Kamis, 18 Februari 2021 / 6 Rajab 1442 H

Kisah & Perjalanan

Perak, Pasar dan Dampak Perdagangan Islam di Eropa Timur [bag 1]

Bagikan:

Oleh: Dariusz Adamczyk*

SALAH satu gejala yang paling mempesona
di awal sejarah Abad Pertengahan Eurasia Barat adalah interaksi antara Dunia
Islam dan Eropa Timur (termasuk Scandinavia).
Sumber-sumber Arab, bukti arkeologis, dan banyak timbunan-timbunan matauang
perak (dirham) dan yang disebut hacksilver (potongan-potongan perak),
menekankan arti penting dan intensitas kontak-kontak ini. Perak oriental
mengalir ke Eropa Timur dari awal abad kesembilan sampai awal abad kesebelas,
tetapi dirham dan fragmen-fragmen dirham beredar di sana secara sporadis hingga abad keduabelas.[i]  

Tulisan ini sebenaranya
berjudul asli Judul asli: “Silver, Markets, and States: The Impact of
Islamic Trade on Eastern Europe in the Ninth through Eleventh Centuries”
yang
ditulis oleh Dariusz Adamczyk, peniliti di Universität Hannover.
Tulisan diterjemahkan oleh Basuki Efendi.

***

Di Russia, Ukraina, dan
Belorussia sendiri, 95 timbunan perak dengan sedikitnya 10 koin pada
masing-masing timbunan dari abad kesepuluh hingga abad kesebelas ditemukan.
Kronologi dari 75 timbunan lain tidak bisa ditetapkan pada waktu ini.
Sedikitnya 216 timbunan dari periode yang sama ditemukan di Scandinavia, 78
timbunan di Polandia dan Jerman, dan 24 timbunan di Estonia, Latvia, dan
Lithuania.[ii]  

Semua timbunan itu berisi
200,000 sampai 300,000 dirham. Dan kita tidak menghitung di sini
timbunan-timbunan dari abad kesembilan. Mata uang perak awalnya dicetak di
Iraq, Afrika Utara dan Iran dari akhir abad kesembilan, terutama di Asia Tengah
sejak tahun 900. Terdapat bukti kuat juga bahwa dari tahun 880-900, sistem
timbangan Islam diadopsi di Eropa Timur.[iii] Tetapi mengapa dan di bawah keadaan yang mana
perak-perak dalam jumlah besar ini menjangkau Eropa?

Dunia Islam dan
munculnya pasar-pasar di Eropa Timur

Di abad-abad kesembilan
hingga abad keduabelas, peradaban-peradaban “Dunia Lama” yang paling
kuat dan berpengalaman terletak di Asia, terutama di China dan Timur Tengah. Dasar-dasar
ekonomi Kekhalifahan adalah inovasi-inovasi di bidang agrikultur[iv] yang memungkinkan pertumbuhan produksi dan pengembangan dinamis
kota-kota. Beberapa sarjana berasumsi bahwa di Iraq
dan Syria,
30% populasi penduduk hidup di kota-kota utama.[v] Dalam konteks ini, perdagangan dan industri memainkan peranan
penting, dan permintaan untuk berbagai barang meningkat, antara lain
produk-produk hutan Eropa Timur: pakaian dari bulu binatang dan kulit-kulit
(termasuk tupai, musang, berang-berang, rubah merah dan rubah hitam, kulit bulu
musang kecil, ermelin, dan kelinci), lilin, madu, batu amber, pedang-pedang
Frankish, dan para budak. (Kita juga dapat menambahkan bahwa sebagian orang
berpendapat bahwa kata “slave” (“budak”) diperoleh dari kata
“Slav” (“Slavia”). Seorang pedagang dan duta Yahudi melaporkan bahwa,
di tahun 965, jumlah budak-budak Slavonic (orang Slavia) di Cordoba meningkat
selama 50 tahun dari 3000 menjadi 13,000 orang.[vi]

Tetapi fakta bahwa
mata-uang mata-uang perak oriental mengalir ke Eropa Timur di abad kesepuluh
berhubungan erat dengan posisi politis kuat dinasti Saminids di Asia Tengah dan
Timur Tengah. Mereka  mengawasi seluruh tambang perak Eurasia Barat paling
penting, dan mendukung perdagangan dan kota-kota utama. Bukti dari
intensifikasi perdagangan dengan Eropa di abad kesepuluh sungguh meyakinkan.
Disamping timbunan-timbunan perak, kita juga mengetahui dari sumber-sumber
tertulis bahwa orang Muslim dan para pedagang Yahudi menempuh perjalanan menuju
pasar-pasar di Eropa Timur: Bulgar di Kama, Hedeby (sekarang di Jerman), Prague, dan Cracow.[vii]

