Nil Sungai Surga

Warga Mesir tidak akan tega membuang sampah atau limbah karena mereka juga yang akan menelannya, karena semua konsumsi air di Mesir bersumber dari sungai ini

Nil Sungai Surga
hidayatullah.com/Sholah Salim
Warga Mesir tidak akan tega membuang sampah atau limbah karena mereka juga yang akan menelannya, karena semua konsumsi air di Mesir bersumber dari sungai ini

Terkait

KINI saya mulai akrab dengan sungai Nil, sungai yang membelah jantung kota Kairo itu, karena perjalanan menuju tempat saya menuntut ilmu melalui jembatannya yang berada di dekat Tahrir.

Di musim dingin seperti saat ini justru sungai Mil terlihat surut, sejumlah kapal resto yang berada di tepian terlihat seperti kandas. Berbeda dengan kondisi tatkala musim panas, justru debit airnya naik. Inilah salah satu kekhususan sungai Nil dibanding sungai lainnya.

Seorang ilmuwan Arab At Tifasyi pernah menjelaskan,”Jika sungai besar yang lain memberi manfaat, namun juga membahayakan karena banjir jika airnya lebih dan kurangnya air terhadap wilayah yang dilaluinya. Sedangkan Nil bagi Mesir kadar airnya telah disesuaikan.”

Para ulama Mesir terdahulu ternyata sudah mengamati gejala ini, Al Hafidz As Suyuthi menyebutkan dalam Hushn Al Muhadharah bahwa naiknya sungai Nil di musim panas karena mencairnya salju. Ada yang berpendapat bahwa bertambahnya air di musim panas karena banjir di negeri Habasyah (Etiopia) yang mana airnya baru sampai di Mesir pada musim panas.

Keunikan Nil yang saya saksikan, bahwa sungi Nil meski berada di tengah kota, di wilayah di mana keadaan fasilitas umum yang berupa toilet terlihat amat mengenaskan, demikian juga masih terlihat di sejumlah tempat sampah-sampah bertebaran namun sungai Nil tetap bersih, biru, seperti sungai-sungai di Eropa.

Sepanjang tepinya taman dengan yang tersedia bangku-bangku bagi mereka yang ingin rehat sambil menyaksikan keindahan Nil.Tidak terlihat, sampah teronggok di bantarannya, apalagi “jamban helikopter”, tidak pula terlihat orang jongkok dalam rangka membuang hajatnya.

Saya ingat dulu ada teman senior yang sudah lama tinggal di Kairo menyampaikan kepada saya, menanggapi adanya kebiasaan sejumlah orang yang masih suka buang air kecil di tembok-tembok tepi jalan ketika di malam hari mengatakan, ”Pepatah orang Mesir, silahkan kencing di mana saja, asal jangan di sungai Nil!”

Tentu warga Mesir tidak akan tega membuang sampah atau limbah karena mereka juga yang akan menelannya, karena semua konsumsi air di Mesir bersumber dari sungai ini. Air yang mengalir ke kran rumah-rumah Mesir berasal dari sungai ini kini dan dulu.

Dari air Nil pula pertanian dan perkebunan Mesir menggeliat, hingga tidak di bayangkan di negeri yang mayoritas daratannya berupa padang pasir ini bisa menghasilkan buah pisang.

Hal ini bukan karena perkembangan pengetahuan namun memang pisang merupakan buah Mesir sebagaimana disebutkan oleh Imam As Suyuthi.

Imam As Syafi’i sendiri terpesona dengan tebu Mesir hingga beliau mengatakan, ”Kalau bukan karena perasan tebu, aku tidak akan tinggal di Mesir”.

Bahkan di musim dingin seperti ini, musim pohon jeruk berbuah dengan melimpah. Harga satu kilogram jeruk hanya 2 pound Mesir, yakni sekitar 3500 rupiah!

Untuk anggur hijau yang biasanya marak di musim panas, harga per kilogramnya juga tidak jauh dari harga jeruk, meskipun rasa manisnya sampai menimbulkan serak di tenggorokan. Demikian pula begitu banyak varian buah yang bisa hidup di negeri ini, hingga Al Kindi pernah mengatakan,  ”Sebagian orang-orang berilmu mengatakan bahwa di dunia tidak ada pohon, kecuali dia dijumpai di Mesir.”

Kenikmatan yang besar dari Allah melalui sungai Nil ini dirasakan oleh penduduknya sejak masa-masa terdahulu, di mana mereka mengadakan perayaan ketika air sungai Nil melimpah, yang disebut wafa’ an nil yang dilanjutkan di masa Islam.

As Shalah Ash Hafdi bersajak, ”Telah melimpah air Nil di tahun kita. Maka ia menenggelami bumi dengan nikmatnya.”

Kebiasaan ini dilanjutkan dengan menyebarkan kabar gembira dari penguasa di saat Nil melimpah airnya, yang terkandung di dalamnya pengingatan akan nikmat Allah dengan sungai Nil serta ajakan untuk mensyukurinya yang disebut dengan bisyarah wafa’ an nil (kabar gembira melimpahnya Nil).

Qadhi Al Fadhil menuliskannya untuk Sultan Shalahuddin Al Ayubi, demikian pula Qadhi Muhyiddin menuliskan untuk sultan guna dikirimkan ke gubernurnya di Halab, Ash Shalah Ash Shafdi juga menuliskannya untuk sejumlah gubernur.

Amat pantas jika posisi Nil begitu berharga karena manfaatnya cukup besar terhadap kehidupan dan peradapan manusia karena Nil sendiri memiliki kekhususan di hadapan Allah. Di mana Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, ”Nil, Sihan, Jihan, Eufrat dari sungai-sungai surga.” (Riwayat Muslim).*

Rep: Sholah Salim

Editor: Cholis Akbar

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !