Warna-Warni Papua:

Dari Tikungan Kiri dan “Gagalnya” Misionaris di Papua

Jika tuntukan ‘Papua Merdeka’ terjadi, satu-satunya pilihan kaum Muslim ya cuma jihad!

Dari Tikungan Kiri dan “Gagalnya” Misionaris di Papua

Terkait

ALHAMDULILLAH, pertengahan bulan Februari 2012 Allah Ta’ala memberi kesempatan saya untuk menginjakkan kaki di tanah Papua, bumi bagian timur Indonesia.

Banyak hikmah dan pelajaran yang bisa saya teguk, dari bilik bagian i’tiqod hingga bilik bagian kesadaran politik.Yang tidak ketinggalan, ada cerita yang menjadi bagian dari serambi pengalaman berkelana kali ini.

Membaca “logika-logika” yang tidak biasa, menggelikan dan mengusik ketenangan rasa. Intinya saya mau berbagi sedikit warna dari benua Etam-Papua yang sempat saya rekam dalam guratan pena dan yang bisa di share untuk semua hehehe..

Saat di bandara Jayapura, saya segera meluncur ke arah Abepura, sambil merebahkan badan untuk menghilangkan penat setelah semalaman perjalanan di atas kegelapan langit Indonesia Timur.

Alhamdulillah, sekalipun cuaca panas namun tempat sahabat saya ustad Ali Husein sudah menjadi “tenda” yang lebih dari cukup untuk menghilangkan semua kepenatan safar kali ini. Bahkan tempat nginap bukan di hotel atau semisalnya ternyata secara tidak sengaja menjadi jawaban atas kegelisahan seorang tokoh Muslim ketika bertanya kepada saya usai sebuah diskusi di Jayapura; “Antum nginap di mana?’. “‘Saya nginap di rumah saudara, bukan di hotel.” Dia begitu cepat merespon, “Alhamdulillah, kalau sampai nginap di “Manukwari” (maksudnya hotel) saya tidak percaya lagi dan tidak layak seorang dijuluki pejuang kalau dia menginap di tempat-tempat seperti itu,” ujarnya.

Entahlah, bagi saya, menginap di rumah akhi Ustad Ali Husein lebih dari sekadar bisa menggugurkan kegelisahan seseorang tentang gaya hidup. Namun bisa banyak menyambung tali silaturrahmi. Selama beberapa hari, tiap malam kami menghabiskan sharing banyak hal hingga larut malam. Bahkan badan ini baru menyentuh bibir ranjang di saat jam sudah menunjuk pukul 01.00 WIB (03.00 waktu Papua) dan saya harus bangun untuk solat subuh dua jam berikutnya.

Rasanya jam biologis saya masih belum bisa beradaptasi dengan baik. Tapi tidak masalah, sebab dari tiap diskusi, Allah Subhanahu Wata’ala selalu membuka kesadaran saya tentang sesuatu yang baru.

Di antaranya yang unik, Ustad Ali bercerita, kalau tetangga sebelahnya adalah orang Papua asli. Dan kebiasaan tetangga tersebut –seperti halnya kebanyakan masyarakat Papua asli yang masih non-Muslim– kalau ada uang maka jarang tidur di rumah, lebih sering mereka tidur di tengah jalan, pinggir jalan atau di pingir parit.

Lho kok bisa? Iya, menu sehari-hari yang paling mereka cintai adalah mengunyah pinang dan sirih, tidak lupa mabuk.

Sisi unik lainnya, jika di Jakarta atau kota-kota lainya, khususnya di tempat publik seperti bandara atau stasiun ada tulisan “No Smoking”, maka di Papua, di tempat-tempat umum seperti bandara atau kantor resmi pemerintah akan tertampang tulisan, “Dilarang meludah sembarangan.” Agak berbeda tipis dengan di Jawa yang sering ada tulisan, ”Dilarang Kencing Sembarangan, kecuali Anjing.” Hehehe

Tentu rasa penasaran saya bertambah, mengapa mereka tidur di pinggir jalan jika punya uang? Jawabannya ya karena habit (kebiasaan) suka mabuk dan minuman keras (khomr) telah menjadi bagian dari hidup mereka.

“Tidak afdhal jika tidak mabuk, “ begitu jawaban yang saya dengar.