Pasar-pasar penting lainnya
adalah Kiev, Chernigov dan Gnezdovo (dekat Smolensk) di lembah sungai Dnieper,
Polotsk di Dvina barat, Novgorod, Ladoga lama dan Rurikovo Gorodishche di
sepanjang sungai Volchov, Timerevo dan Sarskoe Gorodishche di lembah sungai
Volga bagian atas, Suvar di Volga Bulgaria, Wolin di Pomerania, Truso di
Prussia, Birka di Sweden, dan Paviken di Gotland. Di daerah dimana kota-kota
utama awal belum muncul, perak oriental juga memainkan peranan penting. Sumber
Rusia paling tua, yang juga disebut Nestor Chronicle (Riwayat Nestor),
melaporkan bahwa di tahun 859 orang-orang Khazar menarik upeti dari sebagian
suku bangsa lembah sungai Dnieper-Oka selembar kulit tupai dan barangkali juga
satu koin perak dari masing-masing perapian atau keluarga. Di antara tahun 885
dan 964, Nestor Chronicle menginformasikan kepada kita bahwa orang-orang
Radimichians dan Viatichians membayar upeti-upeti mereka kepada orang-orang
Khazars dan sesudahnya kepada Kievan Rus dalam bentuk mata uang shilling.[viii]

Oleh karena itu,
suku-bangsa suku-bangsa ini harus mampu menukar pakaian dari bulu binatang
mereka dan produk-produk hutan lain dengan dirham. Sebuah cerminan simbolis
dari interaksi Asia Tengah – Eropa Timur ini adalah seekor unta milik penguasa
Polandia, Mieszko I, yang diberikan kepada Kaisar Jerman Otto III sebagai hadiah.[ix]

Orang-orang di daerah
“barbar (biadab)” dibeli, sebagai tambahan terhadap perak, kaca,
manik-manik carneol, sutera dan rempah-rempah; bagaimanapun juga, mata uang
perak adalah benda yang paling diinginkan. Mata uang perak bisa dipotong
menjadi bagian-bagian kecil, lalu dicairkan menjadi perhiasan-perhiasan dan
ingot (batang logam), mereka mungkin juga telah ditimbun dan kemudian digunakan
tanpa kehilangan nilai. Banyak fragmen-fragmen dirham, terutama dari
timbunan-timbunan dengan koin-koin mutakhir yang dicetak antara tahun 950 dan
1020, dengan jelas menunjukkan bahwa perak tidak hanya merupakan bahan baku,
tetapi juga uang yang digunakan dengan memperhitungkan beratnya. Perak Asia
Tengah menjadi alat pembayaran yang sangat penting artinya, pendorong
pengembangan pasar-pasar regional.[x] Topografi timbunan-timbunan perak mengkonfirmasikan
keterangan-keterangan ini.

Di Rusia timbunan-timbunan
paling banyak dari abad kesepuluh sampai abad kesebelas ditemukan di tepi kiri
sungai Dnieper, juga di Baratlaut Rusia antara Ladoga tua, Novgorod, Polotsk,
dan Gnezdovo-Smolensk. Disamping itu, timbunan-timbunan banyak berdatangan dari
Volga Bulgaria, sebagian
dari lembah sungai Volga-Oka, Dniester bagian atas dan sungai-sungai Bug, serta
Belorussia (Pripjet dan Niemen). Timbunan-timbunan di lembah sungai Dnieper
mencerminkan kemunculan ekonomi dan politis Kiev di akhir abad kesembilan dan awal abad
kesepuluh. Pada satu pihak, perak mencapai area ini lewat perdagangan dengan
orang-orang Khazar dan Volga Bulgar; dan di sisi lain, perak tiba dalam bentuk
barang rampasan, hadiah-hadiah, uang suap, dan upeti-upeti. Sumber-sumber yang
ada memberi kita banyak contoh-contoh dari serangan Kievan di area Laut Caspian
dan Azov, dari upeti-upeti dalam bentuk koin-koin dan pakaian dari bulu
binatang (yang nantinya bisa ditukarkan dengan perak), dan perdagangan budak.[xi]

