Ketika Anak Punk Berpikir Tentang Agama dan Tuhan (3)

Para Pelopor Dakwah dari “Warung Udik”

Nilai – nilai tarbiyah adalah isi dari setiap program pembinaan anak-anak Punk Muslim

Para Pelopor Dakwah dari “Warung Udik”
Ahmad Zaki dalam salah satu aksi Punk Muslim di demonstrasi buruh

Terkait

PUNK tak bisa lepas  dengan citra pemabuk, berandalan dan lusuh serta sejuta warna-warni kisah yang menempel padanya. Membangun citra baru dari komunitas ini bukanlah sebuah pekerjaan sederhana. Apalagi jika komunitas yang suka berdandan aneh-aneh ini dikaitkan dengan citra Islam.

Adalah Almarhum Budi Chaeroni, seorang anak punk yang merasa resah dengan kehidupannya. Dalam kegalauan hati dan seiring perjalan hidupnya, rupanya ia mulai berpikir tentang agama. Ia sadar kisah perjalanan hidupnya tidak terlepas dari apa yang telah terfitrah dalam dirinya. Lahir sebagai keluarga Muslim dan tinggal di negeri mayoritas  penduduk Muslim, itulah fitrahnya.

Pertarungan batin ini berjalan antara  tahun 2005 hingga 2006.  Hingga tahun 2007, ia lalu memberanikan diri menamakan komunitas ini dengan sebutan Punk Muslim. Kala itu, selain membina anak-anak dengan keterbatasan ilmu agamanya, Budi juga harus bertarung mengikhtiarkan dana bagi pembiayaan komunitas yang sedang ia bangun ini.

Hingga di tahun yang sama, Punk Muslim melahirkan markas yang mereka beri nama “Warung Udik”.

Warung Udik itu sejarah banget, waktu pertama kali ke sini beragam anak punk ada, bahkan ada yang sampai hamil di luar nikah, hancur banget dah pokoknya,” jelas Ahmad Zaki, salah satu pembina Punk Muslim kepada hidayatullah.com, Jum’at (21/09/2012).

Belum sempat melihat perkembangan komunitas yang dibangun ini, rupanya Allah memanggil Budi dalam sebuah kecelakaan motor di daerah Cipinang Cimpedak.

Benturan keras yang dialami kepalanya membuat dia mengalami pendarahan otak. Ia dipanggil kembali menghadap Allah dengan meninggalkan sejuta cita-cita yang belum kesampaia.

Tahun 2008 hingga 2009 adalah hari berkabung bagi komunitas Punk Muslim. Tidak mudah bagi mereka untuk kehilangan Budi. Lelaki berambut gimbal itu telah menuntun sekitar belasan anak punk Jakarta mengenal Islam.

“Punk Muslim…hhm..ini adalah amal terakhir Budi untuk akhiratnya. Salah satu hal kenapa gue ada di sini, gue berharap setiap amal baik Punk Muslim bisa juga meringankan Budi di akhirat,” jelas Zaki sambil menghelas nafas menahan haru dan membalut rindu kepada sahabatnya tersebut.

Sepeninggal Budi, Zaki sempat kebingungan untuk membina anak-anak Punk Muslim. Latar belakangnya yang hanya lulusan madrasah dan pengurus Kerohanian Islam (Rohis) semasa sekolah membuatnya merasa kurang cukup dan bingung harus berbuat apa. Sempat ia berpikir untuk tidak melanjutkan dakwah di komunitas ini. Ia bahkan berpikir tidak ada manfaatnya, karena menilai masih ada medan dakwah lain yang lebih penting.

Entah mengapa setiap kali pulang ke rumah, Zaki  terus memikirkan anak-anak di komunitas itu yang perlu bimbingan. Ada sebersit pikiran yang menghantuinya, “Bagaimana jika anak-anak Punk Muslim kembali mabuk-mabukan? Bagaimana jika mereka kembali jauh dari agama? Bagaimana jika mereka kelaparan di jalanan?” Semua pertanyaan itu merasuk dalam hati dan selalu meresahkan nuraninya.

Zakipun akhirnya bertekad ingin membina mereka seadanya. Ia, perlahan-lahan mempelajari karakter setiap anak-anak di komunitas itu. Zaki lebih memilih memposisikan dirinya sebagai seorang kakak. Ia lebih banyak mendengarkan keluh-kesah mereka sebelum ia berdakwah tentang Islam. Memberikan kenyamanan bagi mereka adalah strategi yang dipakai Zaki.

Dari situ ia melihat ada keberhasilan dalam pendekatan dakwahnya. Anak-anak Punk Muslim menjadikan dia tempat pelarian. Mulai masalah curhat pribadi sampai urusan finansial tidak jarang anak-anak Punk Muslim selalu menghubunginya. Pengajianpun berlanjut, dan Zaki mulai mengambil peran Almarhum Budi. Sementara anak-anak Punk Muslim mulai kuat untuk menerima kepergian almarhum.

