Jum'at, 26 Maret 2021 / 13 Sya'ban 1442 H

Kisah & Perjalanan

Wujudkan Kemandirian Santri dengan “Jihad Pangan”

Bagikan:

UCAPAN hamdalah berkali-kali meluncur dari bibir Ahmad Syakir.  Setidaknya, hal itu ia sampaikan menandai kelancaran usaha amal yang telah dijalani di pinggiran sebuah kota kecil di Kabupaten Aceh Barat.

“Alhamdulillah, yang pantas terucap oleh setiap insan yang Allah Subhanahu Wata’ala telah karuniakan kepadanya begitu banyak nikmat,” demikian ujarnya.

Tentu hal ini bisa dimaklumi. Upayanya merintis  Rumah Tanfidz Yatim Mandiri, dirintis dua tahun silam, kini sudah mulai ada hasil.

Dengan memiliki lokasinya yang cukup representatif serta pembangunan sarana pendidikan, dakwah serta layanan sosial yang cukup memadai, ia berhadap langkah dakwahnya bisa berjalan di masa depan.

Sebelumnya, bersama pihak pengelola pondok pesantren yang lain, berharap bisa membangun berbagai infrastruktur keumatan sembari mempersiapkan unit usaha. Salah satunya adalah mencanangkan program Integrated Farming (pembangunan pertanian terpadu) dengan sekala kecil.

“Alhamdulillah yang sudah berjalan program pertanian dan ternak,  beberapa santri saat ini tengah disibukan di waktu luangnya untuk memanen hasil pertanian dari sawah pesantren yang luas total pemanfaatannya baru 5500 meter persegi,” ungkap Ahmad Syakir.

Menurut Syakir, untuk menunjang kelangsungan pendidikan dan dakwah, para santri langsung dilibatkan menangani pertanian. Pembuatan lahan sawah, penanaman, pemupukan, semua itu dikerjakan oleh para santri.

“Mereka diajarkan bagaimana mempunyai sikap mental mandiri dan percaya diri, karena turun kesawah kemudian bermandi dalam kubangan lumpur jarang kita dapati seusia mereka yang mau seperti itu,” imbuh Syakir yang merupakan salah satu dai penerima manfaat motor Dai Tangguh Baitul Maal Hidayatullah (BMH).

“Jikalau Menteri Pertanian mencanangkan Pemuda Tani Indonesia, ajakan kepada para alumni sarjana pertanian untuk turun kesawah, kita sudah memulainya dengan gerakan Mujahid Pangan,” ucapnya bersemangat.

Dengan kemandirian pangan, ia berharap Pesantren Tahfidzul Qur’an di Dusun Cot Kande, Desa Gampong Lapang, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, Nanggroe Aceh Darussalam yang dikelolanya berjalan baik, dimudahkan Allah Subhanahu Wata’ala dan melahirkan generasi-generai terbaik umat.*/Hermanto

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Kisah Dua Mahasiswa Indonesia yang Menikah di Masjidil Haram

Kisah Dua Mahasiswa Indonesia yang Menikah di Masjidil Haram

Irit Ongkos dengan “Berantem”, Demi Sabun Cuci Teman Digilir

Irit Ongkos dengan “Berantem”, Demi Sabun Cuci Teman Digilir

Tak Semata Umar Guli yang Dibuat Galau Kemenkominfo

Tak Semata Umar Guli yang Dibuat Galau Kemenkominfo

Surat dari Madaya: “Kenapa Tidak Ada Seorang pun yang Peduli?” [1]

Surat dari Madaya: “Kenapa Tidak Ada Seorang pun yang Peduli?” [1]

Sampai Kapan Jeritan Nurjan Didengar Orang?

Sampai Kapan Jeritan Nurjan Didengar Orang?

Baca Juga

Berita Lainnya