Selasa, 23 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Kisah & Perjalanan

Perpustakaan” Usamah bin Ladin Sang Syuhada”

BBC
“Maktaba Usamah bin Ladin Syahid” (Perpustakaan Usamah bin Ladin Sang Syuhada) di Madrasah Jamiah Hafsah Pakistan yang memilikis 15 ribu siswi
Bagikan:

TIDAK semua orang menganggap Usamah bin Ladin sebagai tokoh menakutkan. Sebuah madrasah untuk perempuan di ibukota Pakistan, Islamabad, justru mengambil nama mantan pemimpin al-Qaidah, Usamah bin Ladin, sebagai nama perpustakaan.

 

Seorang juru bicara sekolah menggambarkan Bin Ladin, yang tewas di tangan pasukan khusus Amerika Serikat tiga tahun lalu sebagai pejuang yang syahid dalam mempertahankan kepercayaan atau agama, demikian dikutip BBC.

Madrasah putri yang dipimpin seorang ulama bernama Maulana Abdul Aziz  bukan satu-satunya tempat yang secara terang-terangan menggunakan nama Usamah, tokoh paling menakutkan Batat. Sejumlah kalangan di Pakistan bahkan menggunakan nama Usamah untuk menamai anak atau tempat usaha. Namun, menggunakan nama Usamah untuk fasilitas sekolah di Pakistan memang baru pertama kali ada.

Madrasah memang merupakan aspek penting dalam pendidikan di Pakistan yang didominasi Muslim. Sebagian besar sekolah agama di Pakistan bahkan menyediakan makanan, biaya kuliah dan tempat tinggal gratis bagi mahasiswa asing yang menimba ilmu di negeri pecahan India itu.

Bagi Maulana Abdul Aziz, sosok Usamah merupakan syuhada. Karenanya Maulana berupaya menghormati sosok Usamah dengan menggunakan nama mantan pemimpin Alqaeda itu sebagai nama perpustakaan.

Aziz memang sudah lama dikenal sebagai ulama penentang Amemrika.Dia juga imam di Masjid Merah di Pakistan, sebuah masjid di Islamabad yang menjadi tempat persembunyian aktivis Islam saat diserang tentara pada 2007. Dalam serangan itu puluhan tewas hingga memicu gelombang serangan balasan oleh kaum Muslim di berbagai wilayah Pakistan.

Masjid Merah memiliki dua madrasah, yakni untuk perempuan dan laki-laki. Madrasah untuk perempuan dinamai Jamia Hafsa yang semua stafnya perempuan dan memiliki 15 ribu siswi.

Untuk ukuran madrasah, Jamia Hafsa dianggap prestisius. Yang baru dibangun adalah satu ruangan perpustakaan di dalam kompleks madrasah, berdekatan dengan ruang komputer dan ruang kerja Aziz.

Sebuah kertas dengan tulisan Arab ditempel di pintu kayu di bangunan itu. Tulisannya adalah “Maktaba Usamah bin Ladin Syahid”  (Perpustakaan Usamah bin Ladin Sang Syuhada).

“Azis menganggap Usamah bin Ladin adalah pahlawan dan syuhada, jadi itulah mengapa dia memilih nama Usamah untuk perpustakaan,” ujar Tehsin Ullah yang menjadi juru bicara untuk Aziz dikutip AP.

Sedangkan Abdul Rahman, salas satu petugas administrasi di madrasah itu mengatakan, perpustakaan Usamah dibangun 2 bulan lalu. Sedangkan pemberian nama Usamah untuk perpustakaan sudah sejak sebulan lalu. Terang saja pemilihan nama itu mengundang perhatian media.

Meski demikian tidak ada buku-buku ataupun foto Usamah yang terlihat di dalam perpustakaan itu. Rahman menegaskan bahwa perpustakaan itu hanya untuk buku-buku tentang ajaran Islam. Rahman juga menolak mendiskusikan serangan Navy SEAL yang menewaskan Usamah.

Namun, sudah dikenal luas bahwa para siswa dan siswi di madrasah yang dikeola Azis itu telah berpartisipasi dalam protes anti-AS selama beberapa tahun ini. Azis memang dikenal karena sikapnya yang anti-Amerika.

Seperti yang diyakini media,  Usamah meninggal di persembunyiannya di Abbottabad, Pakistan saat disergap tim elit dari Angkatan Laut AS, Navy SEAL pada Mei 2011 silam. Aksi Navy SEAL itu membuat marah Pakistan yang menyebut AS telah mencederai kedaulatan negara lain.

Meski Usamah tiada, tak menyurutkan pendukungnya (terutama penentang Amerika dan Barat). Karena itu tokoh ini hingga saat ini memang masih dianggap sebagai pahlawan oleh sebagian besar sekolah Islam atau madrasah di Pakistan.*

Rep: Panji Islam
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Penggagas Rumah Qur’an Itu Kena Kanker

Penggagas Rumah Qur’an Itu Kena Kanker

Swiss: Masalah Pemakaman Islam dan Toleransi

Swiss: Masalah Pemakaman Islam dan Toleransi

Tak Disangka, Bayi Kami Lahir di Usia 72 Tahun Republik Indonesia

Tak Disangka, Bayi Kami Lahir di Usia 72 Tahun Republik Indonesia

“Apapun Risikonya, Saya Hapus Tato Ini”

“Apapun Risikonya, Saya Hapus Tato Ini”

Siapakah Yang Menciptakan Allah?

Siapakah Yang Menciptakan Allah?

Baca Juga

Berita Lainnya