Ustad Ali bercerita. Suatu hari ia menyaksikan pemandangan yang “menarik” dan berlanjut kepada “opera sabun” yang menggelitik. Tentangganya, di suatu pagi terlihat tergeletak di pinggir parit dengan kepala menjulur terperosok parit depan rumah. Rupanya, sanga istri terlihat berang (rupanya fitrah semua manusia tidak suka dengan perbuatan yang sia-sia dan merusak diri) dan segera membangunkan sang suami yang masih telungkup.

“Bangun..bangun…bangun…!” disertai omelan yang tak kalah dengan rancuan orang yang mabuk.

Dalam keadaan setengah sadar dan masih juga bertubi-tubi dihujani kemarahan sang istri. “Mabuk saja kau punya kerja!!!…mabuk..mabuukk…tak ada habisnya!”

Di luar dugaan, sang suami menatap tajam ke arah istrinya dengan kesadaranya yang mulai genap 90%.

”Kau kira mabuk itu tidak capek kah?!

Rupanya, jawaban itu juga disertai bogem sang suami dan tendangan kepada sang istri.

Wajib Kondom

Di sela-sela waktu senggang, saya menyempatkan jalan-jalan sambil mencari menu makan siang yang halalan wa toyyiban (halal dan baik). Saya segera meluncurlah ke arah Sentani, di dekat bandara Undara, guna berburu Cotto Makasar versi Papua. Jalan cukup halus dan sedikit berkelok mengikuti kontur bukit yang mengelilingi danau Sentani yang sangat eksotik dan luas.

Tapi ada satu tempat di mana banyak orang begitu mudah memahami maksud di balik nama tempat tersebut. Nama itu adalah “Tikungan Kiri” yang berada di jalur Abepura-Sentani, sebuah lokasi dipinggir danau Sentani dengan beberapa bangunan rumah dan fasilitas kafe dan posisinya di jalan menikung.

Hanya saja, sampai saya kembali ke Jakarta, tidak ada yang bisa menjelaskan asal usul penyebutan “Tikungan Kiri” tersebut.

Yang jelas, di “Tikungan Kiri” ada jalan (lorong) masuk dan gapura sebagai pintu masuknya.

Di atas gapura ada tulisan terpampang jelas, “Selamat Datang – Anda Memasuki Daerah 100% Wajib Kondom”.

Usai memahami pesan ini, saya jadi teringat nama “Kramat Tunggak” Jakarta atau “Sunan Kuning” di Semarang dan “Gang Dolly” di Surabaya.

Kabarnya, di Papua, bisnis “esek-esek” ini adalah sesuatu yang legal dan aparat juga tidak sungkan mengutip pajak dari bisnis orang-orang yang menjual “cinta” laki-laki hidung belang. Yang tak kalah memprihatinkan, pemilik dan pengelola “Tikungan Kiri” justru banyak warga “Medunten” (bahasa kromo orang Jawa untuk warga Madura). Saya lebih suka menyebutnya Muslim Madura, bukan Madura Muslim karena konskuensinya bisa berbeda.

Bahkan saya dengar dari penuturan kawan warga keturunan Madura, sang pengelola itu juga sudah haji. Nau’udzu Billah min Dzalik.

“Tikungan Kiri” hanya satu dari tempat legal-formal yang terpantau dari mata kita. Padahal, di luar tempat itu ada budaya legal yang berjalan hingga saat ini; budaya “kumpul-kebo”, di mana seseorang bisa tinggal satu kos, satu kontrakan, satu rumah hingga beranak-pinak tanpa ikatan nikah sepanjang mereka suka. Jika dianggap melanggar adat oleh sebagian suku, paling mereka hanya kena denda dengan beberapa ekor babi atau “beulis”. Seperti juga terjadi di daerah Kupang-NTT. Di mana jika menikah, uang maharnya cukup mahal dengan ukuran sekian ekor babi apalagi kalau dapat seorang wanita yang sudah mengenal salon kecantikan atau wanita yang sudah menggunakan tatanan menarik, seperti rambut telah re-bounding.

Di sesi yang berbeda, saya masih ingat dalam sebuah Talk Show di Jayapura mendedah masalah polarisasi umat Islam oleh BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme). Ada seorang Papua asli yang Muslim mengajukan pertanyaan bagaima jika warga Muslim Papua memilih referendum dan merdeka.

Saya menjelaskan dengan bahasa agak cair. “Kalau bapak menuntut merdeka, maka itu akan lebih berbahaya dan memudahkan Amerika mengangkangi alias menjajah tanah Papua.”

Saya merasa puas karena melihat penanya mulai mengangguk dengan jawaban saya. Tapi entahlah apakah dia puas atau tidak karena kenyataanya tidak sedikit Muslim Papua juga ikut arus politik Papua Merdeka hanya karena “ketidaktahuannya”.

Missionaris asing

Saya juga sempat masuk wilayah perbatasan Indonesia-Papua Nugini, bahkan sempat masuk ke wilayah Papua-Nugini ditemani seorang anggota Kostrad. Lumayan, bisa melihat bagaimana para missionaris asal Australia berlalu-lalang yang ingin berbelanja di pasar Indonesia yang dibuka hanya dua hari dalam sepekan; hari Selasa dan Jumat.

Pengamatan saya, para missionaris dengan “Injil” yang diusung untuk bumi Papua, faktanya tidak merubah apapun dari kehidupan masyarakat asli. Para missionaris hanya menambah beban budaya peribadatan yang tidak jauh beda dengan kemusrikan (dinamisme dan animism) yang di peluk oleh orang asli Papua.

Kultur masyarakat asli Papua –baik di wilayah keyakinan, muamalat, gaya hidup dan cabang-cabangnya—justru tidak berubah dan tidak mampu dirubah sama sekali oleh kehadiran mereka. Agama yang dibawah missionaris di Papua masih sekedar “topeng” kepentingan politik imperialisme Eropa dan Barat. Kondisi ini makin parah dengan kebijakan otsus dari pemerintah pusat (Jakarta) yang tidak efektif.

Ibaratnya, karena menebarkan uang triliunan rupiah dalam cawan yang bocor rusak berkarat dan orang-orang yang opuntunir.

Ada kesan, “Kristen” hanya menjadi “klaim politik” dominasi kepentingan imperialism Barat namun di bahasakan dengan halus dengan identitas Papua yang berbeda dengan Indonesia. Suatu manipulasi yang culas para missionaris di negeri-negeri Muslimin termasuk Indonesia.

Sebelum pulang, saya sempat berpesan kepada kawan-kawan Papua tentang kemungkinan konstalasi politik ke depan. Papua Merdeka dengan jalan referendum adalah sebuah perkara yang niscaya. Sebelum saya tulis ini, persolan ini juga sudah saya tabayun-kan dengan seorang petinggi Polri tentang adanya dokumen Road Map jika Papua Merdeka. Rupanya, intuisi saya tidak salah. Sebab jika Papua betul-betul “Merdeka”, umat Islam harus berjihad, karena tidak ada pilihan lain. Maklum, pintu keluar dari Papua cuma bandara dan pelabuhan. Dan itu tidak mudah untuk dijangkau mengingat harus bisa menyapu semua rintangan yang besar kemungkinan akan dibuat oleh orang-orang Wamena di sepanjang jalan Sentani.

Sejauh ini, para pemimpi ‘kemerdekaan’ sudah memetakan orang-orang non-Papua (pendatang) dalam katagori: pendatang rakyat biasa yang Muslim, pendatang birokrat-Muslim, pendatang pedagang-Muslim dan pendatang aparat-Muslim, di mana, semua akan menjadi sasaran “tembak” atau “killing etnic” jika keinginan itu terjadi.

Meski tidak bisa tuntas sekarang (dalam tulisan ini), sejauh ini, dalam peta kekuatan ‘para pendamba kemerdekaan’, jelas-jelas ada aroma pertarungan Eropa (Belanda)-Amerika, Austalia, keterlibatan gereja dan LSM asing yang memanfaatkan mayoritas masyarakat asli Papua yang masih banyak mengalami keterbelakangan ekonomi dan pendidikan.

Yang agak aneh, justru saya melihat pihak pemerintah Jakarta “kurang serius” mengurus isu “referendum Papua” ini. Di saat saya di Abepura, saya melihat dengan mata dan kepala sendiri demo dengan tuntutan referendum dengan mengibarkan bendera “Bintang Kejora” yang terkesan didiamkan. Bahkan jika ada yang melakukan tindakan tegas malah dapat “demosi”. Sungguh aneh!

Masih banyak lagi cerita yang mau saya torehkan. Tapi ya sudahlah, sementara cukup ini saja. Terimakasih sudah mau membaca dan berbagi, semoga ada ibrah yang bisa kita petik dari oleh-oleh dari safar (perjalanan) ke Papua kali ini. Barakallahu fiikum ajmaiin.*/Harits Abu Ulya, Leader CIIA (The Community Of Ideological Islamic Analyst)

Keterangan Foto: Mansinam Island, Pusat Penginjilan Pertama di Papua. (herusustyo.com)

Rep: Cholis Akbar

Editor: Cholis Akbar

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !