Senin, 15 Februari 2021 / 3 Rajab 1442 H

Kisah & Perjalanan

Perjalanan Terakhir Seorang Murabi

Warga Kelantan akan mengenangnya dalam sejarah perjuangan umat Islam
Bagikan:

RIBUAN orang  dengan wajah-wajah  sedih  berjalan perlahan di bawah sinar surya pagi,  menjadikan suasana pemakaman pagi itu tidak terlalu panas. Di kiri kanan jalan ke pemakaman ribuan orang berjejal berdiri sejak pagi untuk memberi penghormatan terakhir buat sang murabi yang pergi mengadap Rabbnya. Ratusan kendaraan dipakir di kiri kanan jalan sehingga menjadi beberapa kilometer.

Di desa yang aman inilah tempat  tinggal  seorang murabbi yang sangat dikasihi umatnya, Datuk Ustadz Yahya Othman (73), yang kini  telah pergi selamanya.

Almarhum  dikenal sebagai, mantan Sekretaris Dewan Syura Ulama PAS yang menutup usianya jam 6.30 sore hari Kamis, 14 Juni 2012 lalu, di Kampung kediamannya Labok, Machang, kurang lebih 30 kilometer dari Kota Bharu melalui Jalan Kuala Krai.

Sebelum dikebumikan di tanah perkuburan, shalat jenazah pertama jam 8.30 pagi waktu Kelantan,  dengan imam Ketua Dewan Ulama PAS Kelantan, Datuk Mohamed Daud atau lebih akrab dipanggil Ustaz Daud Iraqi. Sementara sholat kali kedua di Masjid berdekatan rumahnya dengan imam Mursyidul Am PAS, merangkap Menteri Besar Kelantan, Tuan Guru Dato’ Abdul Aziz Nik Mat.

Kepergian tokoh murabbi  dari Partai Islam Semalaysia (PAS) ini ditangisi bukan saja anak-anak didiknya yang jumlahnya ribuan, yang kini sebahagian telah menjadi pemimpin partai dan pemerintahan, bahkan Gubernur Kelantan, Tok Guru Nik Abdul Aziz Nik Mat sendiri tak kuasa menahan air matanya.

Siapapun yang mengenali Almarhum pasti teringat bagaimana ia mambangun umat dengan program tajnid (pembinaan kader-kader dakwah PAS) yang dinilai sangat berkesan, sesuai dengan ilmu dan pengalamannya sangat luas yang diperolehi ketika  menuntut di Timur Tengah dan pernah diasuh langsung oleh ulama Al Ikhwan al Muslimun.

Sepanjang hidupnya Almarhum telah  mewakafkan diri untuk perjuangan Islam semenjak muda. Bahkan hingga tubuhnya mulai diserang penyakit dan umurnya telah  uzur, dirinya tak pernah surut dari medan amal Islami.

Almarhum merupakan  anak didik kepada Syeeikh Kamal Saniri, tokoh Ikhwanul yang telah mengalami pemenjaraan dan akhirnya syahid (InsyaAllah) akibat disiksa oleh regim Mesir kala itu. Bahkan jika beliau menziarahi tanah Jordan, biasanya Dr Muhammad Said Hawwa (anak Syeikh Said Hawwa) akan menjemputnya lansudng di bandara.

Beliau juga dikenal dekat dengan Syeikh Said Hawwa dan tokoh-tokoh besar Ikhwan yang terbuang, termasuk akrab dengan Dr Kamal Helbawi dan Dr Mohamad  Mehdi Akif.

Kali terakhir saya melihatnya ketika bersama mantan Mursyidul Am Al Ikhwan al Muslimun Mesir,  Dr Mehdi Akif  pada  suatu majlis di Balai Islam Lundang, Kota Bharu. Kala itu, tokoh Ikhwanul itu bersilaturahim ke Kelantan awal 2012. Beliau tampak uzur ketika itu, namum karena menhormat sahabat lama dan seperjuangan,  dipaksakan untuk hadir.

Selepas menamatkan sekolah dasar, pada 1947 almarhum dikirim kedua orantuanya belajar di  Darul Ulum al-Diniyah, Makkah (tamat 1958), seterusnya melanjutkan studi di Universiti Al-Azhar Asy-Syarif (jurusan Syariah wal Qanun) dan melanjutkan master bidang politik Islam.

