang dada tak kebagian selimut.

Sempat terlintas penyesalan naik bus ini. Tapi tawakal saja, bus pilihan Sabil, yang sudah berbaik hati mengantarku ke terminal, tentu tak sembarangan.

Sebelum berangkat, untuk memastikan bus ini sesuai dengan rute tujuanku, kusempatkan bertanya dua kali kepada penumpang di kanan-kiri.

Tabe’ (permisi), ini bus ke Lambara ya?”

Iye!”

Makasih ki!” sahutku.

Dalam dialog itu, bahasa serta aksen Kalimantan, Jakarta, dan Sulsel kucampur aduk.

Tak berapa lama, saat saya mengatur posisi di atas kursi, datang kernet lain. Pria berseragam ini menyodorkan tiket yang kutunggu dari tadi. Selain tiket, ia juga menyodorkan selembar uang Rp 50 ribu.

“Kelebihan tadi uangnya, dikasih Rp 200 ribu (bukan Rp 150 ribu),” ujarnya seakan menjawab kebingunganku.

Hah?

Kuputar ingatanku ke belakang. Tadi uang yang kuserahkan ke Sabil Rp 200 ribu. Tiketnya seharga Rp 140 ribu. Sebelumnya sudah dikembalikan Rp 10 ribu oleh kernet.

Berarti tadi Sabil lupa jumlah uang pembayarannya. Alhamdulillah banget. Tak kusangka kernetnya sejujur itu.

Makasih ki,” ujarku segera –masih berlagak bahasa Sulsel– kepada petugas bus begitu menerima uang kembalian darinya.

Saya senyum-senyum sendiri. Kalau sekiranya saat ini diriku sedang di terminal bus di Jakarta, entah uang lebih tersebut dikembalikan atau tidak. Allahu a’lam!

Kejutan Lain

Jam di ponsel Android-ku menunjukkan pukul 19.40 WITA. Garuda mulai bergeser dari terminal. Cerita kejujuran kernet tersebut segera kubagikan ke media sosial. Namun saya malah dipojokkan. Bukan soal kejujuran itu, tapi soal penempatan bahasaku saat beraksen Sulsel.

“Kok bilang ‘makasih ki’? Dalam kamus bahasa Makassar dan Bugis, tambahan kata ki, setelah kata terima kasih kayaknya kurang pas. Kata ‘makasih di’, lebih tepat. Artinya ‘makasih ya’,” terang seorang kawan.

Ada juga yang mengkritik dialogku sebelumnya dengan penumpang wanita. Kata kawan di facebook, dialog itu kalau ala orang Sulsel seharusnya begini:

“Mau ke mana ki?”

“Mau ke Lambara. Benar ji ini bisnya to?

Iye, benar ji.”

Makasih banyak di!”

Di awal-awal perjalanan menuju Lambara Harapan, sebuah kampung di Kecamatan Burau, Kabupaten Luwu Timur itu, hampir tak henti kutertawakan diri sendiri.

Bayangkan, gara-gara “di” dan “ki”, saya di-bully…. Beberapa hari di Makassar rupanya belum cukup bagiku untuk menguasai perbendaharaan bahasa setempat.

Keesokan harinya, Ahad (09/08/2015), sekitar pukul lima dinihari. Saya terbangun dari tidur. Bus masih melintas di Kecamatan Masamba, Kabupaten Luwu. Melalui BBM, Lukman memperkirakan saya tiba di Lambara sekitar pukul 6.30 pagi.

Sementara itu waktu Shubuh sudah masuk. Saya siap-siap bertayammum. Rupanya, tak lama kemudian, bus berhenti di depan Masjid Nurul Muttaqin Kurri-Kurri, Masamba.

“Yang mau shalat Shubuh, Shubuh,” kernet berkaos hitam berteriak kepada para penumpang. Sebagian orang turun.

Bus Garuda saat berhenti di depan Masjid Nurul Muttaqin Kurri-Kurri, Masamba. [Foto: Syakur]

Bus Garuda saat berhenti di depan Masjid Nurul Muttaqin Kurri-Kurri, Masamba. [Foto: Syakur]

Pemandangan ini menarik perhatianku. Barusan rasanya saya naik bus umum yang berhenti khusus untuk shalat Shubuh. Di masjid, kami; kernet dan sejumlah penumpang, pun shalat berjamaah. Usai itu perjalanan dilanjutkan.

Pukul 06.39 WITA, bus bernopol DD7842AY itu menurunkanku di depan toko Juwita, dekat plang nama Pesantren Hidayatullah, Lambara Harapan, Desa Laro. Lukman telah menungguku. Pesantren tempatnya itu berjarak sekitar 150 meter dari jalan raya.

Kuceritakan padanya soal bus yang berhenti di masjid. “Memang begitu di sini. Garuda itu yang punya Muslim. Tapi bus lain yang punya non-Muslim juga begitu. Kalau Shubuh berhenti di masjid,” terang Lukman.

Begitu kuceritakan kalau dalam perjalan semalam saya hanya makan roti tawar dan minuman ringan, dia keheranan. “Loh, emangnya Garuda nda’ singgah di tempat makan?”

Nggak tuh. Mungkin singgah pas saya tidur!” jawabanku membuat mahasiswa Universitas Islam Madinah yang lagi mudik itu heran. Sebelumnya dia sempat ngotot menyarankanku naik Bintang Timur.*

Rep: Muhammad Abdus Syakur

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !