Jum'at, 22 Oktober 2021 / 16 Rabiul Awwal 1443 H

Kisah & Perjalanan

Pemimpin yang Tak Pernah Menolak Undangan Pernikahan

Bagikan:

Hidayatullah.comPangeran Mahkota Arab Saudi Nayif bin Abdulaziz Al Saud wafat pada hari Sabtu di Jenewa, Swiss. Jenazahnya dimakamkan di Makkah setelah dishalati di Masjidil Haram pada Ahad malam (17/6/2012). Selama 79 tahun usia hidupnya, adik kandung Raja Abdullah itu meninggalkan kesan yang cukup mendalam di hati orang-orang yang mengenalnya.

Pangeran Naif menghabiskan seluruh hidupnya untuk melayani negaranya, kata Saleh Al Namalah, seorang anggota komite urusan luar negeri di Dewan Syura. Al Namalah berkata, Pangeran Naif akan dikenal terutama sebagai seorang “penjaga keamanan.”

“Dia akan berdiri paling depan menghadapi gelombang terorisme yang mengahantam, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga seluruh dunia,” kenang Al Namalah, sebagaimana dilansir Arab News.

Walaupun dikenal garang menghadapi aksi terorisme, Al Namalah menceritakan, Pangeran Naif adalah “seorang yang penuh kasih, yang mencintai orang-orang miskin dan kurang beruntung.”

“Dia tidak pernah menutup pintunya dari rakyat, dan menasehati para pemimpin di kawasan (Arab) untuk berbuat adil kepada rakyat dan memenuhi kebutuhan mereka,” cerita Al Namalah.

Sultan Al Angari, seorang penulis dan peneliti bidang keamanan, menceritakan bagaimana Pangeran Naif berupaya menjadikan Saudi sebagai negara bebas narkoba.

Pangeran Naif membentuk Departemen Umum Pengendalian Narkotika langsung di bawah Kementerian Dalam Negeri yang dipimpinnya.

“Saya ingat suatu kali pernah rapat di kementeriannya dari pukul 3 sampai 4 pagi,” kata Al Angari. “Dia meninggalkan kantor hanya untuk shalat subuh dan dia adalah orang yang selalu terakhir keluar.”

Menurut Al Angari, Pangeran Nayif selalu berupaya membangun pertahanan keamanan dalam negeri yang kuat dan melengkapinya dengan teknologi canggih, serta pelatihan berstandar internasional. Berawal dari Kementerian Dalam Negeri, banyak kementerian lain yang lahir di bawah pengawasan Pangeran Naif.

Gemar bersedekah

Pangeran mahkota Saudi yang satu ini selalu menggelar pertemuan rutin dengan para pemimpin publik dan pemimpin suku yang ada di Saudi.

Uniknya, ia tidak pernah menolak undangan pernikahan.

“Saat dia tidak bisa datang ke sebuah acara pernikahan karena ada pekerjaan, dia mengutus putra-putranya atau asistennya untuk menyampaikan ucapan selamat kepada keluarga bersangkutan,” kenang Al Angari.

Pangeran Nayif juga tidak pernah menolak kedatangan orang-orang yang meminta bantuan finansial darinya untuk biaya pernikahan.

Sami Badawud, direktur jenderal di Direktorat Urusan Kesehatan di Jeddah, mengatakan bahwa ia mendengar kabar kematian pangeran mahkota saat rapat di kantor. Ia dan rekan-rekannya tidak sanggup meneruskan pertemuan mereka begitu mendengar kabar tersebut.

“Kami terkejut dan kehilangan konsentrasi. Bahkan rapatnya kami hentikan,” kata Badawud.

Badawud mengenang Pangeran Nayif sebagai kepala Komite Haji di Kementerian Dalam Negeri. Dia mengatakan, pangeran Saudi itu sangat peduli dengan keselamatan para jamaah.

“Pangeran mahkota mendorong agar semua upaya dikerahkan untuk memberikan layanan kesehatan terbaik bagi jamaah, dan memastikan mereka nyaman dan sehat selama berkunjung,” katanya.

Pangeran Nayif, cerita Badawud, sering membayar biaya perawatan jamaah di rumah-rumah sakit pemerintah dengan uang dari koceknya sendiri.

Cinta ilmu

Abdullah Al Hussain, rektor Universitas Darul Ulum, mengatakan bahwa Pangeran Mahkota Naif sangat mencintai ilmu pengetahuan. Dan ia adalah pria relijius yang bersungguh-sungguh melayani Islam dan memberdayakan para ulama.

Menurut Al Hussain, Pangeran Nayif membuka pintunya lebar-lebar untuk para ilmuwan.

“Dia mendengarkan tuntutan mereka dan membicarakan masalah-masalahnya,” cerita Al Hussain.

Pangeran Nayif adalah orang pertama yang mensponsori pemberian pemghargaan internasional untuk penelitian tentang sunnah Rasulullah dan studi Islam kontemporer.

Pangeran Nayif juga mendukung pemberian penghargaan bagi para penghapal hadits.

Al Hussein menceritakan, pangeran mahkota tidak pernah menghindari ulama atau pelajar yang mencari ilmu. Bahkan, jika itu berarti ia harus menanggung biaya pendidikan mereka selama bertahun-tahun.

“Pangeran membiayai banyak mahasiswa Saudi dan non-Saudi yang menuntut ilmu, baik di dalam maupun di luar kerajaan,” kata Al Hussain.

“Dunia Muslim kehilangan seorang pemimpin keamanan sekaligus pemimpin agama,” imbuh Al Hussain.

Pangeran Nayif dilahirkan pada tahun 1933. Ia merupakan putra tengah dari para pengeran Saudi yang dikenal dengan Tujuh Sudairi, putra-putra Raja Abdulaziz dari istri tersayangnya Putri Hassa Al Sudairi. Saudara laki-lakinya yang satu ibu antara lain, Raja Fahd (wafat tahun 2005), Pangeran Mahkota Sultan (wafat 2011) dan Gubernur Makkah Pangeran Salman.*

Rep: Ama Farah
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Belajar dari Nenek Yusuf dan Kegigihan Para Wanita Pengejar Ilmu

Belajar dari Nenek Yusuf dan Kegigihan Para Wanita Pengejar Ilmu

Teriak Allahu Akbar, Kepalkan Tangan, Lalu Tugas ke Daerah

Teriak Allahu Akbar, Kepalkan Tangan, Lalu Tugas ke Daerah

“Allah Tak Pernah Menciptakan Produk Gagal”

“Allah Tak Pernah Menciptakan Produk Gagal”

Para Pelopor Dakwah dari “Warung Udik”

Para Pelopor Dakwah dari “Warung Udik”

Ratko Mladic “Tuhan Serbia” Penjagal Muslim Bosnia (Bagian 1)

Ratko Mladic “Tuhan Serbia” Penjagal Muslim Bosnia (Bagian 1)

Baca Juga

Berita Lainnya