Kamis, 25 Maret 2021 / 12 Sya'ban 1442 H

Cermin

Ketika Para WTS Belajar Taharah dan Mengaji

Bagikan:

Hidayatullah.com–Aula lantai dua Taman Pendidikan Islam Roudlotul Khoir, Bangunsari, Surabaya Jawa Timur, Rabu, (10/8/2011) siang ini tampak berbeda. Tempat yang luasnya sekitar setengah lapangan futsal ini penuh oleh sekitar 40 Wanita Tuna Susila (WTS). Sekilas, mereka tidak seperti penjaja seks. Mereka mengenakan kerudung dan pakaian sopan. Hanya beberapa saja yang berdandan menor.

Sejak pagi mereka berkumpul di TPI milik Khoiron Syu’aib ini untuk menghadiri kajian Islam yang diadakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur. Mereka terlihat antusias melihat kajian thaharah dan tata cara shalat yang disampaikan Ketua Komisi Fatwa MUI Jatim, KH. Abdurrahman Navis.

“Apa saja benda yang najis, ibu-ibu?” tanya Pengasuh Ponpes Nurul Huda, Jl Sencaki, Surabaya.

“Babi, anjing, darah, nanah, dan…” jawab peserta serentak. Kajian yang diadakan kiai Navis terlihat efektif dan interaktif. Agar tidak monoton ia menggunakan layar LCD dan menampilkan beberapa video simulasi cara bersuci dan wudhu.

“Ibu-ibu tau cara membasuh najis besar (mughalladzah)?” kembali kiai Navis bertanya. Para peserta tampak diam. Mereka hanya melihat layar monitor yang terpampang di depan mereka.

Kiai Navis kembali menjelaskan. “Caranya dibasuh tujuh kali. Enam kali dengan air dan satu kali dicampur debu,” paparnya. Peserta pun mantuk-mantuk tanda paham.

Setelah membahas taharah (bersuci), kiai Navis beralih ke pembahasan tata cara wudhu. Ia tidak perlu memperagakan tata cara wudhu. Peserta tinggal melihat sendiri di layar monitor. Ia hanya membimbing dengan memberi penjelasan.

“Bagaimana ibu-ibu. Sudah bisa berwudhu sekarang?” tanyanya.

“Sudah pak kiai,” jawab mereka serentak dengan sangat yakin.

Setelah itu, ia pun beralih kepada pembahasan shalat. “Sudah bisa shalat semua?” tanya lagi. “Sudah…” jawab mereka.

Ia pun menyuruh semua peserta berdiri untuk memeperagakan shalat.

“Ayo, sekarang takbir semua. Allahu Akbar,” kata Kiai Navis. Peserta pun mengikuti. Kali ini suasana berubah hening. Mereka tampak hanyut dalam takbir.

Tidak hanya itu, ketika disuruh membaca niat shalat, surah alfatihah dan bacaan shalat lainnya, ternyata mereka juga bisa. Mereka tampak menikmati latihan shalat tersebut. Bahkan, ketika rukuk dan sujud, ada beberapa yang meneteskan air mata.

“Kita sayang kepada kalian. Kalian adalah saudara kita,” ujarnya ketika memberi tausiyah di akhir acara. Navis pun menjelaskan, shalat itu dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Karena itu, ia berharap, para WTS mengerjakan shalat dan akhinya tobat untuk selamanya.

“Allah sangat sayang kepada hambanya yang mau bertobat, seberat apapun dosanya,” terangnya lagi. Ia pun meminta agar para WTS pulang ke kampung halaman dan berhenti praktek menjual diri lagi.

“Kami sangat berharap kalian bisa pulang bertobat dan berhenti dari perbuatan keji dan mungkar ini,” tegasnya.

Ia menjelaskan, masih banyak lahan rezeki lainnya yang halal kalau mau berusaha. Apalagi, Allah telah berjanji akan memberikan jalan ke luar bagi setiap hamba yang bertakwa kepada-Nya. “Wamaiyyataqillahayyaj’allahu makhroja,” katanya mengutip potongan ayat al Quran.

Pendek kata, kajian singkat dari MUI Jawa Tomur ini membuat peserta tersentuh.

Sofiyah, WTS berusia sekitar 50 tahun merasakan geteran yang bergejolak dalam batinya.

“Saya jadi sadar bahwa apa yang telah saya lakukan itu haram, berdosa,” terang wanita yang telah beroperasi sekitar 20 tahun silam ini kepada hidayatullah.com.

WTS asal Kabupaten Blitar, Jatim ini pun berniat akan mengakhiri profesinya itu secepat mungkin.

“Insya Allah akhir bulan ini saya akan berhenti dan kembali ke tempat asal, Blitar. Saya punya keluarga yang menanti saya di sana,” tutur perempuan paruh baya yang terlihat mulai rapuh itu.

Acara tersebut ditutup dengan pembagian paket kepada 30 WTS dari Badan Wakaf Suara Hidayatullah yang bekerjasama dengan MUI Jatim, Pemprov Jatim, dan Pemkot Jatim. Paket itu berisi al-Quran, mukena, dan sejumlah makanan. Total per paket sekitar Rp 250 ribu.

Pemberian paket cuma-cuma itu mendapat respon sangat positif dari para WTS.

“Saya sangat senang sekali. Insya Allah saya akan memanfaatkan ini dengan sebaik-baiknya,” kata Sriyati, WTS yang berusia 29 tahun.*

Rep: Syaiful Anshor
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Dimudahkan Allah dari Manfaat SAR

Dimudahkan Allah dari Manfaat SAR

Kerupuk Ikut Mengantarnya Sebagai Sarjana

Kerupuk Ikut Mengantarnya Sebagai Sarjana

Pernah Merasakan Hidup Menyebalkan, Kini Ia Optimis Menjalani Bersama Islam

Pernah Merasakan Hidup Menyebalkan, Kini Ia Optimis Menjalani Bersama Islam

Memilih Jalan Santri

Memilih Jalan Santri

Tak Ingin Bepaling DariMu Hanya Karena Ingin Buah Hati

Tak Ingin Bepaling DariMu Hanya Karena Ingin Buah Hati

Baca Juga

Berita Lainnya