Selasa, 23 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Cermin

Olshopku Berkah setelah Keluar dari Riba

muslimah.com
[ilustrasi]
Bagikan:

Hidayatullah.com | RAMAI suara obrolan anak asrama, begitupun suara tetangga yang sayup-sayup aku dengar. Mereka tertawa lepas di sela-sela obrolan mereka, seakan akan menggambar kan diri mereka sedang gembira, atau mungkin menutupi masalah yang sebenarnya sedang terjadi pada mereka.

Aku diam termenung di pojok kamar, memikir kan kemana lagi untuk mencari pekerjaan di tanah rantau ini. Ya, saat ini aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah di salah satu kota Jawa Timur, yaitu Surabaya. Sementara keluarga ada di kalimantan timur tepatnya di Berau.

Orang tua ku bukan tidak mampu untuk membiayai hidup ku selama aku masih menuntut ilmu. Hanya saja aku ingin meringan kan beban beliau, di sisi lain aku juga ingin memiliki penghasilan sendiri, setidaknya cukup buat makan dan bayar asrama, hihihi.

Beberapa hari saya mencari info lowongan kerja kepada dosen dan senior yang sudah saya kenal, tapi belum ada hasil. Sambil sesekali mencoba lagi, saya berdiam diri di asrama selama beberapa bulan.

Suatu ketika, saat membua sosial media, saya menemukan info lowongan pekerjaan. Peluang menarik ini menginformasikan,  bahwa tanpa persyaratan apapun, hanya pendaftaran senilai 100 ribu bisa mendapatkan gaji Rp 500 Ribu- 1 juta setiap harinya.

Akhirnya saya pun langsung menghubungi nomor whatsaps yang tertera. “Assalamu’alaikum kk, maaf saya ingin bertanya soal pekerjaan yang dimaksud, itu seperti apa yah?”

Baca: “Riba Dilawan dengan Sedekah”

Tidak menunggu lama, aku mendapat kan balasan. “Wa’alaikum salam kk, iya benar, biaya pendaftaran hanya Rp 100 ribu berlaku seumur hidup, dan saya siap membimbing kk, pekerjaan-nya berupa olshop dari tangan pertama pabrik. Jadi dipastikan dapat harga barang yang murah, kk.”.

Begitulah salah satu percakapan hari itu. Aku yang begitu tertarik tidak memikir panjang lagi, langsung mentransfer uang setelah mendapat nomor rekening-nya. Setelah aku mendaftar, aku dikirim begitu banyak link  dan dimasukkan kebeberapa grup olshop.

Cara kerjanya adalah dengan menjual gambar yang ada pada grup dan menjual link  kembali ke teman-teman yang ingin berjualan olshop. Aku sedikit kecewa karena harus membuka link  sebanyak itu. Dalam pikiranku, bagaimana  bisa sampai ke sana jika cara kerjanya saja harus se ribet ini? Tapi baiklah, tidak ada salahnya aku coba dahulu.

Setelah aku menawarkan kepada teman-teman, ternyata banyak juga yang berminat. Saya menjual link  kepada mereka seharga 100 ribu. Namun ada beberapa teman yang menegur, bahwa cara kerjaku tidak baik, terdapat unsur riba di dalam nya. Aku yang dasarnya tidak begitu paham mengabaikan saja tanggapan mereka yang memberikan nasehat. Aku terus menawarkan usaha permulaan ini kepada teman-teman yang lain.

Awal bulan biasanya aku mendapatkan kiriman dari orang tua. Namun mulai bulan itu,  aku hanya meminta untuk pembayaran SPP saja dan biasa asrama. Sedang biaya uang bulanan,  aku mengatakan masih punya tabungan.

Ya, itu adalah yang hasul menjual beberapa link  kepada teman. Dan aku telah mendapatkan transferan sebanyak Rp 1,2 juta selama kurang lebih seminggu. Dan aku semakin bersemangat untuk terus menawar kan kepada teman-teman lainnya.

Baca: Jangan Makan Riba, Berat!

Barang Ilegal

Setelah sholat Magrib bersama teman-teman di asrama, temanku yang bernama Eka menawarkan untuk membeli handphone.  Menariknya, tipe HP apapun itu harga sama, hanya Rp 450 ribu, dan ditambah ongkos kirim Rp 50 ribu. Kalau membeli 2 unit HP sekaligus akan mendapat kan bonus HP 1 unit lagi, sunggu menarik.

Aku yang saat itu yang lagi membutuhkan HP untuk usaha, langsung tertarik dengan tawaran harga murah. Aku langsung memesan HP dan mentrasfer uang nya sebanyak Rp 1 juta. Dari info yang kami dapatkan, barang akan tiba dalam 2 hari.

Setelah 2 hari rupanya barang belum aku terima. Aku  menanyakan kenapa sampai saat ini barang belum sampai? Tak disangka, jawabanya membuatku kecewa.

“Maaf mbak,  barang yang kami kirim ilegal, dan ditahan polisi di kantor polisi. Kami ingin menyelesaikan dengan cara kekeluargaan saja, Mba silahkan transfer uang senilai Rp 3 juta, dan akan kami kembalikan apabila permasalahannya selesai, katanya”.

Temanku langsung panik dan mendesak akan segera mentransfer lagi agar kita tidak berurusan dengan kepolisian. Aku sudah mulai curiga, bahwa ini adalah sebuah penipuan, namun temanku tidak percaya, dan tetap mendesak mentransfer uangnya, karena kita patungan,  akhirnya dengan menggunakan uangku separuh. Aku hanya bisa membantu sebanyak Rp 650 ribu sebab tidak mungkin saldoku  kosong. Setelah kami transfer dan mengirim bukti transaksinya, seketika itu juga nomor kami diblokir dari whatsaps mereka. Dan dari situlah aku benar-benar yakin bahwa ini penipuan. Kami semua kena tipu.

Ini baru awal bulan, uang di rekening tinggal Rp 50 ribu. Di dompet hanya tinggal Rp 50 ribu. Artinya aku harus menggunakan uang itu selama satu bulan, dan harus hemat sehemat-hemat mungkin.

Kalaupun meminta kiriman lagi, pasti orang tua bertanya-tanya. Sebab sebelumnya saya sudah mengatakan saldo di rekening masih ada. Tidak mungkin aku menjawab kepada mereka bahwa aku menjadi korban penipuan.

Selama sebulan, aku hanya berdiam diri di kamar. Alhamdulillah masih ada persediaan beras, walau lauknya ikut ke teman-teman, karena mereka mengetahui musibah yang sedang aku alami. Sementara temanku, Eka,  terpaksa harus menjual beberapa emasnya yang ia kenakan. Sebab dia tidak berani untuk memberitahukan kepada orang tuanya.

Baca: 3 In 1 Solusi Bebas Riba

Alhamdulillah kami mendapatkan teman-teman yang begitu peduli kepada kami. Di sisi lain aku mulai berpikir bahwa mungkin ini adalah teguran dari Allah Swt.

Aku merenung, jangan-jangan ini karena uang yang aku dapatkan itu haram, dan Allah tidak menginginkan barang haram ini masuk ke dalam tubuhku.  Allah telah menegurku dan mengambil semua uang itu dengan perantara dari penipuan HP. MasyaAllah. Sesaat setelah tersadar,  akupun langsung keluar dari grup olshop dan menghapus semua link -nya.

Dan alhamdulillah,  Allah mendatangkan kembali rezeki dari berbagai cara setelah aku dengan tegas memilih keluar dari jalur haram. Salah satunya adalah kembali berjualan online yang lebih aman, dan pastinya halal.

Aku menjual sebuah suplemen kesehatan, kecantikan dan juga skincare. Di sini aku banyak belajar hal dari teman-teman dan ustazah-ustazahku yang mereka sampaikan langsung lewat sebuah grup.

Bahwa niatkanlah berbisnis itu dengan ibadah agar Allah swt ridho.  Dengan meluruskan niat, pastinya akan mempermudah kita semua. Bisnis bagi umat Islam, bukan hanya tentang untung dan rugi yang kita dapatkan, tapi bagaimana kita bisa memberikan manfaat kepada banyak orang dengan produk yang kita jual dan tentu saja mendatangkan berkah.

Bukankah akan dinilai sebuah ibadah, jika ada user / pengguna produk kita sembuh dari sakit?  Sungguh sebuah pahala jika mereka menjadi sehat karena wasilah produk yang kita jual. Dan akhirnya user dan pengguna bisa  kembali bekerja dan memberikan nafkah kepada seluruh keluarganya.  MasyaAllah, inilah ilmu baru setelah menjadi korban penipuan dulu. Semoga pembaca mendapat hikmah dari cerita hijrahku dalam bisnis  ini.  Dan yang terpenting, selalu menjauhkan diri barang haram dan hal-hal yang berhubungan dengan riba.*/Meriani

 

Rep: Admin Hidcom
Editor: Insan Kamil

Bagikan:

Berita Terkait

Musibah Yang Membawa Berkah

Musibah Yang Membawa Berkah

Menemukan Jalan dalam Islam, Langkah Menuju Feminis Pun Surut (2)

Menemukan Jalan dalam Islam, Langkah Menuju Feminis Pun Surut (2)

Keberkahan Datang Gara-gara Infaq Rp. 20.000

Keberkahan Datang Gara-gara Infaq Rp. 20.000

Setelah Memeluk Islam, Salahuddin Menjadi Penulis Buku Islam

Setelah Memeluk Islam, Salahuddin Menjadi Penulis Buku Islam

Allah Selalu Memberiku yang Terbaik

Allah Selalu Memberiku yang Terbaik

Baca Juga

Berita Lainnya