Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Kisah & Perjalanan

40 Hari menjadi “Keluarga Allah”

hidayatullah.com/Abidurrahman
Acara "Daurah Huffadz Adzzikr Al-Alamiyah" (Daurah Internasional pencetak para Penghafal Al-Qur’an) di Sudan
Bagikan:

MENGHAFAL Al Qur’an impian bagi tiap orang Muslim. Hanya saja tak semua orang mampu melakukan  dengan mudah. Namun sebuah metode baru dari Sudan, ’40 Hari Menghafal Al-Qur’an’ kini membantu banyak orang mampu menghafal 30 juz.

Belum lama ini, 2 orang mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi di sebuah perguruan tinggi di Sudan program ‘40 Hari Menghafalkan Al-Qur’an’ yang diselenggarakan oleh Yayasan Sosial Dzu An-Nurain (Sudan) dan Yayasan Jam’iyah Fahad Al-Insaniyah (Kuwait).

Sebut saja Muhammad Fakhrurrazi Anshar (24) dan Muhammad Baha Asadullah (22). Fakhrurrazi adalah alumni peserta daurah tahun 2012, sementara Baha Asadullah alumni daurah angkatan 2013.

Mereka berdua adalah termasuk peserta yang berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an selama 40 hari. Mereka mampu menghafal Al-Quran di saat memanfaatkan kesempatan liburan dengan mengikuti program ’40 hari Menghafal Al-Qur’an’ yang diberi nama Daurah Huffadz Adzzikr Al-Alamiyah (Daurah Internasional pencetak para Penghafal Al-Qur’an).

Padahal sebelumnya kedua mahasiswa ini belum pernah mengikuti program menghafal Al-Qur’an, apalagi keduanya bukan lulusan pesantren Tahfidz Al Qur’an di Indonesia.

Peserta yang mengikuti program ini terbilang unik. Karena siapa saja bisa untuk mengikutinya. Perbedaan negara, usia, profesi, adat-istiadat tidak menjadi alasan untuk tidak menghafalkan Al-Qur’an.

Kebanyakan pengikut program ini berasal dari beragam usia. Ada yang mulai berusia 12 tahun. Bahkan ada yang sudah berusia 70 bahkan 80 tahun. Namun mereka bisa meluangkan waktu untuk mengikuti program ‘40 Hari Menghafal Al-Quran’.

Sisi unik lainnya adalah tidak ada metode khusus dalam program ini di dalamnya. Selain para peserta diajak untuk berlomba-lomba dalam menghafal Al-Qur’an dalam bentuk karantina, sehingga mereka berada dalam suasana menghafal yang kondusif.

Ditambah lagi adanya kedisiplinan yang diterapkan oleh panitia, dan pengawasan langsung oleh para pembimbing hafalan (muhaffidz) yang siap menerima setoran hafalan mereka selama kurang lebih 14-15 jam perhari dengan target 1 juz.

Dengan model seperti ini, para peserta diwajibkan mengikuti segala peraturan yang ada, termasuk menyetor hafalan minimal 1 juz perhari. Jika ada yang melanggar, atau tidak sanggup untuk mengikutinya maka ia akan tereliminasi.

“3 modal utama mengikuti program ini, yang pertama adalah niat yang tulus ikhlas mengharap ridha Allah. Dari keikhlasan inilah yang nantinya akan menimbulkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an. Yang kedua adalah memiliki kemauan yang kuat untuk menghafal Al-Qur’an, serta selalu berkeyakinan bahwa Al-Qur’an itu mudah dihafal, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Qomar ayat 17, 22, 32, dan 40,” demikian disampaikan salah satu salah satu alumni program ‘40 Hari Menghafal Al-Qur’an“ (Daurah Huffadz Adzzikr Al-Alamiyah), Muhamad Fakhrurrazi Anshar, kepada hidayatullah.com di Sudan belum lama ini.

“Dan sungguh telah kami mudahkan Al-Qur’an untuk diingat, maka apakah ada di antara kalian yang ingin mengingatnya,” ujar Fakhrurrazi mengutip salah satu ayat dalam Al-Quran tentang mudahnya Kitab Suci ini dihafal.

Syarat penghafal Al-Quran ketiga, menurutnya, harus bisa membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, serta memiliki hafalan Al-Qur’an sekurang-kurangnya 3 sampai 5 juz, terang mahasiswa International University of Africa tersebut.

20 Negara

Program ’40 Hari Menghafal Al-Quran’ adalah program yang berdiri sejak 10 tahun lalu oleh Guru Besar Ilmu Al Qur’an di Kuwait University bernama, Dr. Abdul Muhsin bin Zaini Almuthoyyri.

Saat ini, program “Daurah Huffadz Adzzikr Al-Alamiyah”  telah diterapakan di 20 negara di antaranya di negara Eropa, Afrika, Asia dan Australia.

