Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Kisah & Perjalanan

Kotak Hitam dan Muadzin Mesir

Masijd Muhammad Ali dan Qala'at Shalahuddin, Kairo.
Bagikan:

Hidayatullah.com–“Para muadzin adalah orang yang paling panjang lehernya nanti pada hari kiamat.”(HR. Muslim). Maksudnya, tatkala manusia sudah berdesak-desakan dan ketika keringat-keringat manusia sudah membanjiri mereka, bahkan ada yang keringatnya setinggi mulutnya, maka muadzin selamat dari semua itu karena lehernya yang panjang. (Syarh Muslim: 4/333, karya An-Nawawi). Namun apa jadinya, jika tugas muazdin yang mengumandangkan adzan di masjid-masjid diganti dengan sebuah kotak hitam kecil. Maka akan hilanglah keutamaan yang mereka harap-harap itu, berikut pahala dari Allah di hari akhir nanti.

Pada era Husni Mubarak, pemerintah Mesir memberlakukan ketentuan penyatuan adzan untuk wilayah Kairo. Tujuannya, mengurangi suara bising yang keluar dari pengeras suara masjid ketika waktu shalat tiba. Jika proyek percontohan itu lancar, maka akan diterapkan di seluruh penjuru negeri.

**

Pada suatu hari Kamis di bulan Agustus 2010, insinyur-insinyur dari perusahaan kontraktor pemerintah Arab Agency for Production, mendatangi masjid-masjid yang terletak di daerah Heliopolis, Kairo. Mereka membawa kotak-kotak hitam kecil yang tertera tulisan “Kementerian Wakaf” dalam warna putih.

Ketika itu hari kedua bulan Ramadhan, jadi tidak ada seorang pun yang makan sejak pagi hari. Para imam sibuk mempersiapkan keperluan untuk shalat tarawih. Sementara para muadzin menyambut kedatangan teknisi-teknisi itu, yang kemudian memasang kotak hitam tersebut di masjid mereka.

Para teknisi dengan sopan menjelaskan bahwa kotak-kotak itu akan menyala dan mati sendiri saat dan setelah adzan dikumandangkan. Jadi, tidak perlu disentuh sama sekali. Semua seruan adzan di Kairo dan Heliopolis akan terdengar serentak.

Sebelumnya, para muadzin sudah mendengar kabar bahwa adzan seantero Kairo akan disatukan, dengan meneruskan suara adzan dari Radio Kairo lewat kotak-kotak hitam tersebut. Tetapi, banyak yang mengira hal itu tidak mungkin menjadi kenyataan.

“Kami mengetahuinya dari koran. Tidak ada seorang pun yang memberitahu kami,” kata seorang muadzin.

Proyek “perang melawan mikrofon masjid” itu dilaksanakan oleh Menteri Waqaf Hamdy Zaqzouq. Selain untuk menyatukan kumandang adzan, hal itu dimaksudkan untuk mengurangi suara bising di kota Kairo yang semakin bertambah jumlah kendaraan dan bangunannya.

Zaman dahulu, muadzin harus menaiki tangga ke puncak menara untuk mengumandangkan adzan. Setelah ada pengeras suara, loudspeaker yang bertengger di pucuk-pucuk menara itu.

Udara Mesir yang lembab dan berdebu sangat tidak bersahabat dengan pengeras-pengeras suara. Debu menyumbat di sela-selanya. Maka ketika adzan dikumandangkan, bukan suara indah muadzin yang terdengar, melainkan bunyi yang tidak nyaman di telinga.

Antropolog Charles Hirschkind menilai suara-suara adzan di Kairo itu unik dan indah. Dia menyebutnya “pola interferensi di langit.”

Tetapi ada pula yang menyebutnya jelek. Salah seorang mahasiswi bernama Sama Mustafa pernah mengatakan bahwa suara adzan di Kairo sangat “menjengkelkan” dan “melengking”, sehingga membuatnya ingin mencakar kulitnya.

Berdasarkan studi tahun 2005, Kementerian Waqaf berkesimpulan bahwa suara adzan di Kairo terlalu keras. Di samping itu, banyak muadzin amatir yang mengumandangkan adzan seenaknya dari sudut-sudut masjid kecil tanpa ada pengawasan.

“Sayangnya, banyak suara yang tidak indah dikumandangkan oleh muadzin di lingkungan kita,” kata Salam Abdul Jalil, pengawas proyek “kotak adzan”. “Sebagian dari mereka mengumandangkan adzan lebih awal di banding yang lainnya, sehingga menyebabkan kebingungan.”

Satu kotak hitam yang dipasang di masjid-masjid itu berharga sekitar LE170, termasuk biaya pembuatan dan pemasangan. Proyek yang melibatkan 3.000 masjid di Kairo dan sekitarnya itu dikabarkan menelan biaya antara 600.000 sampai 1 juta pound Mesir. Jika proyek contoh di Kairo berhasil, maka akan diperluas ke kota-kota besar seperti Alexandria dan ibukota gubernuran lainnya.

