Menyambangi Majelis Ilmu Murid Syeikh Yasin Padang di Kairo

Menyambangi Majelis Ilmu Murid Syeikh Yasin Padang di Kairo

Terkait

13 penuntut ilmu terlihat duduk di atas karpet dengan “kusyuk”. Dari jumlah itu, hanya satu penuntut ilmu yang berasal dari Indonesia, sisanya berasal dari Malaysia. Satu pelajar dari Pattani absen.

Di tengah-tengah pembacaan Al Idhah karya Imam An Nawawi yang membahas mengenai haji tersebut, Sang Guru yang duduk di atas kursi menanyakan keberadaan murid yang dari Pattani itu,”Mana Umar Faththani? Mungkin dia ada masalah dengan transportasi, mari kita doakan semoga tidak terjadi apa-apa”. Lantas beliau mengangkat kedua tangan dan berdoa dengan diikuti oleh para murid yang duduk di karpet dan pembacaan kitab pun dilanjutkan.

Di sela-sela penjelasan Sang Guru sering menyebut ungkapan “ulama jawiyin” (para ulama Nusantara) yang tinggal di Makkah, baik ketika mengisahkan salah satu dari mereka ataupun menjelaskan pandangan mereka terhadap persoalan-persoalan tertentu.

Di akhir pembahasan ulama yang memiliki nama Syaikh Mahmud Said Mamduh itu pun mengulang poin-poin penting dari isi kitab yang di baca pada pertemuan  yang dimulai setelah shalat maghrib dan diakhiri sebelum isya’ itu.

Demikianlah yang berlaku di “Zawiyah Syeikh Mahmud Said Mamduh”, majelis ilmu yang digelar di apartemen yang berada di basement salah satu gedung di Hay Asyir, Nasr City, Kairo.

Sebelumnya Umar, mahasiswa pasca sarjana Universitas Ains Syam jurusan Syariah yang dua tahun mengikuti majelis ini menyampaikan bahwa Syeikh Mahmud adalah pengganti Syeikh Yasin, ulama Nusantara yang bergelar “musnid dunya” itu untuk di Mesir.

“Ketika di majelis, Syeikh Yasin selalu meminta Syeikh Mahmud untuk duduk di samping kanan beliau. Dan Syeikh Ali Jum’ah (mantan mufti Mesir) memperoleh ijazah periwayatan dari Syeikh Yasin melalui Syeikh Mahmud”, ungkap pelajar dari Pattani ini.

Masih menurut penuntut ilmu yang memperoleh periwayatan Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Syeikh Mahmud ini, bahwa untuk periwayatan hadits Syeikh Mahmud mengambil dari Syeikh Yasin dan untuk kritik sanad Syeikh Mahmud memperoleh dari Syeikh Abdullah bin Shiddiq Al Ghumari ulama hadits dari Maroko.

Laki-laki lulusan Fakultas Syari’ah Al Azhar ini mengisahkan bahwa ia mengikuti kajian Syeikh Mahmud pertama kali di “Rumah Kedah” asrama pelajar Malaysia di Kairo tahun 2007. Saat itu yang mengundang Syeikh Mahmud untuk berceramah adalah Syeikh Nuruddin Al Banjari, ulama Banjar yang juga pernah berguru kepada Syeikh Yasin di Makkah. Dimana beliau di waktu itu secara rutin berkunjung ke Kairo dalam rangka membuka majelis ilmu di asrama Malaysia yang diikuti oleh pelajar-pelajar dari negeri jiran tersebut.

“Dari kalangan pelajar tidak banyak yang tahu mengenai Syeikh Mahmud” Ungkap Ibnu Ishaq, pelajar Fakultas Ushuluddin Al Azhar yang berasal dari Malaysia ini, ketika ia ditanya mengenai terbatasnya jumlah yang hadir di majelis itu.

Laki-laki berkacamata yang juga sudah dua tahun tinggal di apartemen yang digunakan sebagai majelis tersebut pun lantas menunjukkan sebuah buku karya Syeikh Mahmud Said Mamduh yang berjudul Tasynif Al Asma’ yang berjumlah dua jilid,”Ini adalah guru dari para guru Syeikh Yasin”.

Dalam buku tersebut tercatat labih dari 200 biografi para ulama yang hidup semasa dengan Syeikh Yasin Al Fadani, ulama Nusantara yang tinggal di Makkah itu. Dari jumlah itu, ada 20 ulama Indonesia yang  pernah belajar di Makkah biografinya tercatat, salah satunya adalah biografi Kyai Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama yang berasal dari Jombang.

Pelajar berkacamata tebal ini mengatakan bahwa gurunya di Malaysia rela membeli apartemen di basement untuk tempat tinggal sejumlah muridnya sekaligus sebagai majelis ilmu agar mereka bisa berdekatan dengan rumah Syeikh Mahmud yang tinggal di lantai 5 di gedung yang sama. Dan sang guru memohon secara langsung kepada Syeikh Mahmud agar memberikan pendidikan langsung kepada para muridnya yang belajar di Al Azhar.

Ya, Syeikh Yasin Al Fadani memang ulama Indonesia, namun beliau bukan hanya milik orang Indonesia, tapi telah menjadi milik “dunia Islam”. Siapa yang bersedia berpayah-payah akan mewarisi ilmunya, tidak memandang ia berasal dari Indonesia, Malaysia atau dari negeri antah berantah.

 

 

 

 

 

 

 

 

Rep: Sholah Salim

Editor: Thoriq

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !