Sabtu, 27 Maret 2021 / 13 Sya'ban 1442 H

Kisah & Perjalanan

Berharap Jadi Teladan di Sekolah Pemimpin

Bagikan:

Hidayatullah.com–Apakah benar murid-murid menikmati pengajaran yang guru sampaikan di kelas?

Pertanyaan tersebut mengemuka dalam diskusi rutin yang digelar Aula Sekolah Pemimpin, Balikpapan belum lama ini.

Diskusi yang diadakan saban Sabtu itu menghadirkan Muzakkir Usman, Wakil Direktur Sekolah Integral (SIT) Lukmanul Hakim, Balikpapan.

“Sebagai evaluasi pembelajaran, maka setiap guru layak menghadirkan soalan tersebut di atas,” ujar Muzakkir sengaja memancing.

Menurut Muzakkir, substansi pendidikan adalah sebuah proses yang harus dijalani oleh seorang guru dan murid. Untuk itu seorang guru dituntut berperan dalam menjaga kelangsungan dan keseimbangan proses tersebut.

“Jangan sampai guru asyik mengajar, ternyata sang murid malah bosan diajar,” ungkap Muzakkir mengingatkan.

Olehnya, fungsi strategi active learning, menurut Muzakkir adalah memastikan proses pengajaran itu berlangsung dengan baik. Tak hanya guru yang asyik mengajar sedang muridnya justru  untuk dengan apa yang disampaikan.

Di hadapan peserta diskusi, Muzakkir lalu mengungkap perkataan Konfosius, yaitu: ‘Yang saya dengar, saya lupa, yang saya lihat, saya ingat, dan yang saya kerjakan, saya pahami.’

Lebih jauh Muzakkir menyebut adanya hasil penelitian bahwa seorang pelajar itu ternyata hanya mampu memperhatikan 40% pada materi berbentuk ceramah. Sedang pelajar hanya mampu mengingat 70% yang disampaikan pada 10 menit pertama.

“Lalu apa yang siswa dapatkan dari sisa waktu tersebut?” ucap lulusan Magister Pendidikan Kurikulum, Universitas Teknologi Malaysia (UTM) tersebut.

Di antara hal yang patut diperhatikan lainnya adalah penampilan dan komunikasi seorang guru. Everything speaks, demikian pepatah itu mengajarkan.

Bahwa apa yang dikerjalan guru,  sikapnya dan cara mengajarnya, semua menjadi bahasa yang dipahami oleh murid terhadap gurunya. Namun di atas itu semua adalah keteladanan seorang guru kepada muridnya.

“Apalah arti segala teori dan mujahadah  tanpa adanya keteladanan yang nyata di depan murid,” terang Muzakkir mengingatkan.

Seiring waktu, Sekolah Pemimpin yang bertaraf Madrasah Tsanawiyah (M.Ts) ini terus berbenah. Selain peningkatan kualitas dan kekaderan siswa yang terus digenjot.

Sekolah Pemimpin juga berupaya meningkatkan kualitas tenaga pengajar.

“Diskusi rutin pekanan ini adalah bagian dari pengembangan mutu guru Sekolah Pemimpin,” terang Arfan, Kepala Sekolah Pemimpin.

Menurut Arfan, selain sebagai media informasi dan silaturahim internal, wahana diskusi ilmiah tersebut juga menghadirkan beberapa pakar pendidikan dan sesepuh Pesantren  Hidayatullah Balikpapan.

“Kami ingin setiap guru benar-benar menyadari sejarah mengapa Sekolah Pemimpin itu didirikan oleh Hidayatullah,” imbuh Arfan.*/Masykur Abu Jaulah

 

 

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Ke Makam Jepang Dikejar Brazil

Ke Makam Jepang Dikejar Brazil

Kisah Dua Mahasiswa Indonesia yang Menikah di Masjidil Haram

Kisah Dua Mahasiswa Indonesia yang Menikah di Masjidil Haram

Aleppo, Kota Warisan Dunia Berhiaskan Lubang Peluru

Aleppo, Kota Warisan Dunia Berhiaskan Lubang Peluru

Habiskan Waktu 36 Tahun untuk Dapatkan Saluran Air dan Kemakmuran Warga

Habiskan Waktu 36 Tahun untuk Dapatkan Saluran Air dan Kemakmuran Warga

“Belajar Berbagi dari Pengungsi NTB”

“Belajar Berbagi dari Pengungsi NTB”

Baca Juga

Berita Lainnya