Kamis, 4 Maret 2021 / 20 Rajab 1442 H

Kisah & Perjalanan

Usamah Bin Ladin Meledakkan Diri dan Membawa Mati Semua Rahasia (2/2)

Bagikan:

Hidayatullah.com–Sebuah versi baru tentang kematian Usamah bin Ladin yang dikabarkan tidak meninggal dibunuh oleh pasukan khusus Amerika Serikat, melainkan karena tokoh Al-Qaidah itu meledakkan dirinya sendiri agar tidak ditangkap pasukan AS dan semua rahasia yang ada padanya tersimpan untuk selamanya.

Hal itu terungkap dalam hasil wawancara Gulf News dengan salah seorang warga Mesir mantan pengawal Bin Ladin, yang dipublikasikan pada hari Senin (27/5/2013). Dalam wawancara itu, tokoh salah satu kelompok Islam itu juga menceritakan bagaimana manjanya tentara Amerika Serikat dan mengomentari beberapa isu di Mesir terkait dengan Al-Qaidah. Berikut hasil perbincangan itu, yang disusun ulang oleh redaksi Hidayatullah.com dalam dua bagian.

Baca bagian pertama dari tulisan ini di sini.

Tentara Amerika Cengeng

Abdul Fattah mengenang perkataan Bin Ladin saat berada di Makkah dulu kala, sebelum dia meninggalkan negaranya, Arab Saudi.

“Jika kita berhasil menarik Amerika ke kubang Afghanistan, maka kita akan bisa melakukan apa-apa yang belum pernah dilakukan sebelumnya,” kata Abdul Fattah mengulangi ucapan Bin Ladin.

“Di kalangan orang-orang yang pergi ke Afghanistan dan memerangi USSR [dulu Uni Soviet sekarang Federasi Rusia-red], kami biasa mengatakan bahwa orang-orang Amerika itu gila. Mereka melihat dan menyaksikan bagaimana Soviet dipermalukan dan pergi. Orang-orang Soviet lebih gigih ketimbang orang Amerika. Prajurit Soviet mau minum air dari comberan, sementara tentara Amerika akan menangis jika air mineral mereka diambil. Mereka bahkan menggunakan air mineral untuk mandi. Orang-orang Rusia kebalikannya, mereka akan meminum air selokan yang mengalir ke jalan-jalan,” papar Abdul Fattah menceritakan lembeknya mental tentara Amerika Serikat.

“Malangnya, apa yang dikatakan Bin Ladin justru menjadi kenyataan, karena Allah memberikan Amerika seorang presiden yang sangat bodoh [George W. Bush] yang mengirim orang-orang Amerika ke Afghanistan, di mana mereka akan dikalahkan,” kata Abdul Fattah, menyindir Amerika.

Seorang penasehat media Presiden Obama bertemu dengan Abdul Fattah di Mesir dalam sebuah konferensi pers tahun 2012. Abdul Fattah berkata kepadanya, “Kalian akan dikalahkan, bukan karena kalian memerangi Taliban, tetapi karena kalian melawan geografi, dan tidak ada orang yang bisa mengalahkan geografi.”

Sebagaimana diketahui, separuh dari wilayah Afghanistan merupakan wilayah dengan kondisi alam yang sangat sulit dijangkau, baik karena kegersangannya ataupun karena kondisinya yang bergunung tinggi, terjal dan bersalju.

Ayman Al-Zawahiri Cuma Bicara

Abdul Fattah tidak percaya Ayman Al-Zawahiri memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin Al-Qaidah yang efektif menggantikan Usamah bin Ladin.

Menurutnya, Al-Zawahiri itu hanya omong saja.

“Yang dia lakukan hanya mengirimkan pesan yang direkam dan saya secara pribadi mengetahui sosoknya. Dia tidak memiliki karisma dan kesungguhan. Dia mudah terombang-ambing dengan pendapat orang lain. Lima atau enam orang ada disekelilingnya untuk memberitahukan apa yang harus dilakukannya. Dia bukan Bin Ladin. Ada perbedaan yang sangat besar di antara mereka.”

“Ketika Muhammad Al-Zawahiri [saudara laki-laki Ayman Al-Zawahiri] dibebaskan dari penjara setelah revolusi Mesir, sejumlah anak-anak muda mengelilinginya karena dia saudara laki-lakinya Ayman. Aparat keamanan kemudian membiarkan dia bebas berkeliaran dan mengontak orang-orang, supaya bisa melacak siapa saja orang-orang yang berada di sekitarnya,” kata Abdul Fattah menjelaskan bagaimana intelijen memanfaatkan saudara tokoh Al-Qaidah pengganti Bin Ladin itu.