Novgorod di tahun 1014, harus membayar
kepada pemerintah Kiev
sekitar 2000-3000 grivny (jamak untuk grivna, suatu ukuran berat yang sepadan
dengan sekitar 410 gram perak) sebagai pajak.[xii] Diperkirakan bahwa pajak ini dihasilkan dari sekitar
50,000-80,000 dirham. Empat tahun kemudian Jaroslav, penguasa Kiev
membebankan atas Novgorod suatu pajak kepala
dari empat perak kuny (jamak untuk kuna, mata uang yang dipakai di banyak
daerah orang Slavia) untuk merekrut para prajurit Scandinavia guna memenangkan Kiev kembali. Kita dapat
menambahkan bahwa di daerah-daerah perdagangan dan kerajinan paling utama Rusia
Utara sendiri, Novgorod dan Gnezdovo, tujuh dan lima timbunan telah
ditemukan. Dari Kiev, dan terutama dari Volga Bulgaria, perak Asia Tengah
diangkut sepanjang sungai Volga ke lembah sungai Oka dan ke Rusia utara.

Volga Bulgaria adalah
sebuah pusat perdagangan dimana pertemuan antar budaya mengambil tempat: para
pedagang Muslim bertemu dengan orang-orang dari daerah “biadab”, orang-orang
Viking, Slavia, Finno-Ugrian, dan sebagainya. Ibn Fadlan sudah menulis suatu
laporan yang sangat bagus tentang pertemuan ini.[xiii]

Timbunan-timbunan perak
lain ditemukan sepanjang sungai-sungai Dniester bagian atas dan Bug yang
menghubungkan Kiev
dengan apa yang disebut sebagai red burghs (wilayah-wilayah merah). Kita
mengetahui bahwa beberapa kafilah pedagang dari “red burghs” memulai perjalanan
menuju Cracow dan Prague
(atau ke Mazovia dan kemudian ke Polandia Besar atau Pomerania), dan dari sana melalui sebelah barat kota-kota Jerman ke Provence dan al-Andalus.
Dari Novgorod dan Ladoga Tua, perak Asia Tengah tiba di Scandinavia dan
perkampungan-perkampungan di pantai selatan Laut Baltic, dari sana dibawa ke
daerah pedalaman Polandia. Banyaknya timbunan-timbunan dari Gotland
telah menjadi isu kontroversial selama bertahun-tahun. Beberapa sarjana
menekankan pentingnya perdagangan dengan Rusia, sebagian lainnya menunjuk pada
timbunan-timbunan Gotland sebagai hasil
rampasan dan pemerasan.[xiv]

Bahwa banyak
timbunan-timbunan dirham datang dari Pomerania Barat tidaklah terlalu
mengejutkan. Wolin adalah salah satu kota
utama di Laut Baltic, dan menurut suatu sumber penting dari paruh kedua abad
kesebelas, Wolin mempunyai 5000-10,000 orang penduduk.[xv] Gelombang koin-koin perak mencapai Polandia Besar (dimana
pada abad kesepuluh, negara Polish Piast awal sedang muncul) dari Wollin dan
juga melalui rute-rute darat. Polish Piast adalah Polandia dibawah pemerintahan
Dinasty Piast (dinasti kerajaan pertama di Polandia). [bersambung/cha/www.hidayatullah.com]

Rep: Admin Hidcom
Editor: Administrator

Bagikan:

Berita Terkait

Masjid ar-Rabithah Kudus Dijuluki  Masjid “Pelarian”

Masjid ar-Rabithah Kudus Dijuluki Masjid “Pelarian”

Mengintip Kebun Wakaf Produktif Indonesia Berdaya di Subang

Mengintip Kebun Wakaf Produktif Indonesia Berdaya di Subang

Cerita dari Dieng dan Selembar Doa ”Palestina” [1]

Cerita dari Dieng dan Selembar Doa ”Palestina” [1]

Putra Aceh Pimpin LPI Achehnese Norway Al Aziziyah

Putra Aceh Pimpin LPI Achehnese Norway Al Aziziyah

Masjid Al-Madani Pakuwon City: Markas Pengajian Pemuda Hijrah

Masjid Al-Madani Pakuwon City: Markas Pengajian Pemuda Hijrah

Baca Juga

Berita Lainnya