“Bangkit” dari Terjangan Tsunami Aceh

Musibah tsunami telah memisahkanku dengan orangtua dan saudara. Di sisi lain, membuatku dekat dengan Islam dan agama

Terkait

Hidayatullah.com–Aceh, 26 Desember 2004. Pagi itu, langit cerah. Semilir angin dari balik rimbun pepohonan kelapa terasa sejuk menerpa wajah. Dengan langkah sedikit gontai, aku berjalan menuju rumah. Kedua mata yang kelap-kelip, ku buka lebar-lebar. Belajar al-Qur’an di dayah (Pesantren) tadi malam menyisakan kantuk yang amat sangat. Kalau bukan karena janji dengan bapak, aku pasti masih berselimutkan sarung di surau bersama teman-teman.

Sejak SMP aku punya kebiasaan baru; pisah tidur dari orangtua. Setiap malam, bersama teman-teman, aku menghabiskan waktu dengan belajar dan tidur di dayah yang berada tak jauh dari rumah. Kebetulan, tadi malam aku telat tidur hingga larut malam karena keasikan ngobrol dengan teman-teman.

Bapak ternyata telah menungguku. Ia beridiri di depan pintu sambil tangan kekarnya memegang kampak besar. Bola matanya yang tajam tak berpaling sedikitpun dariku.

“Nur, lekaslah ganti baju. Setelah itu, kau tebang pohon kelapa di pojok halaman sana. Batangnya nanti untuk bikin WC,” ujarnya sambil mengulurkan kampak.

“Iya, pak. Saya ganti baju dulu,” jawabku pendek.

Bapak lalu pergi menuju sumur di samping rumah sambil membawa sabun mandi, sikat gigi dan odol. Handuk kusam dengan warna gelap dililitkan di lehernya. Badan yang kurus dan hitam tapi berotot besar itu hilang di balik anyaman daun kelapa.

“Byur..byur,” hanya itu yang bisa aku dengar.

Belum sempat masuk, tiba-tiba kakaku keluar. Sepertinya dia hendak melaut mencari ikan.

“Mau kemana, bang?” tanyaku. “Mau melaut. Sudah lama libur makan ikan,” jawabnya pendek sambil mengusap-usap kepalaku.

“Jaga bapak dan ibu, ya” pesannya pendek. Heran, padahal selama ini, pesan itu tidak pernah diucapkannya. Tapi, entahlah aku tak mau terlalu pusing dengan pesan itu. Aku buru-buru masuk rumah.

Bau harum nasi goreng terasa menusuk hidung. Ibuku nampaknya sedang memasak kesukaanku. Ayu ku sedang sibuk menggendong si kecil yang baru berumur tiga tahun. Diam. Tak banyak bergerak si kecil ketika itu. Tak seperti biasanya yang rewel dan suka nangis. Di kursi, di pojok ruang tamu, nenek sedang terpekur memikirkan sesuatu ditemani dua saudaraku.

Menebang pohon kelapa bukan hal sulit bagiku. Sekali pukul, lobang sedalam 5 cm telah menganga. Sekitar sepuluh pukulan batang kelapa yang tingginya kira-kira 15 m itu hampir tumbang. Mungkin, tinggal lima atau tujuh pukulan lagi.

Tapi, ketika kampak hendak aku anyunkan lagi, tiba-tiba badanku bergoyang. Tanah tempat berpijak, bergetar hebat.” Gempa-gempa” teriakku. Untung saja gempa tersebut hanya terjadi beberapa menit. Entah apa jadinya jika berjam-jam. Mungkin, tanpa ditebang, pohon kelapa akan tumbang sendiri. Kendati begitu, tak terpikir olehku hal buruk akan terjadi. Mungkin hanya gempa bumi biasa.

Karena itu, aku melanjutkan menebang pohon. Baru satu tebangan, tiba-tiba dari arah laut, sekitar 3 km, terlihat ramai-ramai orang berhamburan berlari. Aku lihat seksama. Antara percaya dan tidak. Ternyata, di belakang mereka gelombang air hitam setinggi 5 m seolah mengejar mereka dan ingin menelan mereka.

Rumah, pagar, pohon apapun benda yang ada hancur luluh lantak diterjang. Aku pun langsung berlari kencang menuju rumah.

“Tsunami, tsunami..!” teriakku. Bapak, ibu, ayu, si kecil, dan nenek ku suruh berlari menyelamatkan diri. Tapi, tidak dengan nenek. Dia tetap bersikukuh di dalam rumah. Bahkan, dia menyuruhku mengangkat TV. Perintah nenek terpaksa ku abaikan.

“Ayo kita pergi, nek! Ada tsunami.” Teriakku. “Nggak, nenek di sini aja jaga rumah,” jawabnya. Terpaksa, nenek aku tinggal sendirian. Menggendongnnya pun tak mungkin.

Bapak, ibu, ayu dan si kecil telah berlari. Aku kejar mereka. Entah kenapa, di sebuah tikungan kami berpisah. Mereka ke sebelah kanan sedangkan aku ke kiri. Saking takutnya, aku tak menghiraukan apapun. Pokoknya berlari dan terus berlari sekencang-kencangnya. Aneh, sejauh 3 km, saya bisa berlari tanpa henti. Lalu. aku pun berhenti di sebuah tambak dengan nafas masih tersengal-sengal. Gelombang hitam pekat itu masih saja mengejarku. Untung saja, gelombang itu berhenti tertahan oleh pembatas tambak. Saya pun selamat.

Tapi, bagaimana dengan bapak, ibu, nenek, ayu, si kecil saudaraku yang lainnya? Aku hanya bisa berdoa. Esok harinya, betapa sedih dan pedihnya hatiku, ketika ku tahu ternyata bapak, ibu dan dua saudaraku meninggal. Ketika mereka berbelok ke kakan, menuju ke sebuah rumah berlantai dua dan berdiam di sana. Rumah tersebut tidak mampu menahan terjangan gelombang tsunami dan porak poranda. Mereka meninggal di dalamnya. Begitu juga nenek. Nenek meregang nyawa di rumah yang ingin dia selamatkan.

Untung saja, kakaku yang sedang melaut selamat. Ketika tsunami menerjang, dia memanjat pohon kelapa. Begitu juga dengan ayu dan si kecil. Alhamdulillah, mereka selamat. Ayu memanjat pohon dengan si kecil berada di pundaknya. Subhanallah. Engkau masih sisahkan saudaraku, ya Allah.

Ingin jadi ustad dan pengusaha

Ketika itu aku benar-benar rapuh. Betapa tidak, dalam sekejap, keluarga yang saya cintai, pergi selamanya dan tidak pernah kembali. Harta peninggalan pun tak ada. Kendati begitu, aku tak mau berlama-lama dirundung duka. Aku harus segera bangkit.

Tiba-tiba, sebuah LSM peduli kemanusiaan menawariku membiayai sekolah hingga kuliah. Aku pun senang-senang saja. Berarti ada jaminan lanjut sekolah. Tapi, entah kenapa, tiba-tiba LSM tersebut membatalkan gara-gara kendala tekhnis. Entah apa, aku juga tidak paham.

Tiba-tiba, ada seorang ibu, sebut saja Ida menawariku masuk pesantren. Aku pun mengiyakan. Lagi pula, belajar di pesantren bukan hal asing bagiku. Bukankah sejak dulu aku sudah tinggal di dayah.

Sore itu, ibu Ida datang bersama seorang bapak-bapak. Ia berjenggot tipis dan rambutnya sedikit beruban. Ibu Ida menyuruhku ikut dengan pria yang ternyata bernama Wahyu Rahman, aktivis LSM yang berada di sebuah pesantren. Dengan senang hati aku pun mengiyakan. Di pesantren, aku melanjutkan SMA. Kerjaanku ketika itu, membantu mengambil sayur untuk para santri di pasar. Tiga tahun saya tinggal hingga tamat.

Alhamdulillah, aku juga bisa kuliah di sebuah perguruan tinggi ekonomi di Depok, Jabar. Selain menimba ilmu di kampus, saya juga belajar banyak tentang Islam. Saya bercita-cita ingin jadi ustad sekaligus pengusaha. Saya berani kuliah kendati tidak memiliki sepeser pun dana. Tapi saya percaya, Allah akan menolong hambaNya. apapun saya akan kerjakan asal bukan meminta-minta. [Anshor, seperti diceritakan M Nur, korban tsunami Aceh kepada hidayatullah.com]

Rep: Cholis Akbar

Editor: Cholis Akbar

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !