Jum'at, 12 Februari 2021 / 29 Jumadil Akhir 1442 H

Cermin

Gelisah dan Memberontak, Lantas Menemukan Jalan dalam Islam (1)

Abdullah Al-Kanadi.
Bagikan:

NAMA saya Abdullah Al-Kanadi. Saya lahir di Vancouver, Kanada. Keluarga saya pemeluk Katolik Roma, demikian pula saya sampai berusia 12 tahun. Saya telah menjadi Muslim selama kurang lebih empat belas tahun.

Saat masa kanak-kanak, saya sekolah di satu sekolah Katolik. Saya diajarkan tentang iman Katolik, bersama dengan mata pelajaran lain. Pelajaran agama paling saya sukai, dan saya unggul secara akademis dalam ajaran Gereja.

Saya pun diminta menjadi ‘pelayan’ sebagai ‘putra altar’ oleh orang tua saya dari usia yang sangat muda. Keinginan orang tua saya itu juga berdasarkan keinginan kakek saya. Tapi semakin saya mempelajari agama saya, saya semakin mempertanyakan! Saya pernah bertanya pada ibu saat misa: “Apakah agama kita yang benar?” Jawaban ibu saya masih terngiang di telinga saya sampai hari ini: “Craig, mereka semua sama, mereka semua baik!” Namun bagi saya jawaban ini tidak benar. Apa gunanya saya belajar agama saya jika semua agama sama-sama baik?

Pada saat saya berusia dua belas tahun, nenek dari pihak ibu didiagnosa menderita kanker usus dan meninggal beberapa bulan kemudian, setelah perjuangan yang menyakitkan dengan penyakitnya. Saya tidak pernah menyadari seberapa dalam kematiannya mempengaruhi saya di kemudian hari.

Pada usia dua belas tahun, saya memutuskan menjadi seorang ateis untuk menghukum Tuhan (mungkin Anda dapat memahami hal seperti itu!). Saat duduk di SMA saya memiliki kebiasaan memaksa teman-teman mengajari saya pelajaran-pelajaran yang saya tidak banyak mempelajarinya di kelas. Lantas saya pun jadi memiliki kebiasaan bersumpah serapah dan mengolok-olok teman yang lemah dari saya. Tetapi saya juga mendapat gangguan, terutama dari teman-teman wanita yang mengejek saya. Untuk anak seusia ini, ini tentu menghancurkan. Saya pun seperti mendapat “gangguan emosional’.

Masa remaja saya pun mulai dipenuhi dengan penderitaan dan kesepian. Orang tua saya yang miskin mencoba menasihati saya, tapi saya memberontak terhadap mereka dan sering berbuat tidak sopan. Saya lulus SMA pada musim panas 1996 dan mencoba untuk berubah menjadi lebih baik agar kondisinya tidak lebih buruk. Saya diterima di sekolah teknik lokal dan memutuskan saya harus melanjutkan pendidikan saya sekaligus bekerja. Saya bekerja di restoran cepat saji yang berada di dekat rumah untuk membantu membayar biaya sekolah.

Beberapa minggu sebelum sekolah dimulai, saya diajak untuk tinggal bersama oleh beberapa teman. Bagi saya, tampaknya ini seperti jawaban untuk masalah saya! Saya akan menghindari keluarga saya dan tinggal bersama teman-teman. Suatu malam, saya mengatakan kepada orang tua saya, saya akan pindah. Mereka mengatakan, saya tidak boleh pindah karena saya dianggap belum sanggup, dan orang tua tidak mengizinkan.

Saya yang sudah berusia 17 tahun dan sangat keras kepala, bersumpah serapah pada orang tua dengan mengatakan segala macam hal yang buruk –yang membuat saya menyesal sampai hari ini. Saya menjadi berani kepada orang tua karena merasa telah memiliki kebebasan. Saya ingin bebas dan mengikuti keinginan saya. Saya pun tinggal bersama teman-teman saya dan tidak berbicara dengan orang tua saya untuk waktu yang lama setelah itu.

Dalam aktivitas bekerja dan pergi ke sekolah, teman sekamar saya memperkenalkan saya dengan ganja. Saya pun menikmatinya. Saya menggunakan ganja ketika pulang dari bekerja. Saya pun mulai sering merokok dari waktu ke waktu. Lantas saya pun mulai membolos sekolah, sampai kemudian tidak sekolah sama sekali.

Saya pun jadi mengira, beginilah hidup yang nyaman. Saya telah menjadi ‘warga’ dari kelompok anak nakal. Saya pun semakin mencobai obat-obat keras yang lebih berat. Tapi alhamdulillah, saya akhirnya diselamatkan dari hal-hal yang benar-benar mengerikan itu. Yang aneh, ketika saya ‘melayang’ atau mabuk, saya menjadi sangat menderita. Saya merasa tidak berharga dan benar-benar tidak berharga.

