Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Cermin

Pilih Jadi Dokter atau Calon Ibu?

Bagikan:

Hidayatullah.com–Menjadi dokter adalah impianku bahkan sejak aku berusia 2 tahun (kata Abi). Menurut beliau, sejak kecil aku sangat menghayati cita-citaku itu, katanya aku sangat berjiwa sosial; tak ragu untuk mengulurkan tangan dan memberi semaksimal mungkin bila mendapati orang lain sedang kesusahan, lebih lebih pada orang sakit (contoh kecil dan yang sering, saat nenekku jatuh sakit, maka aku adalah orang pertama yang sangat tanggap dan berusaha agar nenekku sembuh). Lalu katanya aku adalah anak yang cerdas dan kritis sejak kecil, rapi dan suka bersih-bersih (kebiasaan menjaga kebersihan sangat berpengaruh pada profesi ini), namun ketika aku beranjak dewasa, aku mulai mengenal dengan baik tentang genderku beserta kodrat-kodratnya.
Aku adalah seorang wanita…
Aku adalah seorang Muslimah…
Dan aku adalah calon ibu!!!
Siapapun pasti setuju bahwa Ibu adalah jabatan yang paling berat yang pernah diemban dalam sejarah manusia (bahkan Rasulullah SAW pun mengakuinya dengan member penghargaan 3 kali lipat dalam hal kemulyaan, penghormatan dan keutamaan dibandingkan posisi Ayah). Bukan memasak, bersih bersih, mencuci, menyiram bunga, merawat kucing atau pekerjaan remeh temeh seperti itu tugas utama seorang wanita, melainkan “menjadikan anak-anaknya sebagai generasi hebat”. Mungkin kata hebat sangatlah subyektif dan tak memiliki parameter tegas dalam angka-angka, namun siapapun pasti setuju bahwa citra “hebat” seorang manusia adalah mereka yang berada di jalan yang benar, sholih sekaligus mushlih, cerdas akal sekaligus nuraninya, sehat jasmani maupun ruhaninya, berjiwa mulia, rendah hati namun tak rendah diri, tegas namun lemah lembut, mandiri, bermental baja, tegar, teladan sempurna dan lain sebagainya. Dan yang perlu digaris bawahi adalah semua orang tau bahwa mencetak manusia semacam ini bukanlah proyek kecil dan mudah!!!
Menyadari agungnya tanggung jawab yang akan ku pikul kemudian aku menghitung-hitung kelebihan dan kekuranganku, mampukah aku menjalankan tugas utamaku sebagai wanita dengan segala yang ku miliki dan tak ku miliki saat ini? Inilah perhelatan besar batinku. Antara bersikeras mewujudkan cita-cita pribadi yang ku bangun sejak usia 2 tahun atau menjadi ibu rumah tangga yang total jalankan fungsinya sebagai tarbiyah ula bagi anak-anaknya, sang penerus peradaban!
Menginjak masa akhir SMU aku membuat suatu keputusan besar, aku menyampaikan pengunduran diri kepada Abi, aku mengundurkan diri dari mimpi menjadi Dokter, Senator kampus dan General Director of WHO. Sungguh di luar dugaan, Abi hanya menjawab:
“Mbak masih kecil”.
Astaghfirullah… aku benar benar tak mengerti maksud Abi, mengapa Abi meremehkan aku sedemikian rupa? Apakah hafalan Qur’anku tak cukup untuk menjadi seorang Ibu yang baik? Apakah kelembutan dan kebijaksanaanku tak cukup untuk jadi Ibu panutan anak-anaknya? Apakah ketaatanku tak cukup untuk membuktikan bahwa aku bisa jadi istri yang amanah? Apakah dengan menimba ilmu di pesantren selama 7 tahun tak cukup bagiku untuk mendidik anak anak di jalan Allah dan menjadi ibu rumah tangga yang mampu menyelesaikan semua pekerjaan rumah tangga dengan baik tanpa perlu khodimah?
Langit menyaksikan kekecewaanku dan langit pun menyaksikan kesungguhan ucapan Abi, manusia yang 34 tahun lebih awal hidup di dunia ketimbang aku.
Bertahun tahun aku merajut impian kembali, belajar dengan baik di Fakultas Kedokteran Unair, aktif di BEM Fakultas maupun Universitas, menjadi senator di Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia selama 3 tahun (dengan jabatan terakhir sebagai Majelis Pertimbangan Agung), aktif di Lembaga Da’wah Kampus, tetap mengikuti halaqoh dan kajian kajian lain, tetap muroja’ah al-Qur’an untuk menjaga hafalanku, aktif di lembaga kemanusiaan lainnya, pernah dalam masa “jatuh”, lalu bangun, jatuh lagi, bangun lagi, terus seperti itu. Semua ku lakukan dengan ikhlas, berharap ridho Allah dan orangtua. Ikhlas karena aku tak tau, apakah semua yang ku lakukan ini membawa manfaat atau mudhorot bagiku, aku hanya berprasangka baik pada Allah azza wa jallah, Tuhanku!
