Senin, 5 Juli 2021 / 26 Zulqa'dah 1442 H

Kisah & Perjalanan

Belajar Bahasa Arab: Buang rasa Malu, Bunuh Rasa Takut!

Ilustrasi
Bagikan:

MALAM itu, Putut Prabowo memutuskan menyudahi kelas bahasa Arabnya. Padahal itu kelas perdananya di sebuah lembaga pengajaran Bahasa Arab. Akhirnya ia berusaha mencari lembaga lainnya yang membuat salah satu bahasa yang terbanyak dipakai penduduk dunia itu bisa dipelajari dengan lebih menyenangkan.

Hasil pencariannya di Google membawanya pada Indonesia Arabic Center (IAC) di Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Kebayoran Baru, Jakarta. Di sana, pengajaran kursus dikemas dengan ringan dan menyenangkan. Suami dari Wahyu Puspitarini itu terdaftar sebagai murid kelas Dasar I. Sudah sebulan ia belajar di sana.

“Materi Dasar I lebih banyak tentang percakapan. Kami dilatih untuk ngomong dan terus ngomong,” jelasnya. Praktis, sederhana,  mudah dipahami, namun sangat komprehensif, merupakan metode yang diunggulkan. Menurut Putut, IAC menargetkan peserta terbiasa bercakap-cakap Bahasa Arab dalam kurun waktu enam bulan. Kelas Dasar I akan dilanjutkan dengan Dasar II. Setelah itu jika memenuhi syarat, peserta bisa melanjutkan ke kelas Mustadaqili I, II dan III.

Belajar dengan menyenangkan. Hal inilah yang sering diharapkan para pemburu ilmu yang ingin menguasai bahasa Al-Quran ini. Yang sering ada, banyak lembaga Bahasa Arab dirasakan susah. Ada lagi hambatan lain, perbedaan usia teman sekelas membuat orang sering hengkang. Ada juga baru kursus sebulan sudah hengkang karena kurang sreg dengan metode pengajarannya.

“Kurang interaktif dan pembawaan pengajarnya serius,” ungkap Putut.

Membandingkan materi pengajaran yang ia dapatkan  di IAC dengan beberapa lembaga tempatnya dahulu kursus, lulusan Teknik Informatika Universitas Gunadharma, Jakarta itu mengatakan,  hal lainnya yang membuatnya kini lebih enjoy dan nyaman kursus Bahasa Arab adalah cara pengelolahan kelas.

Bagi pengusaha kedelai itu, teman sekelas, pengajar dan cara penyampaian materi merupakan beberapa faktor yang menurutnya membuat nyaman seseorang belajar Bahasa Arab.

Lain lagi dengan Rini Deliana. Pemilik kursus bahasa Arab, LAZIM ini  membenarkan tentang masih adanya pandangan tentang belajar Bahasa Arab yang membosankan. Perempuan yang sudah mengajar Bahasa Arab belasan tahun itu banyak menemui orang-orang yang jemu saat belajar bahasa para penghuni surga itu.

Menurut Deliana, harus diakui, di Indonesia Bahasa Arab bukanlah bahasa yang diprioritaskan untuk dipelajari. Padahal di sinilah umat Muslim terbesar di dunia berasal. Pada beberapa orang, hidayatullah.com pernah menanyakan tentang kemungkinan suatu saat belajar bahasa tersebut.

Namun kebanyakan mereka justru balik bertanya, “Untuk apa saya harus belajar? Mau jadi TKW?” Anggapan itu tentu saja dengan sendirinya membentengi diri untuk berinteraksi lebih dalam dengan Bahasa Arab.

Padahal dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara di Timur Tengah menunjukkan performa ekonomi yang moncer. Di saat keseimbangan kekuatan ekonomi tengah bergeser, terlihat negara-negara di Timur dengan cadangan kas yang besar berinvestasi di kawasan-kawasan tertentu pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Mereka banyak melakukan ekspansi dan investasi. Dengan begitu peluang penyerapan tenaga kerja terbuka lebar. Akhirnya tren saat ini mulai menunjukkan Bahasa Arab tidak hanya dipelajari oleh umat Muslim, tapi juga non Muslim.

Konstelasi politik di Timur Tengah yang makin bergejolak, turut mendorong suburnya peminatan bahasa Arab. Bahasa ini suatu saat akan berperan dalam ekonomi dan politik dunia. Akhirnya, tidak hanya anak-anak lulusan pesantren saja yang ingin memperdalamnya, tapi juga mereka yang lulusan sekolah umum, pegawai perkantoran dan bahkan ibu rumah tangga. Fenomena ini juga diakui Putut. Menurutnya, di kelasnya ada satu peserta non Muslim.

“Di kelas ada satu peserta non Muslim. Dia ikut belajar karena ada kemungkinan dikirim perusahaannya ke Arab,” ujar Putut membenarkan fenomena ini.

Buang rasa malu dan Takut

Berbagai tanggapan miring tentang susahnya belajar Bahasa Arab perlu segera ditanggulangi. Menurut Rini, kata kunci keberhasilan dalam berbahasa adalah terus aktif menggunakannya.

“Banyak lulusan jurusan Bahasa Arab dan bahkan mereka yang sudah lulus kelas syari’ah, tapi ketika diajak ngomong Bahasa Arab, kaku. Itu karena tidak terbiasa menggunakannya secara aktif,” ungkap lulusan Pendidikan Guru Bahasa Arab (PGBA) Ash-Shahwah dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab Jakarta (LIPIA), Jakarta, itu.

