Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Kisah & Perjalanan

Belajar Qana’ah dari Pemulung Sampah

Bagikan:

BANGUNAN itu tidak layak dikatakan rumah. Lebih cocok disebut gubuk reot. Selain sangat kecil, ukuranya sekitar 7 x 5 m. Tingginya setara dengan kepala pria dewasa saat berdiri. Dindingnya terbuat dari gedhek dan papan kayu yang terlihat sudah bolong di sana-sini. Tiangnya terbuat dari sambungan-sambungan kayu. Bentuknyapun, sudah condong. Segera akan roboh bila ada kerbau mengamuk lewat. 

Gubuk reot ini, tak lain milik sepasang suami istri, Muhammad Fauzan dan Paimah. Mereka menempatinya sejak tahun 1986. Karena takut roboh, gubuk reot itu ditinggalkannya teronggok tak diurus.

“Untuk sementara waktu, tinggal rumah saudara tak jauh dari sini. Dari pada tinggal di sini bisa mati kerobohan,” ujar pria asal Malang, Jawa Timur ini kepada hidayatullah.com, Kamis, (14/10/2011) siang lalu. 

Usia gubuk Fauzan dan Paimah sudah 25 tahun. Karena tidak pernah direnovasi –apalagi bahan pembuatannya dari barang bekas semua– kondisinya lambat laun mulai rapuh dan mau roboh. Fauzan sendiri belum punya modal cukup untuk merenovasinya. Satu-satunya yang dia punya sebagai bahan renovasi hanyalah paku-paku bekas. Lalu, bagaimana caranya?

“Ya, paling tidak, direnovasi hanya diperbaharui paku-pakunya itu. Lha, wong belum ada uang,” ujarnya.

Gubuk reot itu terletak di Jl. Keputih Tegal Timur Baru, Surabaya, Jawa Timur. Dulu, tempat ini menjadi Tempat Pembuangan Sampah (TPS), sebelum lokasinya dipindahkan oleh pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.

Sebenarnya, tanah tempat tinggal itupun, juga bukan  miliknya. Selama ini Fauzan menempati secara ilegal lahan milik Pemkot Surabaya. Fauzan paham betul jika suatu hari nanti,  pemerintah akan mengambilnya. Ia hanya bisa pasrah saja.

Ya, kalau mau diambil kita nggak bisa berbuat apa-apa. Paling cari kontrakan,” terangnya.

Tak jauh dari gubuk itu, terlihat gundukan tanah bekas sampah yang berukuran sekitar beberapa kali lapangan bola. Kondisinya sekarang gersang dan panas. Terlihat banyak asap putih yang mengepul.

Sebelum tahun 1999, ketika TPS itu masih berfungsi, Fauzan mengandalkan rizki dengan cara mengais sampah bekas yang dibuang oleh truk-truk yang datang. Tapi, setelah ada larangan pembuangan sampah, kini ia beralih tempat memulung. 

Sebagian lahan bekas TPS itu kini subur. Tidak sedikit masyarkat begitu juga Fauzan yang bercocok tanam sayur mayur. Seperti kacang panjang, terong, mentimun, singkong, dan lain sebagainya. Tapi, itu hanya bisa dilakukan kalau musim hujan datang.

“Bulan-bulan ini libur, mas. Masalahnya kemarau, sudah lama nggak hujan. Tanahnya jadi gersang,” terangnya.

Sebagai pemulung, bersama istri dan anak keduanya, Ahmad Umar yang masih kecil mereka tiap hari harus mengayuh becak sekitar 7 KM. Tujuannya ada dua: Wilayah Ngagel dan Jojoran, Surabaya.

Mereka berangkat selepas subuh atau sekitar pukul 5.00 WIB. Di dua RW ini Fauzan mengais rezeki dari setiap bak sampah rumah-rumah penduduk. Benda-benda bekas atau rongsokan seperti plastik, kaleng dan lain sebagainya. 

Untuk mengisi becaknya hingga penuh, Fauzan setiap hari harus pulang malam.

“Saya pulang malam setiap hari,” ungkapnya.

Itu saja, kalau belum penuh, ia masih mencari di sepanjang jalan menuju rumahnya. Hasil pulungannya itu, ia kumpulkan selama sepekan. Setelah terkumpul banyak, baru ia jual ke pengepul sampah. Hasilnya relatif sedikit: sekitar Rp 120 ribu per pekan. 

Meski tidak terlalu banyak, tapi uang sebesar itu cukup untuk biaya hidup sehari-hari keluarganya.

“Yang penting adalah  menerima dan mensyukuri apa adanya. Kalau merasa kurang terus, harta sebanyak apapun akan terasa kurang. Tapi kalu sedikit tapi disyukuri insyaAllah cukup,” terangnya. 

Qana’ah memandang Hidup

Hidup Fauzan memang tergolong di bawah garis kemiskinan. Tanah tidak punya, gubuk reotnya mau roboh, pendapatan per pekan hanya sekitar Rp 100 ribu, dan anak punya dua.

Tapi, ia tetap berusaha menghadapi hidup dengan semangat dengan prinsip qana’ah (rela dan menerima pemberian Allah subhanahu wata’ala apa adanya, red).  Bahkan di  tengah ketidak-adilan ekonomi di negeri ini, ia tetap mampu tersenyum  bersemangat memandang kehidupan. 

Ia mengerti bagaimana susahnya hidup di negeri ini. Meski demikian, ia tak mau menjadi orangtua cengeng dan tak bertanggung-jawab. Ia berharap, roda hidup akan berganti suatu hari agar Fauzan mampu mengantarkan anaknya hidup lebih baik.

“Anak pertama saya kini kelas lima SD. Saya harap ia bisa menjadi orang sukses,” harapnya.  

Untuk memperbaiki ekonomi, Fauzan sebenarnya ingin berdagang. Tapi, apa boleh dikata, modal tak ada. Pendapatanya sehari-hari hanya cukup buat menyambung hidup keluarganya.

Dalam kondisi seperti itu, tak banyak yang bisa dilakukan. Ia hanya bisa berdoa dan berusaha. Entah sampai kapan nasibnya akan berubah. Tapi, selama becaknya masih setia menemaninya, ia akan tetap mengayuhnya. Menyurusi jalan, gang, dari bak sampak ke bak sampah berikutnya.*     

Rep: Syaiful Anshor
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Islam Bertapak di Tanah Bikini-mini dan Karnival

Islam Bertapak di Tanah Bikini-mini dan Karnival

Skandal dan Kriminal Paus Borgia [habis]

Skandal dan Kriminal Paus Borgia [habis]

Pengalaman Hidup di Qatar yang Diisolasi

Pengalaman Hidup di Qatar yang Diisolasi

Di Kota Cengkeh, Ada Abu Bakar Tak Akui Sahabat Abu Bakar

Di Kota Cengkeh, Ada Abu Bakar Tak Akui Sahabat Abu Bakar

Tak Semua Pengungsi Suriah Lari ke Eropa

Tak Semua Pengungsi Suriah Lari ke Eropa

Baca Juga

Berita Lainnya