Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Cermin

Para ‘Pemuja Setan’ yang Mengubah Musik

BBC
John Michael Osbourne, lebih dikenal Ozzy Osbourne vokalis grup musik heavy metal Black Sabbath yang tampilannya seperti pemuja setan
Bagikan:

Black Sabbath mengatakan semua sudah berakhir. Tur terakhir band itu – yang disebut The End – berlangsung pada Januari, dan kuartet asal Inggris ini seakan berjalan terpincang-pincang menuju garis finis karir mereka yang bertahan hampir setengah abad.

Selama beberapa dasawarsa sang vokalis Ozzy Osbourne sudah keluar masuk pusat rehabilitasi, drummer Bill Ward dipecat pada 2012 karena perselisihan mengenai royalti, dan gitaris Tony Iommi berjuang melawan kanker.

“Saya sebenarnya tidak dapat melakukannya lagi,” kata Iommi baru-baru ini kepada majalah Rolling Stone. “Tubuh saya tidak mampu lagi mengatasinya,” ujarnya kepada BBC.

Terdengar sebagai cara yang sedih bagi sebuah band heavy metal besar untuk mengundurkan diri. Tetapi meskipun mereka memiliki nama besar, Sabbath tidak pernah menjadi ‘dewa’ seperti Led Zeppelin atau The Rolling Stones. Osbourne, Iommi, Ward dan pemain bass Geezer Butler tampak lebih seperti golongan kerah-biru yang memiliki persamaan dengan penonton mereka dibandingkan dengan bintang rock jet-set.

Rock ‘n’ roll merupakan garis hidup bagi empat anggota pendiri band dari Birmingham, Inggris. Kota industri yang suram itu hanya menawarkan sedikit pilihan bagi anak-anak laki-laki dari kalangan kurang mampu selain bekerja di pabrik atau bergabung dengan geng.

 

tony_iommy_ozzy_osbourne

Tony Iommy dan Ozzy Osbourne di satu panggung. Dalam Ozzy menanggapi albunya, “menghisap marijuana, bodoh, ceroboh, terlalu keras dan jelek: tentu saja rock tenggelam pada titik terendah dengan omong kosong setan ini.

Osbourne mengalami gangguan perkembangan terutama dalam berkonsentrasi (dikenal dengan istilah attention deficit disorder atau ADD) dan disleksia, dan karena itu tidak pernah menjadi murid yang cukup baik untuk melampaui batas kelas pekerja Inggris.

Iommi berupaya mencari jalan keluar dengan mengikuti pelatihan untuk menjadi seorang petinju. “Itu sangat menyedihkan, akhir dari dunia bagi kami,” kata Iommi kepada saya dalam sebuah wawancara. ”Merupakan sebuah kemewahan untuk keluar dari sana.”

Black Sabbath mencerminkan kebuntuan dunia dalam gelap, musik yang mengubur era Flower Power di bawah nada-nada tinggi, petikan gitar dan gebukan drum yang keras. Ini menjadi suara baru – berat, suram dan dengan lirik-lirik ala film horor.

Para pangeran kegelapan

Pada lagu pertama dalam album perdana Black Sabbath 45 tahun yang lalu, guntur bergemuruh, bel di pemakaman berbunyi, dan suara Osbourne bergetar: “Apa yang berdiri di hadapanku/Sosok hitam yang menunjuk ke arahku.” Empat album pertama band ini, termasuk lagu klasik seperti Iron Man, Paranoid dan Supernaut, dibangun dengan dasar heavy metal.

Namun ulasan The Rolling Stone Album Guide menyebut album itu tidak menarik: “menghisap marijuana, bodoh, ceroboh, tidak berjiwa, terlalu keras dan jelek: tentu saja rock tenggelam pada titik terendah dengan omong kosong setan ini.”

Robert Christgau, yang menunjuk dirinya sendiri sebagai dekan kritik rock Amerika, juga meremehkan, ”Band ini merupakan ‘Penganut Kristen/pemuja setan/liberal yang suram… ini merupakan eksploitasi amoral yang dungu.'”

Penghinaan itu justru memperkuat ikatan yang kuat antara Black Sabbath dan penggemar mereka. Dalam bukunya Heavy Metal: Sebuah Sosiologi Kultural, profesor sosiologi Deena Weinstein menegaskan bahwa band-band heavy metal dan penggemarnya sudah seperti penderita lepra dalam arus utama rock, orang buangan yang menjadi “bangga sebagai sampah masyarakat” dan yang berusaha untuk melindungi kelompok mereka sendiri dari lingkungan luar.

