Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Kisah & Perjalanan

Usamah Bin Ladin Meledakkan Diri dan Membawa Mati Semua Rahasia (1/2)

Bagikan:

Hidayatullah.com–Sebuah versi baru tentang kematian Usamah bin Ladin yang dikabarkan tidak meninggal dibunuh oleh pasukan khusus Amerika Serikat, melainkan karena tokoh Al-Qaidah itu meledakkan dirinya sendiri agar tidak ditangkap pasukan AS dan semua rahasia yang ada padanya tersimpan untuk selamanya.

Hal itu terungkap dalam hasil wawancara Gulf News dengan salah seorang warga Mesir mantan pengawal Bin Ladin, yang dipublikasikan pada hari Senin (27/5/2013). Dalam wawancara itu, tokoh salah satu kelompok Islam itu juga menceritakan bagaimana manjanya tentara Amerika Serikat dan mengomentari beberapa isu di Mesir terkait dengan Al-Qaidah. Berikut hasil perbincangan itu, yang disusun ulang oleh redaksi Hidayatullah.com dalam dua bagian.

Nabil Naim Abdul Fattah, mantan pemimpin Jihad Islam Mesir (1988-1999) mengatakan bahwa Usamah bin Ladin tidak meninggal karena ditembak mati oleh pasukan khusus Amerika Serikat SEALS dalam ‘Operasi Geronimo’, melainkan meledakkan diri begitu pasukan AS melancarkan serangan ke rumah persembunyiannya di Abottabad, Pakistan, pada 2 Mei 2011.

“Cerita tentang pemakaman Bin Ladin di laut itu meragukan. Presiden Amerika Serikat Barack Obama berbohong ketika dia mengatakan bahwa Bin Ladin dikubur di laut. Bagian tubuh Bin Ladin tercerai-berai, seperti [tubuh pelaku] serangan bom bunuh diri, jadi tidak meninggalkan jejak bagi AS untuk mengidentifikasinya,” kata Abdul Fattah.

Abdul Fattah sendiri mengaku bahwa dirinya tidak berada di Abotabad saat peristiwa itu terjadi. Namun, dia mengatakan mendengar apa yang terjadi dengan Bin Ladin dari saudara salah satu keturunan milyuner Arab Saudi itu.

Abdul Fattah, yang pernah menjadi pengawal pribadi Bin Ladin, membenarkan bahwa pemimpin Al-Qaidah itu sepanjang waktu mengenakan sabuk berupa bom selama sepuluh tahun sebelum kematiannya dan bertekad tidak akan menyerahkan dirinya kepada Amerika Serikat.

“Intelijen AS merencanakan untuk menangkapnya hidup-hidup, tetapi mereka salah perhitungan. Dia meledakkan diri agar tidak ditangkap. Dan juga, dia ingin menyimpan rahasia-rahasianya sampai mati dan dia punya banyak sponsor dari negara-negara Teluk yang mengiriminya uang. Dia ingin menyelamatkan mereka dari segala macam kesulitan. Dia bersumpah di depan Ka’bah untuk menjaga semua rahasianya sampai mati,” kata Abdul Fattah.

Pria asal Mesir itu juga menyoroti kemungkinan bahwa salah seorang pendukung Bin Ladin ada yang berkhianat.

“Sulit untuk menyusup ke dalam lingkaran terdalam sekitar Bin Ladin. Pengawal-pengawal pribadinya hanyalah orang-orang Yaman atau Saudi yang tidak akan bisa disogok oleh pihak musuh manapun,” tegas Abdul Fattah.

Abdul Fattah kemudian menjelaskan bagaimana Amerika Serikat akhirnya bisa menjangkau Bin Ladin.

“Seorang saudara laki-laki dari seorang tahanan warga Kuwait yang berasal dari Pakistan di Teluk Guantanamo, dulu dekat dengan Bin Ladin. Orang itu pernah muncul di Kuwait pada tahun 2008, saat CIA meminta pihak berwenang Kuwait tidak menahan orang itu atau melacaknya. Orang itu kerap mengunjungi keluarganya dan pergi ke Pakistan dengan paspor palsu. Intelijen AS memantau teleponnya dan menyadap semua pembicaraannya untuk mengetahui semua kontaknya. Mereka (AS) kemudian mengetahui bahwa pria itu biasa mematikan telepon selulernya di suatu tempat tertentu di mana mereka tidak bisa melacaknya lagi.”

“Setelah berbulan-bulan memantau orang itu, Amerika gagal menemukan rumah Bin Ladin. Mereka kemudian mengatur sebuah kampanye vaksinasi massal untuk melindungi anak-anak dari cacar air. Saat mereka menemukan anak-anak Arab di suatu daerah, mereka kemudian memeriksa DNA-nya untuk mengetahui asal-usul garis keturunannya. Begitu mereka mengetahui Bin Ladin dan keluarganya ada di suatu tempat di Abottabad, mereka memutuskan untuk menyerbu tempat itu.”

“Bin Ladin dan orang-orangnya mempertahankan diri mereka sendiri. Mereka menembaki helikopter yang mengangkut unit pasukan khusus AS. Saat SEAL membunuh dua orang pengawalnya dan menembak pahanya, dia kemudian mengaktifkan sabuk peledaknya,” cerita Abdul Fattah tentang saat-saat terakhir kehidupan Bin Ladin.

Abdul Fattah menuntaskan ceritanya tentang kematian Bin Ladin dengan merujuk sebuah sumber yang dekat dengan salah seorang pengawal Bin Ladin yang terbunuh. Dia menolak untuk menyebutkan nama orang tersebut, dengan alasan untuk melindunginya.

Abdul Fattah berkata bahwa “suatu hari nanti isteri Bin Ladin akan menceritakan kisah itu.”*

Baca kelanjutannya tentang tentara Amerika Serikat yang cengeng dan isu terkait Al-Qaidah di bagian 2 (habis).

Rep: Ama Farah
Editor: Dija

Bagikan:

Berita Terkait

Kisah Rina, Rela ‘Setop Bisnis’ Demi Jadi Relawan di Papua

Kisah Rina, Rela ‘Setop Bisnis’ Demi Jadi Relawan di Papua

Kisah dari Dunia Karpet

Kisah dari Dunia Karpet

Lika-liku Ketua Takmir Masjid Pedalaman Minoritas Muslim

Lika-liku Ketua Takmir Masjid Pedalaman Minoritas Muslim

Kakek Yang Tegas itu Telah Tiada

Kakek Yang Tegas itu Telah Tiada

Allah Satukan Hati Kami di Monas [1]

Allah Satukan Hati Kami di Monas [1]

Baca Juga

Berita Lainnya