Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Kisah & Perjalanan

Kisah Dai Balikpapan Mengusir “Dai” dari Perusahaan Asing

Muhammad Abdus Syakur/Hidayatullah.com
Salah satu sudut Kota Balikpapan.
Bagikan:

PAGI menjelang siang di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim). Seorang dai sedang berkutat dengan laptopnya di sebuah rumah. Sedang asyik-asyiknya berselancar di dunia maya, tiba-tiba telepon selulernya berdering. “Ustadz, ini Pak NI sudah naik…,” ujar suara di seberang.

Muflih Safitra, dai tersebut, baru saja dihubungi seorang pengurus dakwah sebuah perusahaan di sekitar Kota Minyak. Pengurus tersebut meminta saran mengenai seorang dai lainnya di perusahaan yang nama dan lokasinya dirahasiakan itu.

“Ana (saya) punya jadwal dakwah di lingkungan sebuah perusahaan migas asing yang beroperasi di Kaltim. Di tempat yang sama, berdakwah pula seorang dai lama dari Balikpapan berinisial NI, yang sudah terbuka ‘bulu domba’-nya,” tutur Muflih.

Ada apa dengan NI? Rupanya, ungkap Muflih, orang itu adalah aktivis Syiah berkedok pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat. Kamis pagi itu, 11 Desember lalu, merupakan jadwal NI mengisi kegiatan dakwah di perusahaan.

Sedianya NI akan bertugas dari Kamis hingga Sabtu (13/12/2014). Begitu ia diketahui sebagai seorang penganut Syiah, para pengurus dakwah perusahaan bertekad menghentikan.

Akan tetapi, gerakan mereka tampaknya kurang cepat. Kamis itu sekitar pukul 11.00 Waktu Indonesia Tengah (WITA), NI sudah dalam perjalanan menuju perusahaan.

“Pak NI sudah naik di atas bus perusahaan. Mohon saran supaya kami bisa batalkan dia (agar) ndak ngisi di sini,” lapor sang pengurus melalui telepon seperti dituturkan Ustadz Muflih kepada hidayatullah.com, Ahad (25/01/2015).

Setelah berembug, Muflih dan pengurus tersebut mencapai kesepakatan. Sebagaimana, kata dia, prinsip yang harusnya dipegang kaum Muslimin. Yaitu tak akan memberi kesempatan NI.

“Qaddarallah, NI ini sudah terlanjur ikut bus perusahaan menuju site (lokasi pengeboran) perusahaan, dan tidak mungkin disuruh turun di tengah jalan. Kita orang Islam tetap harus adil dalam bersikap walau tidak sependapat,” tutur Muflih.

NI diagendakan mengisi ceramah pada malam hari. Karena ia kadung bergerak menuju perusahaan, dirancanglah berbagai strategi untuk memotong dakwahnya dengan cara halus.

Muflih mengungkap, ada beberapa langkah yang mereka siapkan. Yaitu, pengurus tidak membuat pengumuman adanya kajian malam. Biasanya pengumuman itu digantung di pintu masjid.

“Tujuannya agar kajian tidak dihadiri karyawan yang masih awam, khawatir mereka termakan syubhat. Selain itu, kalau kajian sepi maka akan cepat berakhir. Dan pada kesempatan selanjutnya, si dai ndak akan capek-capek ke luar kota (Balikpapan) kalau hanya dihadiri orang yang bisa dihitung jari. Kecuali ada tujuan lain seperti ‘amplop’,” Mufli memaparkan langkah pertama.

Lantas mereka menunjuk salah seorang pengurus yang akan jadi juru bicara. Jubir ini berfungsi jika ada hal-hal yang membutuhkan bantahan, penjelasan, atau semua bentuk penyampaian lisan dalam taklim yang akan diisi NI.

Mereka pun menyiapkan langkah berikutnya. Mufli menuturkan, NI tidak akan dibantah di tengah ceramahnya. Sebab akan membuat dia berkesempatan menjawab dan menjelaskan tentang pikirannya.

Syubuhat yang akan ditebarnya akan semakin banyak. Jadi bantah di penghujung kajian dengan kalimat yang ringkas. Cukup katakan, ‘Sebenarnya kami yakin ajaran Syiah itu sesat dan kami tidak ingin berbantah-bantahan dalam masalah ini. Jadi kita cukupkan saja dan waktunya sudah habis.’,” jelasnya sekaligus memberi arahan ke pengurus.

“Jika terpaksa meng memotong di tengah ‘jalan’, maka potong dengan kata-kata yang baik,” lanjutnya menyebut langkah keempat.

aGayung bersambut. Strategi itu mendapat dukungan ketua pengurus dakwah perusahaan yang pas sedang tidak berdinas. Atas kesepakatan mereka, Sang Ketua pun bersedia namanya digunakan sebagai penanggung jawab penghentian taklim NI. Bukan kebetulan jika ia tidak suka dengan NI karena kerap meminta tambahan uang transpor.

