Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Kisah & Perjalanan

Hijrahnya Benefiko: Dari Rocker ke Visualis Dakwah

@Benefiko
Benefiko saat mengisi sebuah acara
Bagikan:

BERTAHUN-tahun lalu, musik underground ia bagaikan ia jadikan sebagai pijakan ideology. Baginya, hentakan musik aliran ini menyuntik energi seolah membuatnya lebih bersemangat. Kini, kisah itu tinggal masa lalu.

Itulah sekelumit kenangan yang dialami bagi seorang Emeralda Noor Achni. Kini, semua kenangan masa lalunya telah ia tinggalkan setelah menjadikan dakwah sebagai jalan hidupnya.

Sebelumnya, di saat Felix Siauw meluncurkan buku “Udah Putusin Aja!” (UPA), banyak kalangan bertanya-tanya, siapakah sesungguhnya Emeralda?

Maklum, melalui kreasinya memoles tampilan, naskah buku UPA mulai dikenal di Nusantara. Bahkan buku UPA banyak diapresiasi masyarakat karena mampu mengemas larangan berpacaran dengan gaya populer, penuh warna dan ilustrasi.

Buku selanjutnya, “Yuk, Berhijab!(YB) juga ikut membetot perhatian remaja Islam di Indonesia. Komentar positif kedua buku itu berseliweran baik di akun twitter @felixsiauw maupun akun miliknya, @Benefiko.

Seperti diketahui, perempuan berusia 26 tahun ini dikenal piawai menerjemahkan tulisan menjadi ilustrasi. Tanpa terkesan menggurui, tampilan buku yang sangat-cewek-sekali-itu, menjadi media efektif.

Pesan yang jika hanya disampaikan melalui tulisan akan terasa berat dan membosankan, bisa diterima lebih jenaka.

“Masing-masing punya kelebihan. Visual memang terbatas, tapi bisa menarik diawal,” ulas Emeralda tentang kelebihan gambar dibandingkan tulisan.

Menurutnya, tipikal anak muda yang banyak terpapar dengan televisi dan media sosial perlu sentuhan dakwah lebih kreatif.

Beragam ilustrasi kocak dengan warna-warna terang mampu menggiring remaja berpikir. Gambar bisa dijadikan pintu gerbang pembahasan yang lebih serius. Menggunakan desain grafis sebagai alat bantunya bisa menjadi alternatif.

Jika kita membaca komentar di akun Ustadz Felix maupun Benefiko, bisa didapati cerita hijrah para followers. Mulai dari menjadi full time mother sampai curhat seorang follower pria yang kesal karena pacarnya minta “putus” setelah baca buku UPA.

Nama Benefiko santer dibicarakan dikalangan pegiat dakwah. Bahkan menjadi nama panggilan resmi saat Emeralda menjadi pembicara di setiap forum. Ber-abaya longgar dengan hijab menjulur panjang kini menjadi ciri penampilan Dinda, panggilan akrab Emeralda.

Kolaborasinya dengan Ustadz Felix, membuatnya terus belajar. Dimulai dengan berhijab syar’i, Dinda berusaha memperbaiki diri. Alumni Universitas Pelita Harapan, jurusan Desain Komunikasi Visual itu mulai banyak membaca tentang pengetahuan Islam.

Titik Balik

Hidayah dan taufik datang kapan saja, terserah Allah. Itulah yang dialami Emeralda. Suangguh tak terbayangkan ini terjadi, mengingat masa lalunya.

Sebelumnya, Dinda adalah penggemar musik cadas. Ia bahkan kerap keluar malam dan pulang pagi. Maklum,  band favoritnya menggelar konser tengah malam. Biasanya sekitar sebulan atau dua bulan sekali konser musik underground digelar.

Sesungguhnya orangtua sangat melarang kebiasaanya. Namun, gairah muda dalam dirinya menggebu. Ia nekat pergi dengan mengendap-endap. Dalam buku YB, dikutip ilustrasi kisahnya. Di sana digambarkan bagaimana ia kabur lewat jendela kamar tidurnya di saat kedua orangtuanya menganggapnya ia tidur pulas.