Hingga di tahun terakhir pendidikanku, aku dilamar oleh seorang lelaki (yang tak bisa ku katakan baik, karena ia terlalu sempurna untuk sekedar dibilang baik. Ia adalah gambaran total dari lelaki yang kusebut-sebut sosoknya dalam doa doaku bahkan sejak aku masih belum mengerti betul apa itu pasangan hidup!).
Dengannya aku berdiskusi tentang konsep rumah tangga dan peran masing-masing di dalamnya. Well, Sesi yang paling ku suka adalah ketika ia memahamkanku bahwa memasak, bersih bersih, dll merupakan kewajibannya sebagai suami, tulang punggung keluarga, sang pencari nafkah, yang nafkah itu bukan hanya dalam bentuk “MENTAHAN” saja. (Duh, senangnyaaa hatiku).
Dalam perjalanan dan diskusi panjang kami, kini aku mengerti dan paham betul, bahwa semua yang ku lewati kemarin, jejalan ilmu dan segala kesibukan juga padatnya jadwalku, itu adalah bekal spesial untuk jadi istri yang amanah, menyejukkan mata, hati juga menentramkan jiwa dan pikiran, sekaligus sebagai Ibu yang menjadi sumber ilmu yang tak habis habisnya digali dan panutan dalam segala hal bagi anak-anaknya. Akhirnya aku tetap pada kesadaranku yang dulu, bahwa aku adalah wanita yang di pundakku terletak keseimbangan rumah tangga dan masa depan anak-anakku. Bila aku mampu (atau hanya sekedar merasa mampu) membantu suamiku dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan mencari nafkah, maka akan ku lakukan. Artinya, bila aku lulus jadi istri dan Ibu yang amanah, barulah aku memasang plang praktik dokter dan kembali aktif di politik maupun lembaga sosial lainnya.
Maaf sebelumnya kawan, bukan aku mengkhianati sumpah dokter dari Hippocrates, toh bisa saja kita jadi ibu rumah tangga sekaligus jadi dokter, aktivis, politisi atau apapun itu karena semua wanita bisa bekerja di luar sekaligus punya anak-anak yang lucu, tapi tak semua wanita mampu mencetak generasi jempolan sambil bekerja keras di “luar”.
Sekali lagi kawan, semua orang tau bahwa mencetak manusia semacam “itu” bukanlah proyek kecil dan mudah! Aku masih tetap Dokter yang dengan senang hati membantu siapapun yang membutuhkan, silahkan datang, tapi saya tidak memilih praktek terjadwal dan terikat kontrak apapun.
Aku pun insya Allah masih akan meneruskan pendidikan spesialis dan terus menerus meng-up date ilmu baik kedokteran maupun non-kedokteran melalui seminar ataupun kajian kajian, mengutip perkataan calon suamiku:
“Mendapatkan istri yang bisa membantu tugas suami adalah berkah yang besar bagi suami.” Sekali lagi, bila suatu saat aku “mampu membantu” suamiku, akan ku sambut panggilan jihad di ranah itu dengan segenap hati”!
Kini aku tau maksud Abi dengan kenapa aku disebut “masih kecil”. Mungkin barangkali dalam hati beliau melanjutkan: “Belajarlah lebih banyak Nak, jadilah Dokter yang menghargai ilmu dan amalnya, jadilah aktivis senat dan aktivis da’wah yang mampu menahkodai kapalnya dengan baik, jadilah apapun yang kau mau Nak, karena itu adalah bekal utama untuk menjadi Ibu yang sempurna! Karena dalam buaian dan belaianmu lah lahir Pemimpin Hebat! Teruskan proses belajarmu Nak, jadilah Ibu yang sempurna!”.
Menetes air mataku menyadari cinta Abi yang begitu besar dan ternyata Beliau mengenalku lebih dari aku mengenal diriku sendiri. Terima kasih Abi, Mama (Mama yang Ibu Rumah Tangga yang penuh potensi, yang membangun bisnis salon di rumah saja), terima kasih untuk telah mendidikku dengan sempurna. Kini giliranku untuk memanfaatkan warisan terbesarmu ini.
Kini, saya paham kenapa saya harus belajar sebanyak-banyaknya karena akan mengamalkan dan mengajarkan yang terbaik.
Ah, rasanya aku sudah tak sabar menjadi calon ibu. [Thufailah A-Laitsy,Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dan Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia/hidayatullah.com]

Rep: Cholis Akbar
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Kiriman Amplop Itu Datang Bertubi-tubi

Kiriman Amplop Itu Datang Bertubi-tubi

Dari Pentas Hiburan menuju Pentas Dakwah

Dari Pentas Hiburan menuju Pentas Dakwah

Allah Menggantinya dengan Seorang  Khafidzah

Allah Menggantinya dengan Seorang Khafidzah

My God Didn’t Help Me…!

My God Didn’t Help Me…!

Mohammad Dris, Hidup Sendiri di Hutan Lebih 30 Tahun

Mohammad Dris, Hidup Sendiri di Hutan Lebih 30 Tahun

Baca Juga

Berita Lainnya