Rabu, 3 Maret 2021 / 19 Rajab 1442 H

Kisah & Perjalanan

Selekaran, Tradisi Berangkat Haji di Mataram

Bagikan:

SENIN, (11/10/2011) Manwi (49 th) sibuk melayani tamu yang datang bersama keluarganya. Warga Desa Labulia Jonggat Lombok Tengah ini terlihat menemani 50-an tamu yang memenuhi tempat yang sudah disediakan berupa beberapa lasah panjang (lasah: seperti ranjang tidur yang dibuat dari bambu memanjang ukuran 3×10 m).

Para tamu yang datang dalam rangka ziarah haji ke Manwi yang sehar-hari berprofesi sebagai kusir Cidomo (Sejenis andong).

Kebetulan, Manwi termasuk salah warga yang mendapat “berkah” akibat rumahnya ikut tergusur pembangunan jalan by pas Bandara Internasional Lombok (BIL).

Tapi Manwi tidak sendiri mendapat berkah dari digusurnya rumah mereka. Ada 9 orang yang tahun ini yang berkesempatan menunaikan haji karena nasib baik mereka.

Di antaranya ada pasangan suami istri Kardi (47) dan Sairah (40).

Persiapan 20 Hari

Menunaikan ibadah haji bagi seorang Muslim tentu merupakan hal yang sangat membahagiakan, sekaligus membanggakan. Termasuk bagi masyarakat Muslim di Pulau Lombok. Provinsi yang sering mendapat julukan “Pulau Seribu Masjid” ini punya tradisi selakaran (bacaan syair barzanji yang dilantunkan ramai-ramai dengan suara yang keras) sebelum keberangkatan.

Tidak tanggung tanggung, selakaran diadakan setiap malam sampai calon jemaah berangkat haji. Bahkan ada yang mengadakan selama 15 atau 20 hari menjelang keberangkatan.

Untuk acara sepeti ini, biasanya, untuk satu malam, bisa dihadiri 3-10 kelompok selakaran. Semuanya, disuguhi kue atau kadang nasi.

Ziarah haji, begitu warga Lombok sering menyebut, adalah mengucapkan selamat kepada calon jemaah haji. Acaranya diadakan antara 15-20 hari sampai yang bersangkutan berangkat ke Makkah.

Sebelum proses ini, di hari pertama, terlebih dahuku diadakan pembukaan ziarah berupa begawe (semacam pesta) yang mengundang semua keluarga, baik yang dekat maupun jauh termasuk masyarakat sekitarnya.

Bahkan untuk biaya ziarah ini, Kardi dan Sairah harus menyediakan konsumsi hingga puluhan juta rupiah. Biaya ini dipergunakan untuk konsumsi ratusan tamu yang akan mengunjunginya setiap malam. Tak sedikit calon jemaah haji ini mengeluhkan kemampuan ekonomi mereka. Sebagian bahkan rela berhutang.

“Tetapi yang namanya tradisi, harus ada, “ ujar calon jemaah yang tak mau disebutkan namanya.

Ibadah haji bagi masyarakat suku Sasak (nama suku asli Pulau Lombok, red) merupakan sebuah ibadah sekaligus prestise di dalam kehidupan bermasyarakat.

Dan biasa, setelah pulang menunaikan ibadah haji, warga Lombok akan merubah namanya. Misalnya, jika sebelumnya bernama Ratnadi, setelah haji, bisa jadi berubah menjadi Haji Rahmatullah. Di kampung, aia akan dipanggil dengan sebutan Tuan di awal namanya. Misalnya Kakak Tuan Rahmatullah.

Selain tradisi selekaran, acara ziarah haji, biasanya juga dibarengi zikir saman, sebuah gerakan mirip pencak silat dengan berkelompok sambil mengucapkan shalawat atau zikir.

Disamping berbagai hal di atas, biasanya calon jemaah haji di Lombok tidak boleh beraktifitas. Kegiatan keseharian calon jemaah haji sebelum berangkat adalah ibadah, mengaji, atau menerima tamu. Termasuk ketika nanti pulang haji, tidak langsung ke rumah tetapi ke Masjid atau Mushalla, dan tinggal di sana selama seminggu.*/Zul, Mataram

Foto: ilustrasi

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

‘Semoga Islam Semakin Benderang di (Masjid) Long Melaham’

‘Semoga Islam Semakin Benderang di (Masjid) Long Melaham’

Pria Muslim Jaga Anak-Anak yang Tak Miliki Harapan hidup Selama 20 Tahun

Pria Muslim Jaga Anak-Anak yang Tak Miliki Harapan hidup Selama 20 Tahun

‘Saya Jalan Kaki Bandung-Jakarta Ikut Reuni 212’

‘Saya Jalan Kaki Bandung-Jakarta Ikut Reuni 212’

Paris, Realitas Perkotaan dan Paradoks Romantisme [2]

Paris, Realitas Perkotaan dan Paradoks Romantisme [2]

“Kerukunan Alami” di Pulau Kenari [1]

“Kerukunan Alami” di Pulau Kenari [1]

Baca Juga

Berita Lainnya