**

Sebelum proyek itu dilaksanakan, pada tahun 2004 Universitas Al Azhar sudah menentangnya. Mereka menyebut ada campur tangan Amerika Serikat di sana. Dan kaki tangan Washington di Kairo, Presiden Husni Mubarak, ingin “membungkam agama.”

Maurice Chammah, salah seorang teknisi yang ikut memasang kotak hitam itu, belum lama ini mengunjungi sebuah masjid yang terletak di dekat Qala’at Shalahuddin, bentengnya Shalahuddin Al Ayyubi di Kairo.

Seorang muadzin menyapanya dengan ramah, sambil kemudian mereka duduk di lantai.

Saat ditanya tentang penyatuan kumandang adzan, suasana hati muadzin itu langsung berubah.

“Saya akan kehilangan pekerjaan,” jawabnya.

Dia kemudian mengajak Chammah menuju sebuah ruangan kecil di bagian utama masjid tersebut. Di dalamnya ada rak berisi perangkat elektronik. Lampu-lampu kecil warna hijau dan merah terlihat berkedap-kedip, dengan kabel listrik menjulur di dekatnya.

Muadzin itu lantas mengambil sebuah kotak hitam kecil dari rak.

“Banyak muadzin Radio Kairo yang suaranya jelek,” ujarnya.

“Lantas apa yang Anda lakukan?” tanya Chammah.

Muadzin itu meringis. “Saya cabut saja kotaknya.”

“Tidak ada yang menangkap Anda?”

“Tidak ada satu pun orang yang datang memeriksa sejak mereka memasangnya,” jawab muadzin.

“Seperti ini biasa terjadi?” tanya Chammah.

“Oh iya. Kami semua melakukannya,” jawab muadzin itu.

**

Waktu menunjukkan pukul 3:30 petang, waktunya shalat Ashar. Dari pengeras suara terdengar suara “Allahu Akbar… Allahu Akbar.”

Muadzin bergegas menuju ruangan kecil tadi. Tiba-tiba suara adzan itu lenyap.

Si muadzin muncul tidak lama kemudian. Dia berjalan menuju mikrofon, lalu mengambilnya. Dia lantas berdiri sambil menengadahkan sedikit kepalanya. Satu tangannya memegang mikrofon, tangan lainnya menutup satu sisi telinganya, lalu ia mengumandangkan adzan.

Suaranya terdengar bagus, meski sedikit merisik. Maklum, pengeras suaranya murahan.

Terdengar pula suara adzan dari masjid lain yang menyelinap masuk ke dalam ruangan masjid itu.

Setelah mengumandangkan adzan, muadzin itu lantas kembali ke ruangan kecil, untuk memasang lagi kotak hitam yang dicopotnya. Jaga-jaga, kalau tiba-tiba ada orang datang untuk memeriksa.

Bebeberapa hari kemudian, Chammah mengunjungi masjid lain yang terletak di seberang jalan masjid pertama. Dia bertanya kepada muadzin setempat tentang proyek penyatuan adzan. Orang itu menjelaskan, tidak ada lagi yang meneruskan proyek tersebut setelah terjadi revolusi, pergantian presiden dan masalah politik lainnya belakangan ini.

“Mereka memasang kotak itu sebelum revolusi,” cerita muadzin itu. “Tapi beberapa bulan kemudian kotaknya rusak, jadi saya yang mengumandangkan adzan sekarang.”

Chammah kemudian bertanya tentang masjid yang terletak di seberang.

Ia dan muadzin itu beradu pandang, saling menatap.

“Kotaknya dia rusak, sama seperti milik saya,” ujar muadzin itu.

“Rusak, ah yang benar?” tanya Chammah sengaja memancing pembicaraan, sebab ia tahu kotak hitam di masjid seberang tidak rusak.

Muadzin tersebut lantas mengerdipkan sebelah matanya.

“Iya,” ujarnya.

“Banyak yang rusak, jadi kami harus mengumandangkan adzan sendiri.” kata muadzin itu.***

Diceritakan kembali dari tulisan Maurice Chammah “One voice, many mosques: As call to prayer is unified, muezzins defy government orders” yang dimuat di Al Mishry Al Yaum (13/7/2012), dengan beberapa penyesuaian tanpa mengubah isi cerita.

Rep: Ama Farah
Editor: Dija

Bagikan:

Berita Terkait

Muslim di Barcelona Cemas Respon Anti-Islam

Muslim di Barcelona Cemas Respon Anti-Islam

Paus Benediktus XVI: Penanggalan Kristen Salah, Perayaan Natal Keliru

Paus Benediktus XVI: Penanggalan Kristen Salah, Perayaan Natal Keliru

Napak Tilas Pejuangan Jihad Pangeran Diponegoro [2]

Napak Tilas Pejuangan Jihad Pangeran Diponegoro [2]

“Baru Gempa Kecil Masya Allah, Bagaimana Jika Kiamat”

“Baru Gempa Kecil Masya Allah, Bagaimana Jika Kiamat”

Menabung dengan Sampah, Mengapa Tidak!

Menabung dengan Sampah, Mengapa Tidak!

Baca Juga

Berita Lainnya