Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Kisah & Perjalanan

Sekulerisme Wariskan Problem Besar Muslim Turki

Peserta Mukmatar International Islamic Federation of Student Organization (IIFSO)
Bagikan:

TANGGAL 31 Mei sampai 1 Juni 2014 lalu  saya diundang menghadiri Mukmatar International Islamic Federation of Student Organization (IIFSO) atas nama Pemuda Persatuan Islam yang belum lama bergabung di organisasi yang didirikan oleh para aktivis Islam di Aachen Jerman tahun 1969.

Muktamar diselenggarakan empat tahun sekali. Sebelumnya, tahun 2010 muktamar pernah diadakan di Jakarta. Kali ini diselenggarakan di Istanbul Turki.

Tahun 2010 terpilih Dr. Ahmad Abudl ‘Athi dari Mesir sebagai Sekjen. Hanya saja, karena ia dianggap dekat dengan mantan presiden yang dikudeta, Dr Mohammad Mursy, Abudl ‘Athi akhirnya ditangkap dan dipenjarakan oleh rezim As-Sisi. Oleh sebab itu, pada Muktamar berjalan tanpa kehadirannya.

Selain menghadiri Muktamar, penulis juga berkesempatan menelusuri sudut-sudut kota Istanbul dengan warisan sejarahnya yang sangat menginspirasi. Berikut beberapa hal yang Insya Allah bisa bermanfaat untuk para pembaca.

Tantangan Peradaban Islam

Muktamar diselenggarakan selama dua hari. Selain agenda laporan pertanggungjawaban pengurus selama empat tahun yang lalu, juga diagendakan pemilihan Sekretaris Jendral baru dan anggota Majlis Syuro.

Dalam pemilihan yang berlangsung cukup tertib, terpilih Dr. Khallad Suwaid dari Suriah sebagai Sekjen baru IIFSO untuk empat tahun ke depan. Sebelumnya ia pernah menjabat sebagai Wakil Sekjen.

Para pemilih adalah perwakilan dari organisasi-organisasi yang bergabung di IIFSO. Hadir dalam pemilihan ini sekitar 36 negara dari seluruh dunia. Bahkan, hadir pula perwakilan dari Italia, Inggris, dan Jerman.

Sekjen terpilih sendiri walaupun berkebangsaan Suriah, tinggal di Jerman. Sementara Majlis Syuro yang wajib mengadakan permusyawarahan setahun sekali dipilih sebanyak 11 orang mewakili regional tertentu. Indonesia dalam Muktamar IIFSO kali ini terpilih mewakili Asia Tenggara sebagai anggota Majelis Syuro.

Selain agenda permusyawarahan juga diselenggarakan diskusi tentang berbagai tantangan yang tengah dihadapi umat Islam di seluruh belahan dunia. Para pembicara pun sengaja diundang dari berbagai negara untuk berbagai tentang tantangan di negara masing-masing. Hadir di antaranya Ketua Partai Saadat Turki Dr. Mustafa Kamal, Ketua Partai PAS Malaysia Haji Abdul Hadi Awang.

Selain para pembicara di atas, beberapa organisasi undangan dari berbagai negara juga didaulat untuk menyampaikan kondisi umat Islam di tempat masing-masing, dari mulai kondisi sosial, politik, pendidikan, media masa, dan gerakan pemuda.

Acara ini pun benar-benar menjadi ajang silaturahmi dan shilatul-fikri di antara pemuda Islam di seluruh belahan dunia yang pada masa yang akan datang cukup strategis untuk tetap mengusahakan terjadinya persatuan di antara negara-negara Islam. Mereka yang hadir dalam kegiatan ini adalah calon-calon pemimpin di tempat masing-masing.

Semua pembicaraan mengarah pada satu pemikiran yang sama bahwa tantangan paling serius yang hari ini dihadapi oleh negara-negara Islam adalah tantangan peradaban (civilization) setelah sebelumnya secara politik negara-negara Islam dapat melepaskan diri dari kolonialisme.

Harus diakui bahwa pada umumnya peradaban dunia Barat hari didominasi negara-negara seperti Amerika, Inggris, Prancis, Jepang, dan semisalnya yang yang umumnya bukan Muslim. Padahal, tiga abad ke belakang negara-negara ini bukan apa-apa. Bahkan sebelumnya, negeri-negeri Islam adalah para pemimpin peradaban dunia sejak Umawiyah di Damaskus, Abbasiyah di Baghdad, dan terkahir Usmaniyah di Turki.

Di antara saran-saran yang disampaikan para pembicara untuk mengatasi persoalan ketertinggalan peradaban ini, umat Islam harus secara serius memperhatikan bidang pendidikan. Bidang inilah yang hari ini paling strategis dan bervisi jangka panjang untuk membangun kembali peradaban Islam yang hilang.

Diakui bersama bahwa kemajuan peradaban Barat hari ini disebabkan mereka memulainya dengan gerakan ilmiah. Riset mereka galakkan dengan serius. Kemudian dibangun universitas-universitas dan lembaga pendidikan di bawahnya untuk menularkannya secara merata kepada anak-anak muda mereka. Dengan cara itu, dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama Barat mulai menuai hasilnya seperti yang kita saksikan hari ini.*/bersambung halaman 2

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Mengenal Muadzin Masjid al-Aqsha yang Melanjutkan Tradisi Keluarga selama 500 Tahun

Mengenal Muadzin Masjid al-Aqsha yang Melanjutkan Tradisi Keluarga selama 500 Tahun

[Video] “Mushollah Berjalan”, Inovasi Baru Ibadah Para Super Sibuk

[Video] “Mushollah Berjalan”, Inovasi Baru Ibadah Para Super Sibuk

Mengungsi di Kutapalong untuk Kembali Pulang…

Mengungsi di Kutapalong untuk Kembali Pulang…

Kisah Mantan Aspri Wapres: Melamar Calon Istri Bermaharkan Tesis

Kisah Mantan Aspri Wapres: Melamar Calon Istri Bermaharkan Tesis

“Lengketnya” Kehidupan Masyarakat Mesir dengan Mushaf Al-Quran

“Lengketnya” Kehidupan Masyarakat Mesir dengan Mushaf Al-Quran

Baca Juga

Berita Lainnya