Rabu, 3 Maret 2021 / 20 Rajab 1442 H

Kisah & Perjalanan

Doktor Prostitusi dari Dai Prostitusi

Sunarto didampingi kedua istri tercintanya
Bagikan:

SUNARTO tak kuasa menahan rasa haru begitu Prof Dr H Burhan Djamaluddin, MA, Ketua Tim Penguji, menyatakan dirinya lulus dengan sangat memuaskan. Sunarto kemudian menunduk dan mengusap wajahnya dengan tangan saraya berucap, “Alhamdulillah.”

Narto, begitu Pembantu Dekan Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya ini biasa  dipanggil, pantas berbahagia. Bukan saja ia telah berhak menyandang gelar doktor, gelar akademik tertinggi, tetapi semua itu dicapai dengan penuh perjuangan. Nyaris saja usahanya meraih gelar impian itu sirna ditengah jalan. Betapa tidak, saat sedang menulis desertasi, tiba-tiba penyakit stroke menyerangnya. Akibatnya, kaki dan tangan kirinya lumpuh tak bisa digerakkan hingga beberapa bulan.  

Namun Wakil Ketua LDNU Jawa Timur ini tak mau menyerah. Ia mencoba menerima ujian berat tersebut sebagai kenikmatan. “Dengan begitu sakit ini tak terasa sebagai beban,” katanya.

Hikmahnya, lanjut Narto, pengerjaan desertasinya menjadi lebih cepat. “Saya jadi lebih fokus,” katanya. Meski untuk itu, ia harus dibantu oleh anak dan istrinya.

Narto menjalani ujian terbuka di Aula IAIN Sunan Ampel, Rabu (28/11/2012) lalu. Didampingi dua istri tercintanya yang membantunya berjalan, pria kelahiran Surabaya, 26 Desember 1959 ini mendapat 12 pertanyaan dari enam profesor. Bebarapa kali ia mendapat aplaus dari hadirin saat mampu menjawab pertanyaan tim penguji dengan jelas dan meyakinkan. 

Narto menulis desertasi dengan judul Kiai dan Prostitusi, hasil penelitiannya tentang kiprah dakwah Ustad Khoiron Syu’aib di lokalisasi kota Surabaya. Karena meneliti prestitusi inilah, Prof. Dr. H Moh. Ali Aziz, M.Ag, salah satu promotornya, secara guyonon menyebut Narto sebagai doktor prostitusi. Narto nampaknya tak keberatan dengan sebutan itu. Ia hanya  menanggapi dengan tertawa.

Menurut Narto, Khoiron cukup berhasil mengentas para pelacur di Bangunsari. Setidaknya itu bisa dilihat dari jumlah pelacur yang kini beroperasi. Tahun 80-a, ada sekitar 3 ribu pelacur yang tersebar di 12 RT, kini tinggal 150 dan berada di 2 RT.

Ada yang menarik saat Narto melakukan penelitian. Pernah suatu kali ia ditawari “main” oleh salah satu pelacur. Mau? “Tentu saja tidak,” katanya sambil tersenyum.

Khoiron adalah dai yang tinggal di komplek lokalisasi Bangunsari. Sejak lahir ia sudah berada di kampung yang bergelimang kemaksiatan, karena orangtuanya memang tinggal di situ. Namun orangtuanya mengambil tindakan bijak.

Tak ingin terseret pengaruh negatif lokalisasi, ia mengirim Khoiron ke Pesantren Tebeireng, Jombang. Di pesantren yang didirikan oleh KH Hasyim Asyari (kakeknya Gus Dur) ini Khoiron menimbu ilmu hingga menyabet gelar sarjana muda.

Melanjutkan kuliah di IAIN Sunan Ampel, Khoiron kemudian tinggal di rumah orangtuanya. Sebagai lulusan pesantren, ia merasa tidak nyaman melihat kemaksiatan di hadapannya. Terbersit niat untuk melakukan amar ma’ruf nahyi munkar. Ia yakin di relung nurani mereka ada kebaikan. Nurani itulah yang ia ingin ketuk.

Khoiron memanfatkan gedung bioskop yang tak jauh dari Bangusari. Malam hari banyak pelacur, mucikari dan pria hidung belang nonton film di gedung tersebut. Setelah film selesai diputar ia manfaatkan waktu untuk berceramah. “Ketika bicara saya tak bilang akan berdakwah, saya hanya menyapa dan berusaha lebih dekat dengan mereka. Itu yang pertama saya lakukan,” kata Khoiron mengenang.

Hingga kini Khoiron masih berceramah. Bukan lagi di gedung bioskop, melainkan di balai RW seminggu sekali. 

Tak semua orang mendukung dakwahnya Khoiron. Cibiran, cemohan dan hinaan pernah menderanya. “Untuk apa ia berdakwah di sini. Toh setelah keluar mereka akan bekerja lagi seperti biasanya, buang-buang waktu saja,” kata Khoirin menirukan cibiran itu.

Khoiron tidak menanggapi serius cibiran dan cemoohan itu. Ia tetap terus berjalan. Ia juga tidak pernah menegur atau mengancam jamaahnya yang kembali menjadi pelacur atau mucikari. Ia yakin, hidayah Allah datangnya tidak bisa ditebak.

“Apa yang saya lakukan sebatas usaha sorang hamba untuk menolong hamba yang lain. Persoalan insyaf atau tidak itu urusan Allah,” katanya. Ia percaya suatu saat Allah bakal menurunkan hidayah dan membuka pintu para pelacur dan mucikari untuk bertobat.*

Rep: Bambang S
Editor: Dija

Bagikan:

Berita Terkait

Jamaah Subuh Perindu Ukhuwah, Menyongsong Yahudi

Jamaah Subuh Perindu Ukhuwah, Menyongsong Yahudi

Viking Dan “Harta Karun” Islam [Bagian 2]

Viking Dan “Harta Karun” Islam [Bagian 2]

Kisah Soltan Merasakan Penjara Rezim Al-Sisi di Mesir [2]

Kisah Soltan Merasakan Penjara Rezim Al-Sisi di Mesir [2]

Pernah Merasa “Diteror” dan Dicari anggota IJABI

Pernah Merasa “Diteror” dan Dicari anggota IJABI

Teriakan Safia: Saksi Mata Perempuan Korban Bosnia

Teriakan Safia: Saksi Mata Perempuan Korban Bosnia

Baca Juga

Berita Lainnya