Para masyaikh yang pernah menjadi gurunya langsung adalah; Al-Musnid Dunya Syeikh Yasin bin Isa Al-Fadani Rahimahullah (Guru yang paling dikasihi dan dicintai),  Syeikh Hassan Masyath Rahimahullah,   Al-‘Allamah Syeikh Al-Maliki Rahimahullah (Mufti Makkah, ayah kepada Al-‘Allamah Al-Muhaddis Prof Dr. Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki), Syeikh Amin Qtubi Rahimahullah,  Al-‘Allamah Syeikh Abdul Kadir Al-Mandiliy Rahimahullah, Syeikh Dr Mustafa As-Sibai’e Rahimahullah (Ketua IM Suriah).

Almarhum juga dikenal seorang  pencinta sastra dan bahasa. Menguasai syair-syair karya Taha Hussien, Mustafa Rifaie, al-Manfaluti dan sebagainya. Digelari ulat buku karena ketekunannya dan minat yang mendalam  terhadap berbagai buku, sehingga sanggup membelanjakan uang saku kiriman orangtuanya semata-mata untuk membeli buku.

Bahkan sanggup menahan lapar dan dahaga demi untuk memiliki sebuah buku yang diminatinya.

Ketika menuntut ilmu di Mesir, beliau  dilantik sebagai   anggota Biro Kesejahteraan di Asiosiasi Mahasiswa Melayu di Mesir tahun 1961 juga Sekretaris Biro Pendidikan tahun 1962 dan wakil mahasiswa Malaysia dalam Club Pelajar Internasional (tahun 1963).

Sekembalinya ke tanah air beliau menjadi seorang pendidik yang gigih dan merupakan pendiri Universitas Islam Antarabangsa Sultan Ismail Putra (KIAS), pengasas Ma’had Dakwah wa Imamah, serta pengasas dan pengarah Institut al-Nur.

Jasa lain beliau  adalah di balik  pendirian Ma’had Tahfiz Pulai Condong,  Ma’had Darul Quran Machang dan berbagai institusi pendidikan Islam di Negara Bagian Kelantan, Malaysia yang akan  tetap tercatat dalam sejarah perjuangan umat Islam khususnya dalam bidang pendidikan.

Dalam politik Islam (khususnya PAS). Allahyarham merupakan mantan  anggita Majlis Syura Ulama (pernah jadi sekretarisnya yang pertama) selain pernah menjadi anggota Komite PAS Pusat dan  Dewan Ulama PAS Pusat, juga  Presiden PAS Machang selama kurang lebih  20 tahun.

Pada Pemilu 1990 beliau memenangi kursi  dan dilantik  sebagai Exco Pendidikan  Kerajan Negeri Kelantan.  Satu  jawatan yang sangat sinonim dengan latarbelakang beliau sebagai seorang pendidik yang punya jaringan luas di peringkat internasional, khususnya di Timur Tengah. PAS  menobatkannya sebagai Murabbi PAS sepanjang zaman.

Menurut, Kamaruddin Omar (56) pihak keluarga,  sebuah sore Allahyarham memanggil seorang pembantunya, Ustaz Rosli Ismail untuk menulis kata-kata akhir bagi persiapan bukunya yang sedang ditulis.  Termasuk pesan dan wasiat. Tak lama seusai menyampaikan pesan, beliau tiba-tiba menghempus nafas di samping istri dan puterinya Suraya yang tinggal bersama di rumah.

Empat buku terakhir yang siap dicetak di antaranya “Taujid Tarbiah Gerakan Islam” dan “Himpunan Kertas Kerja Tarbiyah”.

Almarhum meninggalkan seorang janda, Habshah Hussin Rahimin dengan empat orang putri; Dr Salwa, Najwa (guru), Suraya dan Nidana (dosen).

Kepergiannya membuat Al Ikhwan Al Muslim Mesir turut kehilangan dengan ikut menyampaikan ucapan takziah melalui laman webnya yang berbunyi, “Semoga ruhnya ditempatkan bersama orang-orang yang beriman dan dan beramal shalih.” */Rossem, Kelantan, Malaysia

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Sisa Duka dari Pondok Jihad Wittiya

Sisa Duka dari Pondok Jihad Wittiya

Paus Benediktus XVI: Penanggalan Kristen Salah, Perayaan Natal Keliru

Paus Benediktus XVI: Penanggalan Kristen Salah, Perayaan Natal Keliru

Agar Trauma Tak Bertahan Lama di Donggala

Agar Trauma Tak Bertahan Lama di Donggala

Desa Bersejarah Ottoman di Bosnia

Desa Bersejarah Ottoman di Bosnia

Demi Impian Pulangkan Orang Tua jadi TKI, Ia Sulap Café jadi Tempat Belajar

Demi Impian Pulangkan Orang Tua jadi TKI, Ia Sulap Café jadi Tempat Belajar

Baca Juga

Berita Lainnya