Mereka Pergi Dalam Keadaan Bersyahadat

Aku menjalani pengobatan hingga dua tahun di Kanada karena mengalami keretakan organ yang tidak ringan di kepala, leher, punggung

Mereka Pergi Dalam Keadaan Bersyahadat
ilustrasi

Terkait

KISAHKU ini terjadi pada senja tanggal 27 Ramadhan 1431 atau bertepatan Agustus 2010. Kala itu kami semua bersepakat berangkat ke suatu tempat bersama dengan sebuah kendaraan.

Bersama kami, saat itu ada delapan orang. Ayahku, ibuku, abang-abangku dan kakak-kakak perempuanku.

Ayah bertindak sebagai sopir, ibu mendampinginya. Sambil memulai perjalanan, kami sepakati bahwa masing-masing dari kami memegang mushaf Al-Quran, membacanya, dan berdoa sampai tempat yang kami tuju. Kami ingin khatam Al-Quran pada hari tersebut.

Oh ya, kebetulan keluarga kami semua adalah keluarga penghafal Al-Quran, alhamdulillah.

Tilawah berlanjut dalam diam dan khusyu’, seakan tilawah itu merupakan tilawah terakhir bagi kami. Terlihat kakakku membaca sesekali derai bening mengaliri pipinya. Begitu juga kakak dan abang yang lain saling tatap, tangis dan doa yang saling tersulam dalam setiap ayat yang dibaca.

“Mengapa air mata itu deras mengaliri pipimu, Kak?” Sesekali aku bertanya, sembari ada rasa heran, mengapa suasanya menjadi beku meliputi kami.

“Suara Allah dekat saat aku membaca kalamNya,” begitu jawab kakakku lirih, sambil buru-buru beralih pada bacaan Al-Quran berikutnya.

Takdir Allah, rasa kantuk rupanya menguasai ayahku. Mobil kami melaju dengan kecepatan tinggi dan naik ke dataran lebih tinggi, kemudian jatuh ke jurang yang sangat dalam.

Mobil kami berbalik dan semua yang ada di dalamnya terpenral dari mobil, menggelinding dan jatuh. Tubuhku tersangkut sebuah ke pohon, saudara-saudaraku lainnya jatuh ke jurang yang entah berapa kedalamannya.

Lirih-lirih terdengar suara adzan Maghrib, dan kami semua dalam keadaan berpuasa ketika itu.

Aku mengalami pendarahan dan pingsan. Entah seberapa banyak darah yang keluar. Ketika aku tersadar aku teriak sambil mencari ayah, ibu dan semua saudaraku.

Aku terus merangkak di tengah perih dan darah yang masih terus keluar. Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raajiiun.. Ya Allah Ya Rabb, aku telah menemukan kakak-kakak perempuanku dalam keadaan yang sudah tak bernyawa.

Yang cukup mengejutkanku, mereka meninggal dengan jari telunjuk mereka sedang terangkat. Mereka telah mengakhiri hidupnya dengan syahadat. Subhanallah!

Sebuah pemandangan yang sedikit melegakan di saat rasa kehilangan semua keluarga tercinta seolah mencoba menghancurkan harapanku.

Dengan tenaga seadanya, perlahan aku kumpulkan mereka satu-persatu di suatu tempat. Sementara itu hari terus merambat gelap dan suara hewan-hewan liar malam mulai bersahut-sahutan.

Meski ini adalah musibah terberat, aku harus tetap melanjutkan pencarian dengan terus merangkak dan merangkak. Abang-abangku sama sekali belum terlihat. Tidak lama kemudian aku melihat ibuku. Abayanya menutupi keseluruhan tubuhnya layaknya sebuah kafan. Tak ada bagian tubuhnya terlihat kecuali jari telunjuknya yang terangkat. Aku memeluknya membincanginya berharap ia masih mendengarku. Tapi tak ada gunanya karena beliay telah wafat.

“Sebuah akhir hidup yang indah, Ummi,” bisikku pelan. Sambil mataku terus berderai dengan air mata yang tidak terputus.

Aku kembali merangkak untuk meneruskan pencarian, hingga akhirnya aku mendapati ayahku. Ia mengalami pendarahan besar dan saat itu masih tersadar.

Aku merangkulnya. Pelan-pelan terdengar suaranya menahan perih, “Pergilah dari sini, naiklah ke gunung, panggillah orang yang bisa menolong saudara-saudarimu dan ibumu!” demikian pinta ayah di antara lolongan srigala dan gelapnya malam.

“Aku pendarahan, tidak bisa banyak bergerak, aku akan bersamamu, ayah,” jawabku masih dalam pelukannya.

Dalam suara yang terus melemah ia masih sempat mendoakanku. Tidak lama kemudian terdengar ia mengucap syahadat, bersama hembusan nafas terakhirnya.

Aku terpaku sendiri. Air mata mendesaki pelupuk mataku bersama doa-doa yang terpanjat. Darah segar terus mengalir dari tubuhku. Hingga akhirnya tidak sadar dan tak merasakan apapun, aku pingsan.

Pengangkatan Rahim

Dalam 24 jam tidak seorangpun yang menemukan keberadaan kami. Hingga pada senja hari kedua, seorang pengembala kambing menemukan kami semua.

Dari situlah keberadaan kami akhirnya diketahui pihak yang berwenang hingga datangnya bantuan untuk mengangkat kami semua dari jurang.

Setelah kejadian itu aku tidak sadarkan diri dan koma setelah lima bulan. Aku tersadar dan kejadian itu terekam dalam otakku seolah masih mimpi.

Aku terus menjalani pengobatan hingga dua tahun di Kanada, Amerika karena mengalami keretakan organ yang tidak ringan. Di kepala, leher, punggung dan lainnya.

Akibat pendarahan dan keretakan itu, nikmat kesempatan untuk menjadi seorang ibu hilang. Walau jajaran dokter yang menanganiku telah berupaya keras, pilihannya hanya dua; hidupku atau pengangkatan rahim. Sebuah pilihan yang sulit, hampir saja rasa putus asa menguasaiku.

Hingga kemudian harapan telah membangunkanku dari keterpurukan. Bahwa dunia ini tidak berakhir dengan kehilangan kita terhadap seseorang atau sesuatu yang berharga dalam hidup kita.

Kita hanya butuh membangun sabar dan keyakinan bahwa takdir Allah adalah kebaikan yang akan menyempurnakan iman kita.

Alhamdulillah. Aku kembali bekerja dan beribadah menghimpun bekal menuju Allah Subhanahu Wata’ala. Kini aku pindah ke Riyadh, Saudi dengan hidupku yang baru. Alhamdulillah ‘ala kulli hal.*/Kisah nyata ini diceritakan Fulana dari Riyadh, ditulis ulang oleh TaQ Shams dari Makkah

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !