Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Cermin

Usai Memeluk Islam, Lukas ingin Membuka Sekolah Tahfidz (2)

ISTIMEWA
Lukas saat berlibur di Indonesia
Bagikan:

Lanjutan dari tulisan pertama

Luka berpikir, untuk ia mempelajari agama sedangkan pemimpin agamanya saja meragukan isi kebenaran kitab mereka?

“Akhirnya saya berhenti sekolah minggu meskipun belum selesai dua tahun,” ujarnya.

Mulailah ia mempelajari agama Hindu, Budha tapi ia belum menemukan banyak hal bahkan baginya belum bisa diterima akal. Lukas juga pelajari agama Yahudi, tapi yang ia temukan  terlalu rasis.

“Mereka mengaku bangsa pilihan Tuhan. Sedangkan manusia yang lahir bukan dari orang Yahudi tidak ada kesempatan untuk masuk surga, semuanya di neraka. Jelas ini agama yang batil,” ujarnya.

Suatu hari, di saat usianya mencapai 14 tahun, Lukas mulai banyak mempelajari Islam dari buku-buku dan internet. Karenanya orangtuanya senang dengan sejarah dan sering mengajak saya melihat masjid-masjid yang megah, hatinya mengaku merasa tentram ketika melihat masjid atau ketika memasukinya. Permadani yang terhampar di Masjid, cahaya matahari yang masuk ke dalam masjid membuatnya mulai mencintai masjid.

Lukas juga mengaku memiliki teman Muslim di Jerman. Ia kenal baik dengan keluarganya. Satu yang menakjubkannya, keluarga Muslim ini memiliki akhlak mulia, dermawanan dan suka memuliakan tamu yang tidak kami jumpai di masyarakat asli Jerman.

“Meski teman saya dan keluarganya belum konsisten dalam keislamannya. Seperti ibunya tidak mengenakan jilbab, tapi saya lihat akhlaknya yang mulia, menyebabkan usaya semakin cinta kepada Islam.”

Memeluk Islam

Lambat laun Lukas mulai terus mencintai Islam. Ia mengaku kagum pada Islam yang sederhana dan mudah dipahami semua orang. Petani yang awam dan professor Doktor di Universitas meskipun tingkat kecerdasan mereka berbeda, semuanya bisa menerima dan memahami Islam dengan mudah.

Islam adalah agama fitrah mengajarkan tauhid penghambaan kepada Allah semata dan tidak menyekutukan Nya dengan sesuatu apapun. Betapa nikmatnya ketika kita bisa menempelkan dahi kita ke bumi untuk sujud kepada Allah.

Pelan-pelan, Lukas mulai meninggalkan kebiasan lama. Ia sudah tak makan daging babi dan minum minuman keras. Mulai belajar shalat dari internet karena di tempatnya tinggal, di Walsrode belum ada masjid satu pun.

“Saya melakukan shalat sekali sepekan kemudian bertahap sekali sehari begitu pula jika datang bulan Ramadhan saya mulai puasa beberapa hari.”

Sampai usia saya 16 tahun, Lukas mengaku mantap masuk Islam dan berusaha menjalankan Islam dengan konsisten termasuk shalat lima waktu dan puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan tidak pernah ditinggalkan.

Lukas butuh waktu tiga tahun, dari mulai mencari agama sampai saya memeluk Islam.

Setelah mulai mengenal Islam, Lukas juga member tips para dai agar lebih diterima dakwahnya pada nonMuslim. Ia mengharap agar para dai dalam dakwah mereka tidak dengan cara setengah memaksa.

Lukas mengaku pernah bertemu dengan non Muslim yang sedang mencari kebenaran, namun sang dai memaksa agar orang non Muslim segera masuk Islam.

“Kalau Anda tidak segera masuk Islam, Anda mati maka dan masuk neraka selama-lamanya,” ujarnya dikutip Lukas.

Cara seperti in,  justru membuat si non Muslim tak akan mengucapkan dua kalimat syahadat. Bahkan dia akan lebih  mudah murtad suatu hari nanti.  

Lukas juga berpesan pada kaum Muslimin Indonesia bersyukur bisa menikmati Islam sejak lahir.

“Saya berpesan untuk kaum muslimin di Indonesia dan di seluruh dunia agar mereka bersyukur kepada Allah yang telah mengaruniakan mereka nikmat hidayah sejak mereka lahir. Hendaknya saudara-saudara kita kaum Muslimin bersyukur bahwa keluarga mereka juga Muslim. Rasa syukur kepada Allah ini harus direalisasikan dengan kesungguhan mempelajari Islam, mempelajari al Quran dan As Sunnah dengan metodologi yang benar yaitu memahami dan mempraktekkan Islam dengan pemahaman dan praktek para sahabat radhiallhu anhum. Karena dengan mengikuti ijma’ (kesepakatan) mereka berarti kita berjalan di jalan Allah sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.”

Mendirikan Rumah Tahfidz

Kini, setelah menikmati indahnya Islam, Lukas bercita-cita ingin membuka sekolah Tahfidz al Quran. Lukas mengaku, sudah menghafal 7 juz dan berusaha untuk menyempurnakan sampai 30 juz.

Dia berkeyakinan bahwa umat Islam akan bersatu dan saling mencintai jika kaum Muslimin mengamalkan al-Quran. Semoga Allah mengabulkan dan meralisasikan cita-cita Lukas dan memberikan taufik kepadanya dan kita semua, amin.*

 Dikirim Fariq Gasim Anuz, Jeddah, Jumat, 4 Oktober 2013. Email: [email protected]

Rep: -
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Ilustrasi Mabuk

Kisah Mantan Pemabuk: Ya Allah, Masih Adakah Ampunan Bagiku?

Mengubah Benci Menjadi Cinta

Mengubah Benci Menjadi Cinta

Kisah Kesabaran Ibu Dianugerahi Tiga Anak Tunanetra

Kisah Kesabaran Ibu Dianugerahi Tiga Anak Tunanetra

Riba, Berkah Sedekah dan Laptop Merah

Riba, Berkah Sedekah dan Laptop Merah

Doa si Mbah dan Kesyukuran

Doa si Mbah dan Kesyukuran

Baca Juga

Berita Lainnya