Menurut Abdul Fattah, Muhammad Al-Zawahiri sendiri pernyataan-pernyataannya saling bertentangan.

“Pertama dia mengatakan bahwa demokrasi itu bid’ah dan para pemilih dalam pemilu adalah orang-orang kafir. Kemudian dia mengatakan, akan memerangi siapa saja yang menyerang [Presiden Muhammad] Mursy. Padahal, Mursy sendiri sekarang menjadi Tuan Demokrasi. [Lantas] mengapa menuding kami para pemilih sebagai pelaku bid’ah. Seharusnya dia menudingnya [Mursy] lebih dulu,” kata Abdul Fattah.

Bin Ladin Wafat Al-Qaidah Lenyap

Menyinggung kelompok-kelompok jihad yang disebut-sebut terkait dengan Al-Qaidah, menurut Abdul Fattah semua itu hanyalah pertunjukan media belaka.

Kelompok-kelompok di Sinai, Mesir, atau di tempat lain di dunia mengaku terkait dengan Al-Qaidah untuk menakut-nakuti orang, sebab kelompok itu dikaitkan dengan serangan 9/11. Namun yang sebenarnya, kata Abdul Fattah, kelompok-kelompok itu tidak ada kaitannya dengan Al-Qaidah dan bahkan sama sekali tidak mengetahui apa itu Al-Qaidah. Al-Qaidah sudah lenyap sejak kematian Usamah bin Ladin.

“Rezim sekarang di Mesir [Al-Ikhwan Al-Muslimun] ingin menggembar-gemborkan hal ini secara berlebihan, guna mengatakan bahwa alternatif [pihak lain-red] itu lebih buruk. Sama seperti ketika rezim terdahulu memperlakukan Al-Ikhwan Al-Muslimun. Mereka berkata: lainnya itu buruk, jadi lebih baik kalian bergabung dengan kami,” kata Abdul Fattah, menjelaskan bahwa semua kelompok di Mesir saling menjelekkan satu sama lain.

Duduk di dalam rumahnya yang miskin, di rumah susun yang terletak di samping gedung tinggi Patriakh Katolik Roma di Al-Zaher, salah satu kawasan paling tua di ibukota Kairo, Abdul Fattah mengenang sejarahnya dulu saat menjadi salah satu pemimpin organisasi Al Jihad Mesir, yang dituding terlibat dalam pembunuhan presiden Anwar Sadat pada tahun 1981, melakukan aksi teror di tahun 1990-an dan juga dituduh membantu kelahiran Al-Qaidah. Dia dulu “tangan kanan” Ayman Al-Zawahiri saat masih memimpin Al-Jihad, sebelum akhirnya memimpin Al-Qaidah sekarang.

“Saya yang mengirim Muhammad Atta ke Afghanistan,” kata Abdul Fattah dengan bangga. Muhammad Atta disebut-sebut oleh Amerika Serikat sebagai pilot pemimpin serangan 11 September 2001 atas gedung World Trade Center di New York.

Abdul Fattah dibebaskan dari penjara pada Maret 2011, beberapa pekan setelah Husni Mubarak dilengserkan dari kursi presiden. Mubarak dulu adalah orang yang memenjarakannya selama 20 tahun.

Al-Jihad sudah tidak lagi melakukan aksi-aksi keras di Mesir sejak bertahun-tahun silam. “Kami sudah lelah,” kata Abdul Fattah, yang sekarang berusia 57 tahun.

Mesir saat ini, menurut pria berjenggot lebat itu, sedang menuju ke arah demokrasi ala Barat. Sebab, “hanya pilihan itu yang tersedia,” pungkas Abdul Fattah.*

Rep: Ama Farah
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Pergantian Tahun dengan Daurah Tsukuba

Pergantian Tahun dengan Daurah Tsukuba

Ramadhan di Ayn Jalut

Ramadhan di Ayn Jalut

Kakek Yang Tegas itu Telah Tiada

Kakek Yang Tegas itu Telah Tiada

Dari Jual Gorengan sampai Petugas Cleaning Service KBRI

Dari Jual Gorengan sampai Petugas Cleaning Service KBRI

Paus Benediktus XVI: Penanggalan Kristen Salah, Perayaan Natal Keliru

Paus Benediktus XVI: Penanggalan Kristen Salah, Perayaan Natal Keliru

Baca Juga

Berita Lainnya