Rabu, 27 Oktober 2021 / 20 Rabiul Awwal 1443 H

Kisah & Perjalanan

Napak Tilas Pejuangan Jihad Pangeran Diponegoro [2]

Bagikan:

Sambungan artikel PERTAMA

Kemben dan Baju Takwa

Napak Tilas perjalanan jihad Pangeran Diponegoro menguak kisah hubungan Pangeran Diponegoro, Keraton Jogjakarta dan Islam.

Salah satunya adalah kisa baju kemben (busana penutup dada wanita) yang banyak diklaim sebagai baju resmi abdi dalem Keraton Jogjakarta.

Pada masa itu raja-raja Bali terbiasa memberikan ‘hadiah wanita’ kepada raja-raja Jawa, berupa para budak-budak. Karena para wanita  Bali kala itu tak menggunakan penutup dada, maka di Jogja mereka diberi penutup dada berupa kemben seperti sekarang.

“Jadi, tradisi pakaian kemben merupakan tradisi kaum budak. Kalau pakaian wanita Keraton Jogjakarta yang asli sebagaimana ibu-ibu muslimat NU, auratnya ditutup, “ ujar Salim A Fillah.

Selain kemben, Napak Tilas ini juga menguak kisah ‘Baju Takwa’, baju resmi  Keraton Yogjakarta yang bermakna filosofis Islam dan kaya dengan nilai-nilai islami.

Kala itu, ketika bertakhta di Mataram 1613-1645, Sultan Agung memilih pakaian kerajaan. Dalam Perjanjian Palihan Nagari 1755, Sultan Hamengkubuwana I menetapkan ‘busana takwa’ sebagai busana resmi Keraton Yogyakarta dengan memiliki beberapa unsur.

Pertama, Keris yang dikenakan di belakang.

Penempatan keris di belakang dalam bahasa Jawa disebut Curiga (waspada) atau Dhuwung (sadar/hati-hati). Inilah makna takwa mengadaptasi obrolan antara Umar Bin Khatab dan Ubay Ibn Ka’ab.

Kedua, kain bawahan dikenakan sebagai bebet. Maknanya, perut dan bawah perut adalah markas syahwat yang harus dibebeti, dibebat (dikendalikan agar tak liar). Kain ini diwiru bagian ujungnya, yakni agar terjaga sifat wara’/wira’i.

Ini diambil dari Al-Quran, “Adapun orang yang takut pada keagungan Rabbnya & mencegah diri dari hawa nafsu, surgalah tempat tinggalnya.” (QS: An Naazi’aat 40-41).

Ketiga, pasangan ikat pinggangnya disebut Kamus & Timang. Filosofinta, takwa harus diikat dengan ilmu yang wajib dituntut dari timangan, buaian hingga liang lahat.

Keempat, pakaian atasan disebut surjan. Filosofinya, ketakwaan harus bersinar memancar sebagai “siraajan muniiraa” (mencahayai siang dan malam, memandu diri dan orang di sekitarnya). Sedang motif khasnya adalah lurik (garis-garis selang-seling berwarna) yang menuntut untuk lurus dalam hati, lurus dalam kata dan lurus dalam tindakan.

Kelima, blangkon.  Dimana dalam gagrak Yogyakarta, ada mondholan (benjolan, red) di belakang. Mondholan berasal dari Bahasa Arab ‘minzhalah’, mizalatun (payung). Artinya,  penggunanya harus menjadi pengayom bagi masyarakat.

Inilah di antara makna takwa dalam busana Kasultanan Yogyakarta sesuai keputusan Hamangkubuwono ke I.

Belajar Agama Islam

Sebagaimana diketahui, Perang Diponegoro dikenal merupakan perang besar dan heroik. Melibatkan hampir puluhan kota dan desa di tanah Jawa, khususnya Jawa Tengan dan Jawa Timur. Sejak menyatakan perang terbuka dengan penjajah, Pangeran Diponegoro tidak lagi tinggal di Tegalrejo tapi di sebuah gua, bernama Gua Selarong.

Kami berkesempatan mengunjungi Gua Selarong. Gua ini ada dua, satu gua tempat Pangeran Diponegoro dan kedua adalah Gua Putri, khusus para putri-putri dan keluarga Pangeran Diponegoro.

SalimAFillah_NapakTilas2

Goa tersebut tidak terlalu besar dan dalam. Hanya cukup untuk berteduh saja. Di gua terdapat tempat istirahat Diponegoro. Di depannya ada batu berbentuk persegi yang dulu dijadikan tempat duduk Diponegoro dalam mengatur pasukannya. Saya sempat memegang batu dan duduk di tempat istirahat di gua tersebut. Masya Allah, terasa nuansa perjuangannya.

Di sebelah Barat gua terdapat air terjun (curug) yang digunakan untuk mandi dan wudhu para tentara Pangeran Diponegoro. Curug (air terjun) awalnya berasal dari satu sungai, lalu dialirkan menjadi dua air terjun yang lokasinya berbeda agar tempat wudhu pria dan wanita terpisah.

Lokasi goa cukup strategis sebagai markas pasukan. Dikelilingi bukit-bukit dan untuk mencapai ke gua, harus menaiki tangga-tangga. Kabarnya, gua ini beberapa kali diserang Belanda, namun tidak pernah berhasil. Belanda hanya mampu sampai di bawah bukit. Karena banyak pasukan Belanda tewas oleh Laskar Diponegoro.

Setelah perang usai, para tentara, kiai dan pengikut Pengeran Diponegoro menyebar ke berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mereka tetap teguh memegang ajaran Islam.

Hari ini, tepat di bawah Gua Selarong, dipasang patung Pangeran Diponegoro sedang menunggang kuda. Patung, menunjukkan Pangeran Diponegoro menggunakan baju kebesaran jubah putih, khas ulama Timur Tengah.

Napak Tilas ini hanya mengungkap secuil kisah sebenarnya rahasia hubungan antara Pangeran Diponegoro, Keraton Jogjakarta dengan Islam,  yang hari ini justru banyak diputar-balikkan dan selalu dikaitkan dengan kelenik dan kesyirikan. Semoga dengan Napak Tilas ini, umat Islam bisa melanjutkan perjuangan jihad dan dakwah Pengeran Diponegoro.*/A Kholili Hasib

 

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Asmara, Pintu Masuk Muallaf Subulussalam

Asmara, Pintu Masuk Muallaf Subulussalam

Di Dubai Turis Mahasiswa Belajar Bahasa Arab

Di Dubai Turis Mahasiswa Belajar Bahasa Arab

Belajar pada Sariban

Belajar pada Sariban

“Sarjana Pertanian” Itu Dikucilkan Warga Desa Karena Memilih Islam

“Sarjana Pertanian” Itu Dikucilkan Warga Desa Karena Memilih Islam

Diburu Mantan Syiah, Lalui Pengalaman Manis

Diburu Mantan Syiah, Lalui Pengalaman Manis

Baca Juga

Berita Lainnya