Sabbath berhasil menjual jutaan rekaman dan tiket pertunjukan kepada ‘pasukan’ anak-anak muda yang sama-sama merasa diabaikan. Kuartet ini merebut perhatian kalangan penonton yang tidak menyukai generasi cinta-damai di tahun 60an.

Ini adalah generasi yang memiliki ekspektasi yang rendah, yang bekerja delam tekanan, dan tidak memiliki masa depan, sama dengan yang ditunjukan oleh Sex Pistols dan The Stooges. Ozzy dan rekan-rekannya menjadi orang-orang yang diremehkan, namun berhasil melakukan lebih dari yang diharapkan.

Black Sabbath1

Dalam bukunya Heavy Metal: Sebuah Sosiologi Kultural, profesor sosiologi Deena Weinstein menegaskan bahwa band-band heavy metal dan penggemarnya sudah seperti penderita lepra dalam arus utama rock, orang buangan yang menjadi “bangga sebagai sampah masyarakat”

Kiprah band berlanjut selama beberapa tahun. Sebagai seorang artis solo, Osbourne memicu kemarahan figure otoritas agama dan digambarkan sebagai orang gila yang dituding memotong kelelawar dan merpati di panggung. Band ini berulangkali menghancurkan diri sendiri karena masalah ketergantungan narkoba, reuni setengah hari dan percekcokan internal.

Mencari ‘cahaya’

Namun entah bagaimana mereka bertahan dan penghargaan terhadap mereka meningkat. Di akhir tahun 90an, Sabbath meraih sebuah penghormatan atas pengaruh mereka yang tidak terbantahkan terhadap generasi kedua dan ketiga band heavy-rock seperti Metallica, Soundgarden, Kyuss, Pantera dan Electric Wizard. Mereka dimasukan dalam Rock ‘n’ Roll Hall of Fame pada 2006.

Bersamaan dengan pemberian kehormatan ini, citra Osbourne sebagai jelmaan setan bermetamorfosis menjadi monster yang menawan tetapi gila pesta dan seorang pria cinta keluarga yang dilecehkan.

Dalam perjalanan sirkus metal Ozzfest, dia menguyur kepalanya dengan air, dan maskara di matanya meleleh ke wajahnya ketika dia meminta kepada penggemarnya untuk “Menjadi gila!”

Dalam serial reality TV The Osbournes, dia menyindir dirinya sendiri dan seluruh gagasan patrarki. Ketika anak-anaknya bertengkar, Ozzy yang menggunakan celana olahraga akan mengangkat tangannya dan berjalan sambil bergumam.

Osbourne telah menjadi sosok yang digambarkan memiliki kerentanan emosi. Sang penyanyi masih menjadi dewa rock yang kerap mencela diri sendiri, seorang pria yang mengetahui dia secara tak terduga meraih suatu karir yang melebihi seluruh perkiraan termasuk dirinya sendiri.

Dia tiba-tiba termenung ketika saya bertanya kepada dia beberapa tahun yang lalu mengenai berapa lama lagi dia berencana untuk tetap berada di jalanan. “Saya selalu bertanya kepada (istri dan manajernya) Sharon, ‘Berapa lama kamu pikir ini akan terus berjalan?’” kata Osbourne.

“Dan dia mengatakan kita akan mengetahuinya jika waktunya tiba, dengan tatapan yang simpatik, selagi saya berdiri seperti rusa di bawa sorotan lampu besar. Hal itu berarti saya akan bermain sampai mereka berhenti menonton saya.”

Banyak anak remaja dan anak baru gede (ABG) bermimpi menjadi pemusik. Faktanya, mereka yang popular dengan gemerlap musik, satu-satu mulai meninggalkan panggung. Saat ini Black Sabbath, atau apa yang tersisa dari mereka, ingin memberikan sesuatu sebelum mengucapkan selamat tinggal.*

 

Rep: Panji Islam
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Pernah ingin jadi Iblis berwujud Manusia, kini Memeluk Islam

Pernah ingin jadi Iblis berwujud Manusia, kini Memeluk Islam

Berdakwah dengan Cinta

Berdakwah dengan Cinta

Kiriman Amplop Itu Datang Bertubi-tubi

Kiriman Amplop Itu Datang Bertubi-tubi

Doa Orangtua di Balik Prestasi Juara

Doa Orangtua di Balik Prestasi Juara

Akhirnya Mantan Raper Alkoholik Itu Memeluk Islam Dan Cintai Arab (1)

Akhirnya Mantan Raper Alkoholik Itu Memeluk Islam Dan Cintai Arab (1)

Baca Juga

Berita Lainnya