Saya kadang mencuri dari tempat pekerjaan dan dari teman-teman agar tetap memiliki ‘asap kimia’ tersebut. Saya pun menjadi paranoid terhadap orang-orang di sekitar saya dan selalu membayangkan aparat polisi mengejar saya dari berbagai tempat. Aku menjadi rapuh dan aku membutuhkan solusi, dan saya berpikir agama dapat membantu saya.

Aku teringat dengan film tentang sihir dan saya pun terpikat. Saya membeli buku Wicca and Nature Worship, dan malah mendorong untuk terus menggunakan obat-obatan. Mereka menyebutkan, jika saya percaya pada Tuhan, kita akan bisa memiliki percakapan aneh saat di bawah ‘pengaruh’ obat-obatan. Tapi saya sebenarnya sedang tidak percaya pada Tuhan, dan saya meyakini Tuhan sama tidak sempurnanya seperti saya.

Pada kondisi ini, ada satu teman yang begitu dekat dengan saya. Dia seorang yang ‘lahir kembali’ sebagai Kristen dan selalu menasihati saya, meskipun saya selalu mengejek keyakinannya di setiap kesempatan. Dia satu-satunya teman yang tidak ‘menghakimi’ saya, sehingga ketika ia mengajak saya ikut dalam perkemahan akhir pekan anak-anak muda, saya memutuskan pergi bersamanya. Aku tidak punya harapan apa-apa. Yang ada dalam pikiran saya, bagaimana mengolok-olok semua “ucapan Bibel”.

Saat malam kedua, mereka melakukan kegiatan layanan. Mereka memainkan segala macam musik yang memuji Tuhan. Aku melihat semua orang, tua dan muda, berteriak memohon pengampunan dan meneteskan air mata. Saya rupanya juga tersentuh dan mulai berdoa dalam diam dengan mengucap, “Tuhan, aku tahu aku telah menjadi orang yang mengerikan, tolong bantu saya, dan ampuni saya, dan selamatkan saya”. Aku merasakan gelombang emosi datang menyelimuti saya, dan air mata pun menetes di pipi. Saya memutuskan pada saat itu untuk kembali pada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat.

Aku mengangkat tangan di udara dan mulai menari (ya, menari!). Semua orang di sekitar saya menatapku dengan tertegun terdiam; memandang saya sebagai orang yang suka menghina dan berucap betapa bodohnya percaya kepada Tuhan, saat ini menari dan memuji Tuhan!

Saat saya kembali ke rumah kelompok saya, saya mulai menjauhi semua obat, minuman keras, dan perempuan. Saya memberitahu teman-teman saya agar kembali ke dalam Kristen agar bisa diselamatkan. Saya terkejut ketika mereka menolak ajakan saya, karena merekalah yang sebelum ini mengajak saya ke tempat ini. Saya akhirnya pulang ke rumah orang tua saya setelah sekian lama menghilang, sekaligus untuk meminta mereka menjadi orang Kristen.

Orang tua saya yang Katolik mengatakan, ia sudah menjadi orang Kristen. Tapi saya mengatakan, mereka belum menjadi Kristen, karena penyembahan mereka terhadap orang-orang suci. Saya pun memutuskan untuk pindah lagi, hanya saja kali ini dengan syarat yang lebih baik berupa bantuan dari kakek saya yang ingin membantu saya dalam upaya mencari “pemulihan”.

Aku pun mulai menghabiskan waktu di “rumah pemuda Kristen”, yang biasa digunakan untuk para remaja yang meninggalkan rumahnya dan membutuhkan diskusi agama Kristen. Saya yang lebih tua dari mereka, menjadi pelindung mereka dan berusaha membuat mereka nyaman. Namun sebenarnya, ini seperti penipuan, karena saya mulai minum dan berkencan lagi. Saat saya mengatakan kepada anak-anak tentang kasih Yesus, pada malam hari saya menenggak minuman. Hanya saya teman yang dekat saya selalu menasehati saya dan menjaga saya untuk selalu berada di jalur yang benar.*/Dikisahkan Craig Robertson (Abdullah Al-Kanadi), dimuat dalam The Religion of Islam.

Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

Meyakini Islam Saat Dibayar untuk Mengusiknya

Meyakini Islam Saat Dibayar untuk Mengusiknya

Hatinya Tak Tenang, Pria Ini Kembalikan Laptop Temuan

Hatinya Tak Tenang, Pria Ini Kembalikan Laptop Temuan

Olshopku Berkah setelah Keluar dari Riba

Olshopku Berkah setelah Keluar dari Riba

Ia Rela Belajar Seperti Anak TK

Ia Rela Belajar Seperti Anak TK

Berinternet dengan Mata dan Kepala

Berinternet dengan Mata dan Kepala

Baca Juga

Berita Lainnya