Padahal, putrinya yang tomboi itu sedang menikmati dentuman distorsi musik metal.

“Sama seperti clubbing, pingin ngerasa eksis,” ujarnya mengenang hingar-bingarnya music di masa lalu.

Musik bahkan dinilai bersemangat mengerjakan tugas grafisnya. “Dulu enggak bisa kalau lagi ngerjain enggak dengar musik,”ucapnya. Tanpa musik, ide-ide dirasakan kurang mengalir. Kegandrungannya berlanjut sampai Ia menikah.

Dinda memutuskan menikah muda,  kala itu usianya 21 tahun. Ia menikah dengan mantan vokalis salah satu band beraliran SKA dan Punk.

Titik balik terjadi tidak lama setelah pernikahaannya. Kala itu

Kecelakaan menimpa ada anaknya yang belum genap berusia 1 tahun. Kaki Alexandria Aqila Azzahra, demikian nama anak pertamanya itu, tersiram air panas. Kakinya melepuh.

Kejadian itu dianggap oleh Dinda sebagai bentuk teguran dari Allah Subhanahu Wata’ala.  Dinda akhirnya memutuskan keluar dari pekerjaannya untuk secara penuh menjadi Ibu rumah tangga.

Meski demikian, proses hijrahnya tak seperti kebanyakan orang. Pada awal berhijab, aksesories yang dipakainya tetap menunjukkan identitas sebagai penggemar musik bawah tanah. Bukan hanya jaket kulit, skeanny jeans, dan pashmina motif tengkorak yang dimilikinya. Berbagai aksesories tengkorak, spike serta high-top sneakers, kerap bertengger sebagai pemanis penampilannya.

Namun dalam perjalanan, Ia ingin hijrah sebenar-benarnya. Bersama sang suami, Ia ingin benar-benar kaffah dalam menjalaninya.

“Orangtua sempat kaget dan mengatakan, kok saya ekstrim,”ulasnya. Namun secara perlahan orangtuanya bisa mengerti pemikirannya.

Pasca hijrah, hentakan musik tergantikan dengan murotal Al-Quran. Malahan bisa sembari menghapal surat-surat baru. Dalam berbagai forum, tak bosan dirinya menghimbau remaja untuk memperhatikan bagaimana mereka diserang oleh media mainstream melalui fashion.

Perempuan yang memiliki motto: “Lebih baik preman tobat daripada mantan jilbab” ini menghimbau anak muda untuk kritis terhadap gempuran mode.

Al Fatih Studio

Melihat potensi berdakwah visual sangat besar, sejak Oktober 2013 Dinda dan Ustadz Felix mendirikan Al Fatih Studio. Berdirinya usaha ini untuk mengerjakan visual buku-buku islami. Studio ini menjaring para desainer grafis yang siap menjadi ‘Visualis Dakwah’.

Bukan hanya dibutuhkan keahlian teknis, tapi juga kepekaan terhadap topik terhangat umat Islam. Menurut perempuan yang kini sedang menempuh studi di International Design School, Jakarta, jurusan Wirausaha Kreatif itu, seorang ‘Visualis Dakwah’ harus siap belajar banyak hal tentang Islam.*

Rep: Rias Andriati
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Syaikh Ini Tiap Bulan Sedekah Rp 1 Miliar Lebih ke Ribuan Mahasiswa

Syaikh Ini Tiap Bulan Sedekah Rp 1 Miliar Lebih ke Ribuan Mahasiswa

Kisah Muhammad Keith, Usia 90 Tahun Semangat Belajar Baca Quran

Kisah Muhammad Keith, Usia 90 Tahun Semangat Belajar Baca Quran

Kewalahan Siasati Kebutuhan Hidup sejak Tiga Bulan

Kewalahan Siasati Kebutuhan Hidup sejak Tiga Bulan

Kisah Hijrah untuk Ibrahim

Kisah Hijrah untuk Ibrahim

Kisah Rina, Rela ‘Setop Bisnis’ Demi Jadi Relawan di Papua

Kisah Rina, Rela ‘Setop Bisnis’ Demi Jadi Relawan di Papua

Baca Juga

Berita Lainnya