Program ini dikabarkan telah menghasilkan lebih dari 1000 penghafal Al-Qur’an 30 Juz dan lebih dari 100 orang alumni yang telah menyelesaikan bacaan Kitab As shohihain (Kitab Bukhori dan Muslim) dalm waktu 40 hari.

Menurut Fakhrurrazi, saat ini di Indonesia sendiri program ini telah diterapkan, sebagaimana ia ikuti selama di Sudan.

Di bawah organisasi  Al-Qur’an Memorization Trainig (AMT) yang juga merupakan bagian dari Yayasan Al-Qurra yang dipimpin oleh Ustad Muhammad Ikhwan Jalil, program ini telah dilaksanakan sejak 7 April 2013 melalui sebuah Launching berupa Seminar di Gedung Lembaga Administrasi Negara (LAN) Makassar.

Hingga saat ini program yang telah dilaksanakan 1 kali untuk Ikhwan dan 3 kali untuk Akhwat ini telah melahirkan alumni lebih dari 100 peserta penghafal Al Qur’an, dan sekitar 40- 50 di antaranya berhasil menyelesaikan hafalannya 30 juz.

Bahkan Direktur AMT sendiri, dr. Faizal Abdillah Shahib termasuk orang yang mengikuti program menghafal Al-Qur’an di Sudan.

Yang cukup luar biasa,  ketika angkatan ketiga untuk Akhwat, seorang peserta bernama Ibu Djauharah Bawazier M,Pd yang telah berusia 70 tahun berhasil menyelesaikan hafalannya 30 juz dalam waktu 40 hari.

Demi menyebarluaskan kebaikan dan mencetak banyaknya generasi penghafal Al-Qur’an, pria yang akrab dipanggil Ustad Rozi ini belum lama ini mengadakan “Daurah Menghafal Al-Qur’an selama 40 hari khusus untuk Mahasiswa Indonesia”.

Daurah ini diselenggarakan oleh Syabab Ajyalil Qur’an (Komunitas Pemuda Generasi Qur’ani) dilaksanakan dengan bekerjasama dengan yayasan milik seorang Qori’ wa Al-Muqri’ terkenal Dr. Muhammad Abdul Karim bernama Munadzzomah Al-Ma’ali Al-Khoiriyah.

Daurah ini diikuti oleh 10 mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi di Sudan. Mereka adalah Fajar, Abid Shidqy, Juma’, Haris, Samkoro, Restu, Muiz, Imron, Fatahillah dan Umar.

Kegiatan ini sengaja dibentuk untuk mengisi liburan mereka yang masih baru di Sudan. Selain diberi tempat tinggal dan makanan secara gratis, dengan seorang Syeikh Al-Hafidz dari Sudan yang menerima setoran hafalan, mereka juga diawasi dan dibimbing langsung oleh 2 orang senior Muhammad Yassir dan Muhammad Shiddik.

Di akhir obrolan, Fakhrurrazi yang kini sekarang sedang masa akhir penyelesaian kuliahnya di Sudan menyampaikan kebahagiaanya bahwa program ini telah menjadi banyak perhatian di Indonesia.

Terbukti dengan telah diadakannya berbagai seminar dan pelatihan di berbagai daerah di Indonesia, seperti di Solo, Surabaya, dan Jogjakarta.

Saat ini menurutnya,  salah seorang gurunya yang juga syeikh di program ‘40 Hari menghafal Al-Qur’an di sudan’ dan mengusai qiraah sab’ah dan memiliki sanad (bacaan yang bersambung hingga ke Rasulullah shallalahu alaihi wassalam) Syeikh Karramallah Abdallah telah berada di Indonesia selama 3 bulan untuk memberikan sanad Al-Qur’an, mengisi Seminar, dan mengadakan pelatihan.

Bagaimanapun, Rasulullah Muhammad selalu mengutamakan para penghafal Al-Quran, hingga beliau memujinya sebagai “keluarga Allah”.

“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya,” demikian salah satu hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad.*/Abidurrahman, koresponden hidayatullah.com di Sudan 

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Sisa Duka dari Pondok Jihad Wittiya

Sisa Duka dari Pondok Jihad Wittiya

Skandal dan Kriminal Paus Borgia [habis]

Skandal dan Kriminal Paus Borgia [habis]

Tiga Kenangan dari Syndey yang Menyenangkan

Tiga Kenangan dari Syndey yang Menyenangkan

Pasangan Tunanetra Hebat, Antarkan Anaknya Naik Kereta Setiap Hari

Pasangan Tunanetra Hebat, Antarkan Anaknya Naik Kereta Setiap Hari

Dari Sudut Kalimulya “Membidik

Dari Sudut Kalimulya “Membidik

Baca Juga

Berita Lainnya