Jum'at, 26 Maret 2021 / 12 Sya'ban 1442 H

Kisah & Perjalanan

Siddik Kelsaba, Santri Irian yang Ingin Hafal al-Quran Setahun Lagi

Bagikan:

Allahu akbar…Allahu akbar

Allahu akbar…Allahu akbar

Asyhadu alla ilaaha illallaah

Asyhadu alla ilaaha illallaah

Asyhadu anna muhammadurrasulullaah

Asyhadu anna muhammadurrasulullaah

Hayya ‘alash-sholaah

Hayya ‘alash-sholaah

…………..

………….

Laa ilaaha illa-allaah

LANTUNAN azan shalat Subuh dari Masjid Asweidy itu terdengar sangat indah. Lafadznya yang jelas dan terdengar lantang seolah hendak membangunkan para santri dan asatidz (para ustadz) di Lembaga Tahfidz Ilmu al-Qur’an (LTIQ) Pesantren As-Syifa Al-Khoeriyah, Subang, Jawa Barat. Ia adalah Sidik Kelsaba, santri Al-Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN) yang tengah intens menghafal al-Qur’an di pesantren yang memiliki luas 90 hektar itu.

Sidik, demikian ia biasa disapa, sudah 2,5 tahun mondok di Pesantren As-Syifa. Berkat ketekunannya menghafal, Sidik telah menghafal al-Qur’an sebanyak 15 juz.

“Selama kita masih mampu, yakinlah Allah akan membantu kita,” kata Sidik.

Sidik merupakan satu-satunya santri AFKN yang masih bertahan di pesantren ini. Awalnya, ada beberapa orang temannya yang juga dari Nuu Waar (Irian Jaya) menghafal al-Qur’an di pondok ini. Namun, karena hal lain, mereka tak melanjutkannya.

“Sejak awal memang saya ingin jadi penghafal al-Qur’an. Menegakkan kebenaran yang hakiki, untuk umat di bumi Indonesia, terutama di Indonesia bagian timur yaitu Nuu Waar,” jelasnya.

Siap Dakwah di Irian

Meski satu-satunya santri dari Nuu Waar, Sidik merasakan banyak saudara. Bahkan, menurut informasi penulis dapat, Sidik termasuk santri di pondok ini yang disukai oleh para ustadz. Selain, karena suaranya yang bagus, Sidik juga terhitung santri yang rajin bekerja. Tak ayal lagi, banyak yang meminta Sidik untuk tampil melantunkan ayat suci al-Qur’an dalam setiap acara pembukaan acara, baik seminar, pelantikan, maupun pernikahan.

“Kemarin, saya baru saja ke Kota Subang, diundang untuk pembukaan acara pelajar,” aku Sidik saat ditemui penulis pada Senin, 29 April 2013 lalu.

Penulis sendiri, pertama kali mengenal Sidik sekitar tiga tahun lalu. Saat AFKN menggelar safari dakwah dan sunatan massal di pedalaman Nuu Waar. Sidik yang ketika itu baru saja menyelesaikan SMA, bersama teman lainnya membantu kegiatan AFKN yang ketika itu berpusat di Fakfak, Irian Barat. Penulis melihat langsung bagaimana kemampuannya dalam melantunkan al-Qur’an cukup baik, dan pekerja yang giat.

Selama di pesantren as-Syifa, putra pasangan Ahad Kelsaba dan Maimuna Kelsaba ini tak lepas dari aktivitas menghafal. Tiada hari tanpa al-Qur’an. Menurut Sidik, setiap hari setiap santri diwajibkan untuk setoran hafalan kepada pembimbing (asatidz).

“Minimal setoran hafalan satu lembar al-Qur’an, tapi ada juga yang langsung setor hafalan lima lembar,” ujar pria kelahiran Kelaba, Seram, 29 Agustus 1987 ini.

Sidik memiliki target, satu tahun lagi ia mampu menghafal 30 juz al-Qur’an.

“Insya Allah, saya berusaha untuk istiqomah,” ujar Sidik seraya memohon doa.

Yang terpenting lagi, ia berharap dapat membagi ilmunya ini kepada generasi Nuu Waar melalui AFKN.

“Ini juga sudah menjadi tekad saya sejak awal, semoga apa yang pelajar di pondok ini bermanfaat untuk perkembangan dakwah AFKN ke depan,” harapnya.* 

Rep: Ahmad Damanik
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Sabra Shatila dalam Kenangan Penyair Gaza

Sabra Shatila dalam Kenangan Penyair Gaza

Negeri 2 Kiblat di Kampung Jawa Yang Jauh [1]

Negeri 2 Kiblat di Kampung Jawa Yang Jauh [1]

Kakek Yang Tegas itu Telah Tiada

Kakek Yang Tegas itu Telah Tiada

Dari Bumi Jihad Gaza Membawa Bidadari menuju Galela

Dari Bumi Jihad Gaza Membawa Bidadari menuju Galela

Pergantian Tahun dengan Daurah Tsukuba

Pergantian Tahun dengan Daurah Tsukuba

Baca Juga

Berita Lainnya