Selasa, 23 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Cermin

Hijrahnya Seorang Pencuri Ulung

Bagikan:

Hidayatullah.com–Menjadi seorang pencuri sudah seperti pekerjaan saya sehari hari. Ketika itu, jika tidak mencuri, tangan saya rasanya gatal sekali. Dari hasil nyolong itu, saya pakai untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari seperti makan, bayar kontrakan, dan sebagainya.

Saya biasa mencuri di banyak tempat, mulai dari warung kecil, kotak amal masjid hingga rumah sakit. Dulu, sangat gampang mencuri barang orang di rumah sakit, karena kebanyakan pemiliknya lengah. Apalagi, saat itu belum ada kamera CCTV.

Hingga suatu hari, pada penghujung malam, terjadi sebuah kejadian aneh, ketika saya tengah ‘bergerilya’ untuk melakukan aksi pembobolan rumah di sebuah kota di Jawa Tengah. Rumah yang menjadi sasaran saya ternyata milik pasangan suami istri yang sudah lanjut usia. Namun, dari peristiwa itulah justru menjadi titik balik bagi kehidupan saya.

Setelah berhasil masuk ke rumah, saya menyisir setiap ruangan, mencari barang-barang berharga yang dapat dibawa pulang. Kemudian saya kumpulkan di sebuah ruang yang langsung menghadap pintu keluar supaya lebih mudah membawanya.

Sementara, pemilik rumah masih tertidur pulas. Saya masih terus menyisir hingga merasa cukup puas. Lalu, memutuskan untuk segera keluar meninggalkan rumah.

Namun, ketika ingin keluar rumah, terjadi peristiwa yang tidak pernah saya alami sebelumnya. Bukan kepergok pemilik rumah atau warga sekitar, tetapi tiba-tiba saya kesulitan untuk menemukan pintu keluar.

Hampir setiap sudut rumah sudah saya jamah, tetapi entah kenapa saya seperti tersesat dan kebingungan. Pintu yang sedianya sudah saya pilih untuk jalan keluar tak kunjung saya temukan. Setelah capek keliling, perut saya keroncongan. Tanpa pikir panjang, saya langsung menuju dapur untuk mengambil sepiring nasi beserta lauk pauk.

Setelah makan dan perut kenyang, tiba-tiba rasa kantuk yang teramat menyergap hingga membuat saya tertidur nyenyak.

Adzan Shubuh pun berkumandang dari masjid yang tak jauh dari rumah itu. Saya terbangun oleh tepukan ringan di pundak. Saya pun kaget bukan kepalang, sebab yang menepuk ternyata sang pemilik rumah. Bukanya dimarahi atau dilaporkan, ia justru menyuruh saya untuk Shalat Shubuh berjamaah ke masjid. Tetapi, ternyata saya tetap tak sanggup keluar rumah, seolah tubuh ini tidak bisa leluasa bergerak.

Karena itu, saya diminta menunggu di rumah, sementara mereka menuju masjid untuk Shalat Shubuh berjamaah. Dengan perasaan bercampur aduk; takut, malu, dan was-was, saya pun menunggu mereka hingga kembali dari masjid.

Lalu, apa yang terjadi? Pasangan lansia itu datang sambil tersenyum. Kemudian, memberikan nasihat. Mereka menyarankan agar saya mencari nafkah yang halal. Tak sekadar itu, saya juga diberi uang sebesar 20.000 rupiah bergambar burung cendrawasih. Waktu itu, uang segitu cukup besar. Sebelum saya beranjak keluar, mereka mengatakan, kalau ada kebutuhan lebih baik bilang dari pada mencuri.

Dalam perjalanan pulang, peristiwa aneh itu terus terngiang-ngiang dalam benak, hingga akhirnya membuat saya berpikir, mungkin Allah sedang memberi hukuman karena sudah bertahun-tahun lamanya saya menjadi seorang pencuri. Dari situlah saya mulai tersadar dan berkeinginan untuk berubah.

Namun, di saat yang sama, saya bingung harus memulai dari mana. Apakah harus langsung ke masjid untuk shalat? Sementara, saya sudah lama tidak mengerjakan shalat sehingga lupa semua doa-doanya. Ditambah perasaan malu, karena banyak tato permanen yang di tubuh saya.

Padahal, ketika itu perasaan ingin berubah dan berhijrah sudah terbesit di lubuk hati yang terdalam, tapi saya tak tahu bagaimana caranya. Di tengah kebingungan saya masih mencuri agar sekadar bisa makan.

Hingga suatu ketika, saya mendapat kabar bahwa di Kota Solo ada seorang ustadz yang menerima orang-orang yang mau berhijrah seperti saya. Panggilan akrabnya Abah Ali. Beliau pun sering membina orang-orang marjinal seperti saya.

Tanpa banyak berpikir, saya pun bergegas menuju basecamp Abah Ali. Gayung bersambut, pelan-pelan Abah Ali membimbing saya serta memberi pemahaman tentang kehidupan dan apa yang harus kita lakukan sebagai seorang hamba.

Kemudian, saya memutuskan untuk keluar seratus persen dari dunia pencuri sejak bergabung serta belajar kepada Abah Ali. Saya mulai membuka usaha kecil-kecilan di samping basecamp-nya. Saya membuka warung di sebuah gerobak, meski kecil-kecilan, tetapi setidaknya saya sudah bisa mencari nafkah halal untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Sejak dibina Abah Ali, alhamdulillah, saya merasakan ada perubahan besar dalam hidup. Dari perasaan yang lebih tenang dan bahagia, sampai kucuran rezeki yang selalu datang tak terduga.

Puncak dari semuanya, saya dipilih oleh Abah Ali untuk diberangkatkan umrah ke Tanah Suci. MasyaAllah, saya tidak pernah menyangka sama sekali. Hanya tangis bahagia dan rasa syukur kepada Allah yang hanya bisa saya lakukan waktu itu.

Juga bersyukur sekali, karena ternyata Allah masih memberi kesempatan kepada saya untuk bertaubat dan merasakan kasih sayang-Nya.

“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. an-Nisa’ : 17)

 *Seperti yang dikisahkan Hendri kepada  Hidayatullah.com

 

Rep: Sirajuddin
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

Tahajudku, Jalan Kesembuhan Ibuku

Tahajudku, Jalan Kesembuhan Ibuku

Titik Balik Seorang Bartender

Titik Balik Seorang Bartender

Alvius Memeluk Islam karena Melihat Jiwa Kepedulian Kaum Muslim

Alvius Memeluk Islam karena Melihat Jiwa Kepedulian Kaum Muslim

Fotografer Swedia Ini Pun Masuk Islam Melalui Gejala Alam (2)

Fotografer Swedia Ini Pun Masuk Islam Melalui Gejala Alam (2)

Demi Keluarga, Aku Nekat Menjadi TKW

Demi Keluarga, Aku Nekat Menjadi TKW

Baca Juga

Berita Lainnya