“Padahal semua dai yang datang difasilitasi dengan bus perusahaan, makan (di) restoran fast food selama perjalanan, penginapan, dan layanan yang sangat cukup selama di lokasi perusahaan, serta mukafa’ah (uang, red) yang sangat cukup. Sehingga tidak layak meminta tambahan. Apalagi (dakwah) ini ibadah, yang tidak dibenarkan seorang dai –apalagi– tanpa malu meminta tambahan layaknya ‘lemburan karyawan’ atau konser artis,” ungkap Muflih yang juga rutin mengisi taklim di perusahaan tersebut, seperti pada Senin-Rabu (8-10/12/2014).

Akhirnya, Kamis malam itu, berlangsunglah kajian agama yang dibawakan NI. Pesertanya hanya sekitar 12 orang. Hadirin itu pun, tutur Muflih, rata-rata ikhwan yang sudah mengaji atau paham soal seluk-beluk Syiah. Mereka hadir hanya untuk menghormati tamu.

Singkat kisah, NI memulai kajiannya dengan memperkenalkan diri sebagai Ketua MUI sebuah kecamatan di Balikpapan. Selanjutnya, pada kajian yang aslinya bertema “Cinta Rasul” itu, tutur Muflih,yang dinilainya lebih banyak diisi syubhat Syiah.

Begitu kajian ‘Ustadz’ NI berakhir, ia langsung didatangi pengurus dakwah. Sesuai rencana semula, pengurus meminta NI untuk tidak melanjutkan lagi kegiatan dakwahnya, termasuk taklim maupun khutbah pada hari-hari berikutnya.

“Amplop (berisi uang pembayaran) langsung diserahkan (ke NI) tanpa dikurangin. NI pun akhirnya dipulangkan tanpa kesempatan ngisi sampai Sabtu lagi. Pengurus pun sepakat untuk tidak memberikannya jadwal lagi di (tahun) 2015,” pungkasnya yang pada Kamis dan Sabtu pagi itu berkoordinasi dengan pengurus dakwah perusahaan via telepon.

Ungkap Inisial

Muflih mengungkap, selama ini ia memang sudah tahu sepak terjang NI. Olehnya, satu hal yang ia syukuri adalah sikap pihak perusahaan migas tersebut atas NI.

Sementara itu, menurut pengurus seperti dikatakan Muflih, NI bisa masuk ke perusahaan karena mereka awalnya tidak tahu kedok sang dai tersebut.

“Kita memang pernah menjadwalkan dia di sini sebelum kami tahu dia jadi  ajaran yang dinyatakan sesat MUI,” terang pihak perusahaan.

Sebagian kisah tersebut juga ditulis di akun Facebook-nya atas nama Muflih Safitra pada 16 Desember lalu. Ia mengaku, sengaja mempublikasikan untuk menginspirasi umat Islam di Indonesia agar tegas menolak ajaran ini.

“Jangan beri mereka kesempatan ceramah di masjid Anda, karena mereka bisa menebar syubhat dalam sekejap di benak orang awam. Kalau ada orang jadi pengikutnya karena kita yang menyediakan lahan mereka berdakwah, maka kita akan ikut bertanggung jawab sampai akhirat,” seru dai yang berdakwah secara mandiri ini mengingatkan.

Muflih juga membeberkan inisial sejumlah dai lokal yang ditengarai pro aliran ini.

“Khusus kaum Muslimin di (Kota Beriman) Balikpapan, dai-dai seperti NI, AS, D, MI, dll yang berbau Syiah harus sudah kita batalkan secepatnya. Jadikan momen ganti tahun sebagai alasan untuk tidak memberikan mereka jadwal ceramah di masjid-masjid kita,” serunya.*

Rep: Muhammad Abdus Syakur
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Mereka Menunggu Dai yang ‘Membumi’

Mereka Menunggu Dai yang ‘Membumi’

Jepang: Antara PRT, Sampah dan Defenisi Maju

Jepang: Antara PRT, Sampah dan Defenisi Maju

“Semoga Seujung Kuku ini Jadi Saksi untuk Palestina”

“Semoga Seujung Kuku ini Jadi Saksi untuk Palestina”

Kembali dengan Selamat, Abdillah Onim Berniat Dirikan Tahfidz Qur’an di Gaza

Kembali dengan Selamat, Abdillah Onim Berniat Dirikan Tahfidz Qur’an di Gaza

“Kejahatan Rezim China atas Uighur Melebihi Kekejaman Yahudi”

“Kejahatan Rezim China atas Uighur Melebihi Kekejaman Yahudi”

Baca Juga

Berita Lainnya