Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Kisah & Perjalanan

Belajar pada Sariban

Bagikan:

SAYA sudah menduga, perjalanan menuju kantor hari-hari ini akan memakan waktu lebih lama. Sebab, musim hujan yang disertai angin kencang kini akrab menyapa warga Jakarta. Selain banjir, proyek penggalian tanah untuk gorong-gorong, robohnya baliho, juga puluhan pohon tumbang menambah daftar kemacetan jalan-jalan di Jakarta. Namun, yang memprihatinkan saya adalah banyaknya sampah yang menumpuk di pinggir jalan, bahkan sebagian ada yang tercecer di bahu jalan.
 
Melihat pemandangan seperti itu, saya teringat sosok Sariban, Relawan Peduli Lingkungan Hidup Bersih (RPLHB) Kota Bandung, Jawa Barat.

Setiap hari, Sariban mengayuh sepeda kumbang warna hitam warisan zaman Belanda menyusuri sudut-sudut Kota Bandung. Tugasnya sangat mulia yaitu membersihkan sampah. 

“Saya melakukan pekerjaan ini karena cinta kebersihan,” ujar pria kelahiran Magetan Jawa Timur, 7 Agustus 1943 ini.
 
Kepedulian terhadap lingkungan rupanya telah menyatu dalam jiwa Sariban. Meski usianya telah lanjut, warga Jalan Terusan Cikutra Barat, RT 05/20 Cikondang, Kecamatan Coblong Kota Bandung ini masih saja berkarya demi kebersihan dan keindahan Kota Bandung.
 
Setiap hari, sebelum berangkat Sariban melakukan persiapan dengan membuat jadwal berupa peta jalan yang akan dilaluinya. Juga tak lupa selalu membawa sapu lidi, keranjang sampah, sekop sampah, linggis, tang, dan palu. Selain itu, ada asesories lain yang menghiasi sepedanya seperti bendera merah putih ukuran kecil.
 
Ia memakai baju kuning khas petugas kebersihan. Ia menyapu sampah, membersihkan spanduk ilegal, pamflet dan paku-paku yang menancap di pohon. Pekerjaan ini dimulai pada jam 8.00 hingga 14.00.
 
Jika akhir-akhir ini heboh dengan ranjau paku yang ditebar di beberapa jalan di Jakarta, dan konon sudah dibersihkan oleh beberapa relawan, lain lagi yang dilakukan Sariban. Yang unik dilakukan Sariban adalah membersihkan paku-paku yang menancap di pohon.
Menurut Sariban, sejak Agustus 2003 hingga Mei 2007 saja, paku yang telah terkumpul jumlahnya mencapai 14 karung beras. Masing-masing karung berisi 25 kilogram paku.
“Orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu memasang spanduk, pamflet atau pengumuman di pohon dengan cara memakunya. Pohon itu jangan disakiti dan dilukai, tapi harus dijaga dan dipelihara,” kata Sariban prihatin.
  
Pria yang mempunyai motto: ”Kerja keras nampak hasilnya” ini pada 1988 pernah berkeliling Jawa dengan sepeda kumbang pemberian Kepala RS Mata Cicendo. Pada 1992, sepeda kumbangnya itu dikayuhnya lagi dari Bandung ke Bali. Tujuannya sama, yakni melakukan kampanye kebersihan lingkungan. 
 
Kenapa Pak Sariban tertarik menggeluti dunia sampah? “Allah itu indah, dan mencintai yang indah. Allah itu bersih, dan mencintai yang bersih,” tegasnya.
 
Ternyata, tugas mulia yang dilakukan Sariban tidak selamanya berjalan mulus. Banyak rintangan dan tantangan yang harus dihadapinya. Bukan saja dari masyarakat, tapi juga dari istri, anak, dan keluarganya sendiri. Namun, lambat laun akhirnya mereka mengerti.
 
Bahkan pernah muncul tuduhan bahwa dirinya orang gila. Meski demikian, ia mengaku tidak sakit hati dan tetap bekerja pantang menyerah. Malah, tudingan itu menjadi pendorong baginya untuk terus berkarya. “Saya biarkan mereka mau ngomong apa saja. Saya yakin, setiap yang menanam kebaikan akan berbuah kebaikan pula,” katanya.
 
Akhirnya, perjuangan itu membuahkan hasil. Sariban mendapatkan berbagai penghargaan dibidang lingkungan, di antaranya dari Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim pada 1988.  
 
Berbagai penghargaan yang ia peroleh tidak membuatnya besar kepala. Ia tetap sederhana dan polos.
“Saya senang, tapi bukan berarti akhir dari perjuangan,” katanya bersemangat.
 
Cintanya kepada kebersihan lingkungan seolah membuat Sariban lupa dengan usianya. Usia yang senja tak menghalanginya memberikan yang terbaik untuk lingkungan. Sungguh, sebuah pelajaran yang perlu ditiru dari pejuang kebersihan, tentang keikhlasan, kesungguhan, dan kegigihan yang ditampilkan oleh Sariban. Sosok yang kecil namun memiliki cita-cita yang besar.
 
Saya malu pada Sariban. Saya juga malu pada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah  memberikan banyak kenikmatan dalam kehidupan saya. Tetapi, semangat saya kalah dibandingkan dengan seorang kakek renta yang kini berusia 69 tahun itu. Saya hanya berdoa, semoga masih ada hari esok bagi saya untuk bisa berbuat yang terbaik untuk orang lain.
 
Teriakan Sariban, ”Ayo jaga kebersihan….ayo jaga lingkungan……!” ketika berkeliling Kota Bandung memotivasi saya untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan.
 
Masih senang membuang sampah sembarangan?. */Dadang

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Menengok Muslim Lakemba, Australia

Menengok Muslim Lakemba, Australia

Deklarasi ‘Perang’ terhadap Produk Asing

Deklarasi ‘Perang’ terhadap Produk Asing

Seorang Anak Yatim Korea dan Tentara Turki: Kisah Ayah-anak yang Tidak Biasa

Seorang Anak Yatim Korea dan Tentara Turki: Kisah Ayah-anak yang Tidak Biasa

Kewalahan Siasati Kebutuhan Hidup sejak Tiga Bulan

Kewalahan Siasati Kebutuhan Hidup sejak Tiga Bulan

Lembaga “Penaut Hati” yang  Selalu Diminati (2)

Lembaga “Penaut Hati” yang Selalu Diminati (2)

Baca Juga

Berita Lainnya