Sisi Lain Perjalanan ke Cirebon [1]

Mengejar Buya di Kota Udang

...Menuruti sarannya, saya pun memanjat pagar lantai dua Masjid At-Taqwa

Mengejar Buya di Kota Udang
Muh. Abdus Syakur/Hidayatullah.com
Santri Buya Yahya di Pesantren Al-Bahjah

Terkait

KACA retak menghiasi hamparan hijau persawahan di luar jendela. Satu persatu barisan padi berlalu, ditinggalkan rombongan gerbong besi panjang yang menjerit-jerit. Di atas rel yang seakan tak berujung, Kereta Cirebon Ekspres melaju menembus sore.

Berangkat dari Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, kereta Eksekutif ini membawa saya dan seorang rekan menuju sisi timur Provinsi Jawa Barat. Kami duduk di kursi 13 C-D, gerbong 2, kereta nomor 54, dengan tarif tiket Rp 120 ribu perorang.

Bukan karena tak dapat makan-minum gratis yang membuat saya kurang nyaman. Perjalanan saya agak terganggu oleh jendela di samping saya yang kacanya retak nyaris separuh. Kaca itu hanya dilapisi lakban bening agar tidak jatuh. Keretakan jendela kereta biasanya karena dilempar orang-orang iseng yang lumrah terjadi.

Kalau kaca itu dilempar lagi, kemungkinan besar akan pecah dan mengancam keselamatan penumpang. Kekhawatiran ini menjadi-jadi saat kereta melintas di kawasan Jatibarang. Pada jarak sekitar 40 meter dari luar jendela sebelah kanan, seorang remaja terlihat mengambil ancang-ancang hendak melempar sesuatu. Sejurus kemudian, sebuah benda mirip batu terlontar dari tangannya ke arah kereta. Saya kaget dan segera merunduk di bawah jendela, khawatir jadi sasaran.

“Awas, bang, ada yang lempar!” seru saya kepada  rekan yang biasa saya sapa Bang Ahmad.

Dia kaget keheranan. Saya masih merunduk sekian detik dengan rasa was-was. Beruntung tak terjadi apa-apa. Mungkin lemparan tadi terlalu lemah atau kereta terlalu cepat. Yang jelas perjalanan kami menuju Cirebon pun lancar, hampir tepat waktu.

Sesuai jadwal, kereta berangkat pukul 13.30 WIB dan tiba di Stasiun Cirebon tiga jam kemudian. Senin, 30 Dzulhijjah 1434 H (4/11/2013) itu adalah kali pertama saya menyambangi Kota Udang tersebut.

Al-Bahjah

Cirebon terletak di jalur transportasi Pantai Utara yang menghubungkan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Jarak dari Jakarta ke kota ini sekitar 231 km, dapat ditempuh dengan berbagai kendaraan. Salah satu tujuan kami adalah Pesantren Al-Bahjah.

Dari Stasiun Cirebon, kami naik angkutan kota (angkot) D5 biru muda menuju kawasan Gunung Sari, tarifnya Rp 4 ribu rupiah perorang. Dari Gunung Sari lanjut menumpang angkot GS menuju Al-Bahjah, dengan tarif dan warna angkot yang sama.

Al-Bahjah terletak di Jalan P Cakra Buana No. 179, Blok Gudang Air, Kelurahan Sendang, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon. Kami tiba di pesantren ini pukul 17.22 WIB dalam catatan saya, setelah berjalan kaki 4 menitan dari jalan raya. Hamparan sawah mengelilingi kampus seluas 2,5 hektar itu. Sebuah masjid beratap genteng berukuran sekitar 6×6 meter menyambut saya dan Ahmad.

Al-Bahjah memiliki beberapa kampus, yang kami datangi merupakan kampus utama, mulai dibangun pada Juni 2008. Al-Bahjah memiliki banyak unit usaha; ada minimarket AB Mart, Al-Bahjah Tour & Travel, Sekolah Dasar Islam Qur’ani (SDIQu) Al-Bahjah, Radio_QU, dan masih banyak lagi.

Berbagai unit usaha tersebut rata-rata digerakkan para santri, yang disebut Santri Khos, atau santri khusus. Santri Khos tak cuma bergerak dalam bidang dakwah maupun sosial, ada juga yang bertugas di dapur umum.

Yang menarik, Al-Bahjah tidak menerima banyak-banyak santri. Menurut Ustadz Arif, saat penerimaan banyak pendaftar yang masuk, namun sedikit saja yang diterima. Bahkan salah satu tahap seleksi melibatkan Buya Yahya langsung.

“Semua santri yang diterima terlebih dahulu diistikharahkan oleh Buya,” jelasnya.

Dari info yang saya dapat, saat itu kampus utama Al-Bahjah ini menampung 50 santri putra, dan 70 santri putri, selain murid-murid SDIQu. Putra dan putri beda asrama. Para santri wanitanyapun saya lihat berkerudung lebar.

Perjalanan kami adalah menemui Buya Yahya, Pendiri Lembaga Pengembangan Dakwah Al-Bahjah Cirebon. Meski sudah membuat janji dengan salah seorang pengurusnya, sejak sore hingga waktu Isya’, kami juga belum bertemu Buya.

“Beliau sedang kurang sehat, kelelahan,” terang Ustadz Arif, Sekretaris Yayasan Al-Bahjah saat menerima kami di kantornya.

Tradisi Nahdhiyyin

Saya dan Ahmad dibonceng santri dengan dua sepeda motor menuju At-Taqwa, waktu tempuhnya sekitar 20 menit. Masjid ini juga kami lalui saat meninggalkan Stasiun Cirebon menuju pesantren. Di At-Taqwa, ribuan orang telah berkumpul, meluber hingga ke luar bangunan.

Di dalam masjid, Buya Yahya sedang menyampaikan tausiyahnya di atas mimbar pendek. Dia ceramah dengan posisi duduk. Pria itu tampil dengan surban ‘imamah –dililit di kepala– dan gamis  yang sama-sama putih. Di pundak kanannya tersampir surban coklat muda bercorak batik bunga, serasi dengan jubah berwarna sama yang membalut gamisnya. Dari jauh, parasnya yang tak berjanggut mudah kenali. Foto-foto Buya sudah saya lihat sebelumnya, baik di internet maupun yang banyak dipajang di sejumlah bangunan Al-Bahjah.

Saya penasaran dengan tokoh yang satu ini. Dia disebut-sebut sangat terkenal di seantero Kota Wali -julukan lain Cirebon- dan Jawa Barat. Menyaksikan pengajiannya malam itu, rasa penasaran saya terobati. Sebuah reklame berdiri di samping gerbang selatan masjid, dengan tulisan utama “Gebyar Pergantian Tahun Baru Hijriyah 1434 H – 1435 H bersama Buya Yahya”.

Di pojok kiri atas reklame, terdapat foto Buya sedang berdoa dengan membawa tasbih. Di samping foto, tertulis “Tim Dakwah Cirebon Al-Bahjah” selaku pelaksana acara. Foto-foto Buya dan buku-buku karangannya banyak dijual di pelataran masjid.

Saat itu  jamaah Buya Yahya berjubel –Muslim dan Muslimah dipisah– saya tertarik mengambil gambar dari posisi atas. Namun kedua pintu masuk ke lantai dua melalui tangga timur terkunci.

“Petugas pemegang kuncinya sudah pulang. Lompati aja pagarnya, Mas, kalau mau naik ke atas,” jawab petugas penjaga rak alas kaki yang saya tanya.

Menuruti sarannya, saya pun memanjat pagar lantai dua yang tidak begitu tinggi. Tiba di atas, saya jepret berkali-kali suasana pengajian dari berbagai sudut pengambilan gambar.

Yang menarik dari Buya, dia menyampaikan ceramah tanpa terkesan menggurui. Dalil-dalil yang dia sampaikan diiringi penjelasan yang mudah dipahami. Gaya bicaranya mengalir, lembut tapi tegas, sekilas mirip Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), Pendiri Ponpes Daarut Tauhid di Bandung.

Ada satu pendapat Buya yang saya garis bawahi dalam ceramahnya. Menurutnya, bershalawat dalam hati lebih baik daripada bershalawat dengan suara dinyaringkan. Meski begitu, Buya tidak melarang bershalawat dengan pengeras suara.

Tradisi kalangan Nahdlatul Ulamat (NU) sangat kental di At-Taqwa. Sekitar pukul 21.30 WIB, usai ceramah Buya berdiri di depan mihrab. Dia melayani jabat tangan para jamaah pria yang mengular. Banyak pula yang mencium tangannya. Sementara lantunan shalawat mengiringi para jamaah, dipimpin dua orang pengurus masjid yang bershalawat dengan pengeras suara. Cukup memekakkan telinga saya.

Buya sempat menepis tudingan bid’ah atas kebiasaan Nahdliyin bershalawat tersebut. Dia berdalih, memperbanyak shalawat merupakan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Innallaha wa malaikatahu yusholluna ‘alannabi, ya ayyuhalladzina amanu shollu ‘alaihi wasallimu tashliman,” demikian bunyi firman Allah dalam Surat Al-Ahzab ayat 56 yang dibaca Buya sebagai argumen dalam ceramahnya.

Terjemahannya, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

Kalangan Islam lainnya memiliki pandangan berbeda atas kebiasaan bershalawat ala Nahdliyin tersebut.

Usai pengajian malam itu, saya dan Ahmad pun bertemu Buya untuk pertama kalinya. Saat mengetahui kami dari Hidayatullah, tampaknya Buya agak kaget. Informasi yang dia dapatkan dari pengurus Al-Bahjah, media yang akan datang bukan dari Hidayatullah, tapi dari sebuah majalah yang namanya mirip-mirip nama majalah kami.

“Hidayatullah itu yang pusat (pesantren)nya di Balikpapan kan?!” ujarnya yang segera kami benarkan.

Kiai bernama lengkap Yahya Zainul Maarif inipun menyambut kami dengan ramah.  

“Masih lama di sini (Cirebon) kan? Nginap aja di Al-Bahjah, puas-puasin di sana,” ujar alumnus Universitas Al-Ahgaff, Yaman ini sembari tersenyum.

Dia pun tak sungkan dipotret dengan berbagai pose. Sayang, malam sudah cukup larut, kami segera kembali ke Al-Bahjah menumpang mobil pesantren. Buya dengan mobil berbeda. Esok kami akan kembali berjumpa dengannya di Blok Gudang Air, Sendang, Sumber, tempat tinggal Buya Yahya.* Bersambung

 

Rep: Muhammad Abdus Syakur

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !