Jum'at, 12 Februari 2021 / 29 Jumadil Akhir 1442 H

Kisah & Perjalanan

Jalan Setapak Itu Kini Telah Jadi Sungai

RoL
Banjir di Jakarta 2015
Bagikan:

PAGI itu, Senin (09/02/2015), curah hujan mulai mengetuk atap rumah kontrakan kami. Hujan turun sudah sejak dini hari. Semakin lama titik air yang jatuh dari langit itu kian menderas saja, membuat asa kami mulai berbaur cemas.

Jarum jam di kamar menunjuk angka sembilan. Pertanda lima belas menit lagi perkuliahan dimulai, tepat pukul 07.00 WIB. Berharap semoga curah hujan segera mereda sesekali rasa cemas banjir menjadi penghalang niat menuntut ilmu di kampus Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Bahasa Arab (LIPIA) Jalan Buncit Raya, Jakarta Selatan.

Qadarullah, hujan rupanya kian deras dan terus mengguyur Kota Jakarta. Ada niatan kuat untuk merasakan nikmat berangkat menuntut ilmu meski dihadang banjir.

Bismillah! Pagi itu kami berenam bertekad menerabas banjir. Memaksa diri keluar dari godaan malas yang perlahan mulai merayap di bilik-bilik kami.

Dengan kondisi hujan lebat di luar, ada selarik rasa yang menggelitik agar menarik selimut saja kembali. Dengan banjir yang meruah di luar, ada sebaris alasan untuk permakluman mangkir kuliah. Belum lagi jika ingat durasi tempuh berjalan kaki dari rumah kontrakan, tak kurang butuh seperempat jam untuk tiba di kampus.

Menghadapi hujan yang kian deras, kami hanya berbekal ransel berisi pakaian ganti dibungkus kantong plastik bersama buku-buku pelajaran. Tak lupa sepasang kaos kaki cadangan serta jaket almamater sebagai penghangat badan.

Namun ketika tiba di mulut gang, tantangan telah menanti. Jalan yang kemarin masih setapak kini sudah menjelma menjadi sungai kecil, tak lagi terlihat rerumputan ilalang di sana, apatah lagi jalan berlubang.

Hari itu Jakarta larut dalam guyuran hujan lebat. Tak ayal, seperti biasa curah air melimpah dan menyebabkan sebagian wilayah digenangi air. Beberapa ruas jalan bahkan tak mampu dilintasi oleh kendaraan.Jika biasanya macet menjadi pemandangan biasa, kini harus ditambah dengan banjir.

“Sudah kepalang, sayang jika harus menyerah di awal perang,” demikian seloroh sahabat kami, sebut saja Anisah.

Alhasil kaki-kaki kami semua terus melenggang menjejak genangan air yang mulai naik selutut orang dewasa.

Tiba di halaman kampus, tak henti kami merapal “mantra” yang sejak tadi kami baca. Berharap semoga dosen dan kawan juga mengalami hal yang sama. Sehingga tak ada hukuman rombongan kami yang telat masuk kelas.

Takdir tak bisa diraih, malang tak bisa ditolak, ternyata beberapa kelas terlihat melompong. Bahkan tak ada satu dosenpun yang datang mengajar. Beberapa kursi milik mahasiswa hanya tergeletak dingin kosong dari pemiliknya.

Usut punya usut, ternyata beberapa rumah dosen juga terkena musibah sama. Sama-sama terjebak banjir dan sama-sama sulit datang ke kampus.

Hujan terus mengguyur lebat sebagian besar wilayah Jakarta hingga sore hari. Selama itu pula kami hanya bisa mendekam di kampus dan larut dalam perpustakaan. Melahap beberapa buku pelajaran atau murajaah sejumlah hafalan yang harus disetor nantinya.

Sebagian kami juga terlihat asyik diskusi dengan beberapa kawan yang lain. Hal itu berlangsung hingga Shalat Ashar. Setelahnya kami lalu sepakat pulang ke rumah. Mumpung curah hujan terlihat bersisa gerimis saja.

Usai menyusur jalan raya yang bergenang, kini adrenalin kami kembali diuji dengan tantangan selanjutnya. Menyeberangi gang setapak yang menghubungkan antara jalan raya dan rumah kontrakan kami yang terletak di kelokan akhir di ujung jalan.

Jika pada pagi hair air masih sebatas lutut, kini benar-benar ia menjelma menjadi samudera. Air sudah naik hingga sepinggul orang dewasa.

Shock! Tapi apa boleh buat. Ia masih bagian dari perjalanan menuntut ilmu. Demikian batin kami terus memberi dukungan.
Dengan tangan kiri menjunjung ransel di atas kepala dan tangan kanan tetap mengapit payung , kami semua menerabas banjir dan harus berenang dalam air keruh agar bisa kembali ke kontrakan mungil kami.

Tentunya kami tak pernah menyesali kenekatan kami datang ke kampus tadi pagi. Apalagi hanya gara-gara beberapa dosen pun tak juga muncul atau datang mengajar.

Meski kami harus menebus dan melintasi “samudera dadakan” ini, setidaknya sebagai bukti bagaimana menjadi penuntut ilmu sejati.*/Roidatun Nahdhah (mahasiswi LIPIA Jakarta)

 

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Kisah Orang-Orang Spanyol yang Lebih Memilih Islam  [1]

Kisah Orang-Orang Spanyol yang Lebih Memilih Islam [1]

Membelah Benua Biru, Menuju “The Dome of The World”

Membelah Benua Biru, Menuju “The Dome of The World”

Mengenang Ramadhan Ceria Muslim Canberra

Mengenang Ramadhan Ceria Muslim Canberra

Ke Makam Jepang Dikejar Brazil

Ke Makam Jepang Dikejar Brazil

Ada Restu Amerika dalam Pembantaian Sabra Shatila

Ada Restu Amerika dalam Pembantaian Sabra Shatila

Baca Juga

Berita Lainnya