Pada setiap muridnya Rini selalu menekankan untuk membuang jauh-jauh rasa malu dan sungkan berbahasa Arab secara aktif.

“Buang rasa malu, bunuh rasa takut!” jargon itulah yang selalu didengungkannya. Salah mengucapkan adalah hal biasa. Tidak perlu menjadi momok menakutkan.

Rini mengakui bahwa perkembangan bahasa Arab tidak signifikan di Indonesia. Di berbagai universitas yang di dalamnya terdapat jurusan Bahasa Arab juga jarang yang mengadakan kegiatan yang membuat bahasa Arab terlihat menarik dan menyenangkan.

Ketika rasa suka itu sudah ada, apalagi ditambah kedekatan interpersonal antara guru dengan murid, maka Bahasa Arab menjadi bahasa yang menyenangkan.

Sama seperti Rini. Perempuan berdarah Padang, itu sudah termotivasi berbahasa Arab sejak kecil. Kecintaannya terbangun karena sering melihat neneknya mengajar majelis taklim dengan bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya.

Karena itulah mantan pengajar SD Islam Plus, Cibinong, Bogor dan SDIT IQRO, Pondok Gede, Bekasi, itu berusaha mencari metode yang pas bagi pembelajaran Bahasa Arab. Ibu dengan lima anak itu berusaha menempatkan dirinya sebagai siswa. Apalagi berdasarkan pengalamannya, Ia juga pernah mengalami kesulitan dalam mempelajarinya.

Tidak bosan-bosannya ia mendatangi setiap pameran buku. Dengan melihat puluhan ribu buku yang dipamerkan, Ia berharap bisa mendapatkan inspirasi dalam pengembangan pengajaran.

“Saya banyak mengadopsi metode pengajaran dari bahasa Inggris,” ulasnya. Agar murid memiliki gambaran, Ia seringkali menggunakan grammar Bahasa Inggris sebagai pembandingnya. Aturan penggunaan kalimat dalam Bahasa Arab banyak kemiripan dengan Bahasa Inggris.

Selain itu, Bahasa Inggris lebih beragam menggunakan alat peraga ketimbang Bahasa Arab.

“Sayangnya hal itu tidak banyak diadopsi untuk pengajaran Bahasa Arab, terutama di Indonesia. Akhirnya saya membuat alat peraga sendiri,”ulasnya. Kartu kwartet, ular tangga, balok kayu, merupakan beberapa alat peraga yang ia buat sendiri. Bahkan untuk memudahkan mengingat kosa kata dan perubahan fi’il, Rini menciptakan lagu.

“Pokoknya bagaimana supaya mereka dengan sendirinya bilang “I love Arabic”,” ulasnya sembari tersenyum.

Selain alat peraga, seorang pengajar juga memerlukan pendekatan yang menyesuaikan dengan karakter anak didik.

“Kalau murid kita anak-anak, kita harus tahu dunia mereka. Bercerita, banyak menggunakan gambar, bernyanyi dan diselingi permainan adalah cara belajar yang mereka sukai,” jelas perempuan yang pernah mengajar di Gita Islamic Montessori School, Kemang-Jakarta, itu.

Bahkan untuk menghidupkan cerita, boneka tangan digunakannya sebagai maskot. Jika boneka tangan berbagai suara itu membuat mereka bosan, Rini akan beralih menggunakan lagu. Jika kejenuhan mulai terlihat, ular tangga, kartu kwartet, serta puzzle, akan bergantian dimainkannya. Bahkan sesekali, Ia bersama muridnya menonton film berbahasa Arab. Dengan begitu, selama dua jam, perhatian anak-anak tetap tertuju padanya.

Begitu juga pengajaran untuk orang dewasa, tetap harus menyenangkan dan membuat mereka merasa membutuhkan bahasa yang satu ini. Rini mencontohkan materi yang disampaikannya pada ibu rumah tangga.

“Untuk mereka, saya tidak mengadakan ujian dan lebih memasukkan nilai-nilai Islam di dalamnya,”jelas perempuan yang sering dipanggil “Umi Rini Bahasa Arab” oleh para tetangga di rumahnya itu.

Bacaan dalam sholat dan Al-Qur’an sangat bersentuhan dengan bahasa Arab. Mengaitkannya dengan materi keislaman, akan terasa aplikatif. Ibadah Umroh dan Haji menjadi tema menarik dikalangan pegawai perkantoran. Menurut Rini, mereka terlihat lebih senang jika materi dikaitkan dengan kedua ibadah itu.

Hal yang sama juga terus memotivasi Putut. Anggota Remaja Islam Sunda Kelapa (RISKA), Jakarta, itu tergerak mempelajarinya semata karena nilai ibadahnya.

“Gimana bisa memahami Al-Qur’an, kalau alat bantunya saja kita tidak punya?”Putut menegaskan. Ia berharap bisa konsisten mengikuti pelajaran sampai jenjang terakhir.*

Rep: Achmad Fazeri
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Dakwah Kreatif sebelum Menuju Abaya

Dakwah Kreatif sebelum Menuju Abaya

“Kerukunan Alami” di Pulau Kenari [2]

“Kerukunan Alami” di Pulau Kenari [2]

Lembaga “Penaut Hati” yang  Selalu Diminati (1)

Lembaga “Penaut Hati” yang Selalu Diminati (1)

Syeikh Bakri Al-Tarabishi Berpulang

Syeikh Bakri Al-Tarabishi Berpulang

Rindu Kainama kepada Baitullah

Rindu Kainama kepada Baitullah

Baca Juga

Berita Lainnya