Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Kisah & Perjalanan

Kalungan Bunga untuk Abd el-Qadir

Bagikan:

“DEMI ALLAH ikhwah (saudara, red), kalau bukan karena menuntut ilmu, Ana lebih memilih tinggal di Gaza. Mati di tanah kami adalah kemuliaan bagi kami, tapi cinta ana (saya) pada ilmu menahan itu,” demikian aku Abd el-Qadir Umar Abd el-Qadir Fayyadh, Sabtu (15/12/2012) malam itu di kantin kampus Universitas Islam Madinah (UIM).

Hati saya bergetar luar biasa mendengar penjelasan anak Jalur Gaza ini. Seperti mendapat suntikan motivasi tersendiri bagi saya untuk belajar lebih giat. Kondisi keamanan Indonesia tidak sepanas kondisi Palestina. Bahkan negara saya, Indonesia sangat jauh lebih baik kondisinya.

Perjalanan saya menuju Kota Nabi pun tidak seberat perjalanan pemuda satu ini; tidak ada pos-pos keamanan Israel yang harus dilewati, naik pesawat megah dan besar milik Kerajaan Arab Saudi, dijemput panitia Indonesia di Madinah, alhamdulillah. Terus terang saya merasa bersalah dengan Abd el-Qadir kalau tidak bersemangat sepertinya.

Ada juga rasa gregetan kalau mengingat sebagian teman-teman dan pemuda di Tanah Air yang bermalas-malasan dalam belajar. Atau dengan mudah “membeli” ijazah tanpa ada standarisasi keilmuan yang bisa dipertanggungjawabkan. Saya jadi teringat bait-bait puisi sastrawan Taufiq Ismail berjudul “Palsu”. Puisi ini menceritakan perjalanan hidup seorang pelajar yang dari kecil sampai sarjananya dipenuhi dengan nilai dan ijazah palsu. Sampai akhirnya pelajar itu mencetak generasi palsu untuk tanah air. Lucu, tapi menikam.

Pikiran saya kembali lagi ke rangkaian cerita anak negeri Palestina tadi. Dalam perjalanan pulang dari Kampus UIM ke apartemen dengan bus seusai makan malam itu, saya kembali berbincang dengan el-Abd el-Qadir.

Awalnya dia lebih banyak menikmati suasana indah Kota Madinah al-Munawwarah dengan lampu-lampu yang terang dan taman-taman kota yang dilengkapi dengan air mancur bercahaya. Lebih setengah perjalanan menuju apartemen, saya membiarkannya akrab dengan dinding kaca bus kami. Setengah perjalanan berikutnya, baru saya kembali mengajaknya bicara.

“Anta naim (kamu tidur)?” sapa saya bercanda.

“Laa, Wallahi (Tidak, Demi Allah)! Ana hanya teringat Palestina. Alangkah indahnya kalau bangunan-bangunan di sana seperti bangunan-bangunan yang tegak di sini. Pohon-pohon kurma kami sekarang tidak seindah pohon kurma Madinah. Padahal Anda tahukan, kualitas buah kurma Negeri Syam (istilah untuk negara-negara bagian utara Jazirah Arab seperti Palestina, Yordania, dll. Pen) dan buah Zaitunnya tidak kalah bagusnya…?!” tutur bocah berusia 19 tahun itu, lalu teringat rumah di kampung halamannya yang hancur dihantam bom 15 tahun lalu.

“Alhamdulillah, kami sekeluarga utuh. Dan ini untuk kali pertama ana meninggalkan mereka,” lanjutnya.

Percakapan kami di bis banyak membahas tentang perkenalan kondisi Indonesia-Palestina. Saya juga tahu dari ta’aruf (perkenalan) kami kalau dia anak ke 11 dari 12 bersaudara. Kakak terbesarnya laki-laki berusia 42 tahun.

“Alhamdulillah, banyak pasangan muda yang menikah di sana, nikah perjuangan. Bagaimanapun juga Palestina membutuhkan stok Mujahid lebih banyak untuk berjihad membebaskan Palestina. Dan Masya Allah, tabarakallah, jumlah anak laki-laki lebih banyak dari perempuan. Mati satu, tumbuh seribu,” terang Abd el-Qadir tersenyum.

“Masya Allah, Allahu Akbar! Lalu ana dengar kalian memiliki program Tahfidzul Qur’an (menghafal al-Qur’an), benarkah?” tanya saya simpatik.

“Ya! Itulah modal terbesar kami, al-Qur’an. Lebih dari seribu penghafal diwisuda setiap tahunnya di Palestina. Dan di setiap rumah harus ada minimal satu orang hafidz (penghafal) Al-Qur’an, walaupun rumah itu sudah roboh dihantam rudal dan diinjak tank,” jawabnya bangga.

Haru dan bangga mendengarnya. Spirit al-Qur’an betul-betul dimaksimalkan saudara-saudara di Palestina sana. Saya jadi enggan melontarkan pertanyaan terakhir ana, “Apakah Anda hafidz al-Qur’an?”. Keterangannya tadi sudah menjawab pertanyaan itu.

Bus kami berhenti tepat di jalan samping apartemen. Saya menemani Abd el-Qadir ke kamarnya di lantai 8, lalu saya turun menuju kamar di lantai 4. Malam ini ada doa khusus buat teman baru kami itu, buat bangsa Palestina, negeri para Anbiya. Tempat di sana ada mi’roj Nabi Muhammad SAW menuju langit yang tujuh, kiblat pertama umat Islam, tanah warisan Khalifah Umar bin Khattab, Kholid bin Walid dan Sholahuddin Al-Ayyubi.

Rasanya saya pengen mimpi bertemu Abd el-Qadir Umar malam ini, menyambutnya dengan kalungan bunga di Bandara Amir Muhammad bin Abdulaziz, Madinah bersama Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdulaziz As-Saud, Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi dan Wali Kota Madinah beserta staf masing-masing seraya berkata, “Selamat Datang Duta Palestina di Kota Nabi!”.*

* Muhammad Dinul Haq/Kontributor Hidayatullah.com di Madinah

Baca juga:

“Selamat Datang Duta Palestina!” (Bagian 1)
“Selamat Datang Duta Palestina!” (Bagian 2): Merajut Mimpi di Kota Nabi

Rep: Muhammad Abdus Syakur
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Kisah Pengungsi Rohingya Mengarungi Laut dan Masuk Hutan hingga Diakui sebagai Manusia

Kisah Pengungsi Rohingya Mengarungi Laut dan Masuk Hutan hingga Diakui sebagai Manusia

‘Semoga Islam Semakin Benderang di (Masjid) Long Melaham’

‘Semoga Islam Semakin Benderang di (Masjid) Long Melaham’

“Semoga Seujung Kuku ini Jadi Saksi untuk Palestina”

“Semoga Seujung Kuku ini Jadi Saksi untuk Palestina”

Kakek Yang Tegas itu Telah Tiada

Kakek Yang Tegas itu Telah Tiada

Nikmatnya Ikut Jumatan di ANU

Nikmatnya Ikut Jumatan di ANU

Baca Juga

Berita Lainnya