In Memorian: Hasan Hasly

Kakek Yang Tegas itu Telah Tiada

Sebelumnya, ia seolah sudah terasa jika ajal akan menjemputnya.

Kakek Yang Tegas itu Telah Tiada

Terkait

Hidayatullah.com–Hari Jumat setahun lalu, Hasan Hasly menjadi khatib di Diklat Hidayatullah Batu, Malang. Seperti biasa, sebelum khotbah dimulai, lelaki berusia 83 tahun ini memeriksa jama’ah. Ia melihat jamaah dari kanan ke kiri dengan sangat teliti. Tiba-tiba, pandanganya berhenti pada salah satu jamaah yang memakai kaos oblong dan celana jeans di salah satu sudut masjid. Hasan pun langsung menegurnya. 

“Siapa Anda dan dari mana? Shalat jumat koq pake kaos oblong. Anda nggak tahu menghadap siapa ini?,” kata Hasan dengan nada keras. Kontan, jamaah pun kaget bukan main. Terlebih lelaki yang ditegur Hasan. Ia terlihat hanya diam seribu bahasa sambil menundukkan kepalanya. Belum hilang rasa kaget, Hasan melanjutkan aksinya lagi. “Masa menghadap Allah begitu sedangkan ketemu orang penting saja rapi bukan main,” imbuh lelaki paruh baya yang biasa disapa kakek Hasan ini. 

Karena takut Hasan bertanya lagi dan menambah ramai suasana, Hamid, petugas Diklat buru-buru menjawab. “Dari Angkasarapura, Surabaya,” jawab lelaki asal Garut Jawa Barat ini sambil mengangkat tangan kananya. Hampir saja Jumat kali itu menjadi jumat interaktif. Karena tahu yang memakai kaos oblong tamu, Hasan pun melanjutkan khotbat jumatnya. 

“Kakek Hasan, memang tegas dalam hal kedisiplinan. Terutama soal ibadah dan syariat,” tutur Hamid yang selama ini menemaninya. Bahkan, hal itu bukan kali pertama. Hampir tiap jumat dan shalat fardu lainnya, jika kedapatan ada jamaah memakai kaos oblong bisa kena “semprot”. Karena itu, bagi yang tahu, tak jarang yang menyiasati dengan berganti baju rapi atau setidaknya duduk yang kira-kira tidak dijangkau Hasan. 

Begitulah kedisiplinan kakek Hasan Hasly (82). Tidak hanya masalah kaos oblong, rokok dan jilbab juga menjadi perhatian lelaki yang bisa bahasa Belanda dan Inggris ini. Tak segan-segan jika ada yang merokok di areal Diklat pasti akan langsung ditegurnya.

“Itu beliau lakukan tidak pandang bulu. Siapapun dia, akan ditegur,” ujar Hamid.

Anehnya, meski banyak pengunjung yang kena “semprot,” mereka tidak trauma dan kembali lagi. Bahkan tak sedikit yang berterimakasih karena telah diingatkan. “Itulah kelebihan kakek. Meski tegas menegur, tapi yang ditegur tidak kapok, bahkan senang,” kata lelaki murah senyum ini.

Kendati telah lanjut usia, kakek Hasan tetap energik. Ia hampir menangani setiap pekerjaan yang ia bisa lakukan. Dari menjadi imam shalat, memberi ceramah setiap habis subuh, hingga mencatat keuangan.

Menurut Endang Abdurrahman, Ketua Diklat Wisata Ruhani Hidayatullah Batu, kakek sangat teliti soal pencatatan keuangan. Bahkan, kakek Hasan tulis dengan tangan dan buku khusus.

“Kakek guru saya yang hebat. Ia mengajarkan ketelitian,” ujar alumnus Pesantren Gontor ini. 

Untuk ceramah, materi yang sering disampaikan kakek adalah masalah akhlak dan akidah. Dua hal ini, kata Endang menjadi sorotan kakek. Sebab, menurutnya, bila seseorang telah berakidah baik pasti akhlaknya juga baik. Dan, hal itulah sebenarnya potret Muslim yang sesungguhnya. Dari ceramah yang disampaikan kakek selama ini, telah menghasilkan dua buku; “Professional Muslim dan Menu Ruhani“. 

Kesan tegas kakek Hasan seolah tak bisa dilepaskan dari Diklat ini. Tapi di balik tegasnya itu, tersimpan kasih sayang begitu dalam. Seperti kasih sayang seorang kakek kepada cucunya.

“Apa yang kakek lakukan sebenarnya ekspresi kasih sayang. Begitulah cara beliau mencitai setiap cucunya yang datang,” kata Hamid.

Kesan itulah yang akan tergambar pada semua pengunjung yang datang ke Diklat yang terletak di kawasan dingin dan sejuk ini.

“Saya selalu ingat bagaimana cara kakek menegur. Cara unik yang membuat saya berinstropeksi,” tutur Musron, salah seorang penyiar radio Islam di kota Batu.

Kini, sosok yang begitu melekat dengan ketegasan itu telah tiada. Beliau telah dipanggil pemiliknya, Allah SWT Kamis (09/06/2011) lalu sekitar pukul 1.30 dini hari.

Sebelumnya, ia seolah sudah terasa jika ajal akan menjemputnya. 

“Saya sengaja berada di tempat ini. Saya ingin menyiapkan bekal untuk berjumpa dengan Allah,” ujar Hasan sebulan lalu, ditirukan Endang.  

Kepergian suami dari Maryam ini menyisakan kenangan indah di benak keluarga dan rekannya. Kamis siang lalu, ratusan orang laki-laki dan perempuan menyemut untuk mengantar kepergian terakhir lelaki yang dikenal tegas ini. Tampak, beberapa orang yang meneteskan air mata. 

“Semoga Allah melapangkan kuburnya dan menempatkan beliau bersama kekasih-Nya di alam sana. Dan semoga dilahirkan generasi-generasi baru yang tegas dalam bersikap,” tutur ustadz Abdurrahman saat mengantar jenazahnya. Selamat jalan kakek.   “Allahummaghfirlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu’anhu wa akrim nuzulahu, wawassi’ mad khalahu wagh sil hu bi maa’in, watsaljin, wabarodin, wanaqqihi minal kha thaaya, kamaa yunaq qotstsaubul abyadhu minad danas, wa abdil hu daaran khairan min daarihi, wa ahlan khairan min ahlihi, waqihi fit natal qabri wa’adzaabannaari.” *

Rep: Syaiful Anshor

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik:

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !