Sabtu, 4 Desember 2021 / 28 Rabiul Akhir 1443 H

Kisah & Perjalanan

Prosesi Ajak Anak, Serasa Menikah Dua Kali

Sebelumnya, kaum Muslim hanyalah minoritas di kawasan ini.
Bagikan:

GEMERLAP bintang terhampar di langit Tengger, sekitar Gunung Bromo, Jawa Timur. Suasana bersih tanpa awan yang menutupi, seolah menjadi hadiah banyak orang pagi itu. Membuat seolah dekat dengan langit.

Hari itu, Ahad 14 Juni 2015, tak seperti biasanya. Di ketinggian sekitar ±2500 Mdpl ini, jalanan depan Pasar Agropolitan Senduro, Kabupaten Lumajang Jawa Timur tampak ramai dengan kerumunan warga di kanan-kirinya.

Rupanya masyarakat sedang antusias melihat arakan kirab pengantin yang sedang diiringi oleh kesenian Jaran Kecak, kesenian asli daerah Lumajang.

Tidak tanggung-tanggung acara ‘pernikahan’100 pasang pengantin menutupi setengah badan jalan menuju lapangan Pasar Agropolitan, membuat lalu-lintas sedikit tersendat.

Di tengah lapangan, berdiri tenda berwarna hijau oren khas logo Baitul Maal Hidayatullah (BMH). Tamu undangan yang telah menunggu semenjak pagi, bangkit dari duduknya menyambut kehadiran para pengantin.

Setibanya dari kirab, 100 pasang pengantin duduk menempati kursi ‘bersarung’ kain putih dan pita merah muda yang telah disediakan.

Tepat pukul 10.00 WIB ini, prosesi itsbat ‘Nikah Berkah 100 pasang Muallaf Tengger’ pun dimulai. [Baca: Nikah Berkah 100 Pasangan Muslim Suku Tengger]

“Didasari oleh permintaan mereka (warga Muslim tengger, red) kepada kami, sebagaimana pernah dilaksanakan 2009 silam. Dan Alhamdulillah berkat support penuh dari BMH, acara ini bisa kembali terselenggara,” demikian ujar Ustad Mujtahid Ja’far, ketua pelaksana acara memberikan sambutannya.

Turut hadir perwakilan dari Pemprov Jatim, Bupati Lumajang yang diwakili oleh Sekda, Kemenag dan Pengadilan Agama Kabupaten Lumajang, Kapolres Lumajang, perwakilan BMH Pusat serta tamu undangan lainnya.

Prosesi acara berlangsung sangat hidmat. Edi, seorang peserta nikah berkah dari Desa Rawapani, salah satu dari 7 desa yang warganya ikut pernikahan berkah ini mengatakan, senang meski acaranya berlangsung dengan kirap pengantin.

“Seru kok mas, saya senang-senang saja walaupun panas, tadi jalannya pelan-pelan, kayak dijemur kita di jalan mas,” ujar nya sambil tertawa.

Edi yang kini sudah berusia 45 tahun, ikut acara menikah berkah dengan membawa anaknya.
“Ini ana saya mas, “ menunjuk seorang anak berusia 6 tahun di sampingnya.

mam Suryadi M.Si, Sekda yang mewakili Bupati Lumajang yang berhalangan hadir, mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh BMH dan Ormas Hidayatullah

Imam Suryadi, Sekda yang mewakili Bupati Lumajang mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh Hidayatullah

Sekeder tahu, sebagian peserta nikah berkah kali ini banyak yang berusia lanjut dan rata-rata telah mempunyai anak. Penelusuran hidayatullah.com, bahkan terdapat peserta yang usianya telah mencapai 68 tahun. Sementara peserta paling muda usianya 25 tahun.

“Seperti nikah dua kali mas,” kata Dul Jawi terkekeh. Dul Jawi, kini telah berusia 68 tahun.

Diberkahi Allah

Abdul Rahim, salah seorang staf Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Senduro sangat bersyukur dengan adanya Nikah Berkah ini. Pasalnya memang banyak keluarga di wilayah Senduro, khususnya Suku Tengger yang status pernikahannya belum sah secara administrasi.

“Kebanyakan warga Senduro, terutama yang berada di desa Margasari dan Rawapani termasuk daerah pelosok. Sehingga waktu dulu menikah mereka tidak mempunyai catatan dan buku nikah resmi,” jelasny kepada hidayatullah.com.

“Dulu itu rata-rata orang Tengger nikahnya siri mas, nikah lewat ustadz atau kiai saja,” tambah Rahim.

Yang tak kalah menarik, sebagian besar para peserta nikah berkah adalah para muallaf yang dulunya menganut kepercayaan animisme.

“Pesertanya Muslim semua mas, sebagian besar dulunya bukan pemeluk Islam,” lanjut Rahim.
Peserta yang muallaf sebagian besar berasal dari desa Argosari dan Rawapani.

“Kalau di Agrosari yang di atas sana, memang masih banyak Hindu-nya mas,” jelas pria Rahim lagi.

Menurut Yunus, seorang da’i Hidayatullah yang telah 5 tahun berdakwah di Suku Tengger, khususnya di Desa Argosari mengatakan, wilayah sekitar Gunung Semeru dan Gunung Bromo yang disebut Suku Tengger ini dihuni oleh mayoritas masyarakat Hindu.

Sebelumnya, kaum Muslim hanyalah minoritas di kawasan ini. Seiring kedatangan para dai-dai mengambil bagian dakwah, termasuk dirinya, rupanya membawa Tengger menjadi tanah yang diberkahi Allah Subhanallah dengan kehadiran Islam.

“Alhamdulillah, secara pelan, banyak warga Suku Tengger telah memeluk Islam,” ujar Yunus.*/Yahya G. Nasrullah

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Berkunjung Ke Pesantren Hidayatuallah  di Bumi Sebatik

Berkunjung Ke Pesantren Hidayatuallah di Bumi Sebatik

Muslim Kuba Menggeliat [2]

Muslim Kuba Menggeliat [2]

Merajut Mimpi di Kota Nabi

Merajut Mimpi di Kota Nabi

“Sarjana Pertanian” Itu Dikucilkan Warga Desa Karena Memilih Islam

“Sarjana Pertanian” Itu Dikucilkan Warga Desa Karena Memilih Islam

‘Pernikahan 212 Nan Bersejarah’

‘Pernikahan 212 Nan Bersejarah’

Baca Juga

Berita Lainnya