“Memang banyak medan dakwah, tapi tidak setiap orang siap dengan dakwah di medan seperti Punk Muslim. Bukan karena gue hebat gue ada di sini, semua karena izin Allah,” jelas pria yang hobi fotografi ini.

“Tapi gue sadar, gue nggak mampu mengelola Punk Muslim sendirian, gue butuh dukungan, gue butuh tim,” tambah Zaki ditemani mie rebus.

Setelah berkordinasi dengan banyak sahabatnya. Zaki akhirnya memutuskan mencari seorang ustad terdekatnya. Dialah Ustad Ismeidas Makfiansyah. Untung Ismeidas mengaku sangat bersimpati dengan dakwah Punk Muslim. 

Gayungpun bersambut. Rupanya Ismeidas tertarik, ia bahkan menilai, inilah medan dakwah sesungguhnya. Ismeidas tidak peduli dengan masalah berapa banyak kontribusi yang harus dikeluarkan baik fisik, psikis hingga finansial. Dakwah memang sudah menjadi hobi dalam hidupnya. Terlebih ia begitu haru melihat ada kumpulan anak-anak jalanan kita mau shalat. Baginya hal ini adalah hal langka yang seharusnya didukung oleh pada da’i Islam.

“Saya dari dulu memang kalau udah ngeliat anak muda mau hijrah itu seneng banget, pasti ane follow-up tuh orang,” jelas Ustad Ismeidas kepada hidayatullah.com di sela-sela pengajian Punk Muslim, Senin (03/09/2012).

Untuk berdakwah di komunitas punk bukan pekerjaan mudah bagi Ahmad Zaki dan Ismeidas Makfiansyah. Pasalnya, setelah masuk lebih jauh,  medan dakwah di komunitas ini  sangat sensitif. Selain setiap komunitas memiliki ciri dan aliran sendiri-sendiri. Sebut saja ada aliran Anarko Punk, dari namanya, lekat dengan kekerasan. Ada aliran  Punk Rock, Skinhead Punk, Street Punk, Punk Anti Media hingga Punk Major Label. Masing-masing memiliki ideologi berbeda-beda. Bahkan ada yang saling bertentangan antara satu dengan lainnya.

Muslim secara Total

Satu hal yang pasti, kehadiran sosok Ismeidas Makfiansyah dan kawan-kawan penggerak dakwah lainnya cukup meringankan beban dakwah Zaki dan menambah semangat baru di kelompok ini.

Saat itu, perkembangan baru secara pelan-pelan mulai terasa. Nilai – nilai tarbiyah adalah isi dari setiap program pembinaan anak-anak Punk Muslim.  Pengajian diisi dengan pengajaran makna dua kalimat syahadat, ma’rifatullah (jalan menuju Allah), ma’rifatul Rasul hingga membuat mereka memahami hakikat fitrah mereka sebagai seorang muslim (ma’rifatul insan). Selain itu, ada pula pelajaran Al-Qur’an dan As Sunnah yang ditanam ke dalam pemahaman anak-anak Punk Muslim.

Selain masalah keislaman,  anak-anak Punk Muslim juga diajarkan kemandirian dalam komunitasnya. Selain mengamen, Punk Muslim juga memiliki bisnis sablon, jual beli kayu bahkan bisnis barang daur ulang. Semua dikerjakan secara kolektif (bersama-sama). Alhasil dari sinilah banyak pemasukan keuangan Punk Muslim bisa digunakan untuk menyewa kontrakan.

“Akhir tahun 2012 ini Punk Muslim akan beli rumah sendiri untuk markas permanen. Doain ya..” jelas Zaki sambil tersenyum sumringah.

Kini, dalam perjalanan panjangnya semenjak 2007 hingga 2012,  telah banyak menyisahkan kenangan. Dari zaman almarhum Budi Chaeroni hingga kini perkembanyan terus pesat. Beberapa anak Punk Muslim telah menikah. Juga bertambahnya anggota-anggota baru di komunitas membuktikan bahwa kereta dakwah kecil ini harus tetap berjalan.

Tidak banyak harapan bagi Ahmad Zaki dan Ismeidas Makfiansyah terhadap komunitas  kecil ini. Mereka hanya ingin mereka berproses pelan-pelan. Dari punk menjadi Punk Muslim, lalu menjadi Muslim secara total alias meninggalkan dunia punk.

“Setahap demi setahap, seingat gue nasehat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam kepada salah satu sahabatnya yang bernama Handzallah,” jelas Zaki lagi kepada hidayatullah.com mengakhiri cerita perjalanan dakwah Punk Muslim.

Malam makin larut, mie rebus yang menemani obrolan kami dengan Zaki dan Ismeidas sudah lama habis. Sepanjang Jalan Pancoran sudah sangat sepi. Zakipun pamit, dan harus segera kembali ke rumah.*

Rep: Thufail Al Ghifari

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !