Selasa, 2 Maret 2021 / 19 Rajab 1442 H

Kisah & Perjalanan

Pengalaman Merantau ke Rantau

Bagikan:

HARI Ahad (15/01/2012), cuaca cukup bersahabat, tidak ada panas tidak pula turun hujan. Sepertinya, mentari enggan menampakkan keelokannya. Awan tebal menyelimuti bumi Rantau*.

Setelah menempuh tiga jam perjalanan dari Banjarmasin dengan naik taksi (angkutan umum), pada pukul 12.00 waktu setempat, saya tiba di masjid Nurul Falah atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Dulang. Tak lama, seorang sahabat saya di pesantren, Musthafa bin Husain As Seggaf, datang menjemput dengan kendaraan roda dua miliknya yang baru ia beli.

Sepanjang perjalanan menuju tempat menginap, kami saling bertanya kabar masing-masing. Tentang istri, ank dan keluarganya.

Saya menginap beberapa malam. Musthafa bercerita tentang dunia dakwah di Rantau. Menurutnya, masyarakat di sini cukup akrab dengan kegiatan kerohanian dan aktif dalam menghadiri majelis ilmu.

“Alhamdulillah, di sini sikap saling mendukung antara kalangan ulama dan umara berjalan dengan baik,” ujarnya.

Kegiatan dakwah yang berjalan banyak mendapat dukungan dari aparatur pemerintah dan pengusaha sukses. Sudah menjadi rahasia umum, para tuan guru di Rantau khususnya sangat dihormati dan disegani oleh para pejabat dan pengusaha. Dukungan ini bisa berwujud moril maupun dana.

“’Perkawinan’ antara ulama dan umara menciptakan kondisi kehidupan dalam masyarakat yang bersendikan nilai-nilai keislaman,” ujar Musthafa.

Para pengusaha misalnya, tidak segan menggelontorkan dana untuk kegiatan Islami, majelis dakwah, pembangunan mushalla, masjid, sampai pesantren.

Di tempat ini, di Rantau, para Tuan Guru yang mengajar adalah jebolan pesantren salafiyah, seperti pesantren Darus Salam, Martapura. Mereka membuka lapangan pengajian di tengah-tengah masyarakat dengan ilmu yang telah mereka peroleh di pesantren.

Kondisi Rantau sendiri relatif masih sangat sepi. Penduduknya terbilang sedikit. Menurut Musthafa yang berasal dari Gresik, Jawa Timur dan kini merantau di Rantau ini, mayoritas penduduk Rantau tidak terpusat di tengah kota, tapi di pelosok. Banyak dari masyarakat yang lebih memilih tinggal di perkampungan.

Sekilas, Rantau tampak sunyi senyap, apalagi saya datang di hari libur. Ketika saya masuk ke pedalaman, barulah saya menyaksikan pemukiman penduduk yang cukup padat.

Rumah-rumah penduduk kebanyakan terbuat dari kayu yang disusun sedemikian rupa sampai membentuk tempat tinggal. Masyarakat Rantau mayoritas berprofesi sebagai pekerja di batu bara, perusahaan karet, atau petani yang bercocok tanam sayur-sayuran, padi, buah-buahan, dan sebagainya.

Tentang dunia majelis ta`lim, sama seperti majelis di tempat umum. Di tempat ini, ta’lim biasa diadakan secara rutin pada tiap hari, tiap pekan, atau bulanan.

Salah satunya, majelis yang diasuh oleh Guru Ahmad Barmawi. Ahmad Barmawi dan keluarganya merupakan keluarga terpandang yang sudah dikenal luas oleh masyarakat sekitar sebagai keluarga yang malang melintang dalam dunia dakwah.

Guru Barmawi memiliki majelis harian, mingguan, dan bulanan. Ada yang khusus laki-laki, perempuan, dan ada pula untuk laki-laki maupun perempuan. Setidaknya, ada 3-4 majelis pengajian yang diasuh di setiap pekannya. Jumlah yang hadir berkisar antara 1000 hingga 2000 orang.

Para jamaah yang datang pun tidak hanya dari Rantau, banyak juga yang datang dari luar Rantau seperti, Barabai dan Kandangan. Para jamaah yang datang ada yang mengendarai sepeda motor masing-masing, ada pula datang dengan menyewa satu mobil pick up berisi rombongan pengajian yang terdiri dari suami, istri, anak-anak, sampai cucu-cucu sekalipun. Mereka rela merogoh kocek lebih dalam demi menimba ilmu yang akan membawa kebahagiaan bagi mereka di dunia sampai akhirat. Selain mengasuh pengajian, Ahmad Barmawi membangun pesantren yang ia beri nama Darul Mustafa, dengan bangunan khas masjid-masjid di Hadramaut, Yaman.

Selain Darul Musthafa, pesantren lainnya yang telah menancapkan jasa besarnya dalam mencerahkan kalbu umat adalah pesantren Subulus Salaam. Pesantren ini, didirikan pada tahun 1985 oleh Guru Muhammad Aini. Walau masih berumur jagung tapi manfaat yang dihasilkan olehnya telah dapat dirasakan secara langsung.

Yang menggembirakan pula, di tiap Langgar/Mushalla yang ada di tiap kampung selalu ada pengajian. Kitab yang biasa diajarkan ke masyarakat adalah buku-buku tasawuf seperti “Siyarus Salikin” karya Syaikh Abdus Shamad Al-Falimbani, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu sekaligus ditulis dengan huruf Arab pego.

Tidak sedikit, para Tuan Guru yang mengajar ini membawakan buku karya Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad seperti “Risalatul Mu`awanah”, “Sabiilul Iddikar”, dan kitab-kitab Imam Abdullah lainnya. Sedangkan, dalam bidang akidah kitab yang dibaca karya Habib Utsman bin Yahya. Bahkan, salah satu distributor majalah kita ini, Muhammad bin Husain As Seggaf, juga mengasuh sebuah pengajian yang diisi dengan pembacaan kitab “Nailur Raja`”, sebuah kitab yang membahas fiqih. Pengajiannya dihelat tiap Kamis malam Jum`at selepas shalat magrib.

Pada umumnya, pengajian yang digelar diawali dengan pembacaan maulid ‘Simtud Durar’ karya Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi. Setelah rampung membaca maulid, Tuan Guru menyampaikan ilmu dari kitab-kitab di atas. Setelahnya, mereka membaca tahlil (Laa Ilaaha Illa Allah), tasbih, ayat kursi, surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An Naas. Dalam kegiatan tahlil ini, para sesepuh menyodorkan kertas yang berisi nama-nama yang telah wafat dari saudara-saudara mereka untuk mendapat doa.

Selain itu, di Rantau terdapat makam seorang ulama Syaikh Salman Al-Farisi. Beliau seorang ulama yang hidup antara tahun 1279 – 1350 H (1857-1920 M). Makamnya terletak di desa Gadung. Di atas makamnya dibangun sebuah kubah dan menjadi Wisata Ziarah Kabupaten Tapin.

Selebihnya, Rantau masih terus berbenah, membangun, dan melengkapi fasilitas-fasilitas pelayananannya bagi masyarakat. Satu hal yang membuat saya kagum dengan kota ini, nuansa religi kental terlihat. Hal itu bisa dilihat dari ayat-ayat al-Qur`an yang dipasang di berbagai sudut, yang isinya tentu saja mengajak dan memotivasi masyarakat untuk membangun Rantau dengan tidak melepaskan diri dari agama Islam.*/Ali Akbar Bin Agil

*Rantau berada di Kabupaten Tapin adalah salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Selatan.

Rep: Cholis Akbar
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Rohizan, ‘Manusia Kucing’ asal Selangor

Rohizan, ‘Manusia Kucing’ asal Selangor

Masuk Islam karena Sering Dengar Suara Adzan

Masuk Islam karena Sering Dengar Suara Adzan

Kisah Soltan Merasakan Penjara Rezim Al-Sisi di Mesir [1]

Kisah Soltan Merasakan Penjara Rezim Al-Sisi di Mesir [1]

Masjid al-Istiqomah  Paling Makmur se-Kabupaten Kuningan

Masjid al-Istiqomah Paling Makmur se-Kabupaten Kuningan

Lembaga “Penaut Hati” yang  Selalu Diminati (1)

Lembaga “Penaut Hati” yang Selalu Diminati (1)

Baca Juga

Berita Lainnya