Jum'at, 22 Oktober 2021 / 16 Rabiul Awwal 1443 H

Wawancara

Ahmad Kainama: “Saya Bersyahadat Setelah Mempelajari Bibel”

Bagikan:

Hidayatullah.com | KEPUTUSAN  Kai—sapaan akrabnya—menjadi seorang Muslim justru karena setelah ia mempelajari serta memperdalam kitab Injil sebagai kecintaannya kepada Yesus.  Pria kelahiran Jakarta Ini, menyelesaikan pendidikan S1 di Sekolah Tinggi Theologi Menteng, Jakarta Pusat, S2 di Leiden Universiteit, Belanda (Theology Liturgy), dan S3 TNKH (tanakh, torah nevi’im ketubh’vim) Biblical Study di Haiva, Palestina.

Semua biaya pendidikan ditanggung oleh sebuah gereja di Bogor, Jawa Barat. Gereja di mana dia bertugas menjadi pendeta sejak tahun 2005.

Anehnya, sepulang dari Haiva, Kai langsung menuju Masjid Sunda Kelapa Jakarta, untuk mengucapkan 2 kalimat syahadat pada tahun 2009. Baginya menjadi mualaf adalah keputusan yang tepat.

Lantas, apa yang membuat Kai hingga akhirnya harus mengambil keputusan masuk agama Islam? Kepada Achmad Fazeri, wartawan Hidayatullah.com salah satu Pembina Muallaf Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta, ini menceritakan perjalanan keimanannya.  Berikut petikan wawancara selengkapnya:

Bragaimana ceritanya hingga akhirnya Anda memutuskan memeluk Islam?

Begitu banyak saudara kita non-Muslim, yang di kemudian hari dikuatkan hatinya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat karena pengalaman mimpi, mendengar ayat suci al-Qur’an, lantunan adzan, sembuh dari penyakit, dibantu lepas dari lilitan utang, dan sebagainya. Sedang saya bersyahadat setelah mempelajari isi kitab bibel.

Saya belajar kekristenan, karena dizinkan oleh Allah mendapat bantuan keuangan serta kesempatan dari gereja protestan di Indonesia bagian Jawa Barat. Saya pun belajar TNKH di Haiva secara resmi. Bukan ngarang atau baca salah satu atau beberapa website. Tidak. Tetapi saya belajar kepada para ahli di bidang teologi. Spesialis saya adalah Theologya Liturgya.

Ketika belajar TNKH, Saya seperti diperkenalkan dengan Yesus yang benar. Bukan Yesus yang selama ini saya anggap sebagai Tuhan dan juru selamat.

Ternyata begitu belajar TNKH, saya tidak pernah menemukan Yesus. Saya tidak mengenalnya. Karena, di dalam Bibel asli, al-kitab aslinya, itu sama sekali berbalik 180 derajat dari apa yang selama ini saya ajarkan kepada pelayan firman di gereja. Ternyata tidak sama seperti dalam al-kitab aslinya.

Semua yang saya pelajari di Haiva, memberikan gambaran bahwa saya mengenal Yesus yang berbeda. Yesus yang benar adalah terdapat di dalam kitab Lucas pasal 1 ayat 26, pasal 2 ayat 21, pasal 5 ayat 15-18, pasal 5 seluruhnya. Kitab Yohanes pasal 17 seluruhnya, pasal 20 ayat 22 seluruhnya, pasal 4 ayat 19-21, pasal 4 ayat 2. Kitab Markus pasal 12 seluruhnya. Dan yang terakhir, yaitu menurut informasi dari mulut beliau sendiri ada dalam kitab Matius pasal 7 ayat 21-23.

Ayat-ayat itulah yang mengguncang iman saya. Saya menangis. Malam itu, saya berdoa, sebelum pulang ke Indonesia, “Tuhan Yesus, saya ini pelayanmu, kenapa engkau buat aku bingung begini?”

Karena dalam ayat-ayat yang saya sebutkan itu menggambarkan bahwa Yesus bukan Tuhan serta juru selamat. Bukan Yesus yang disalib untuk menebus dosa. Yesus yang saya sebutkan dalam ayat-ayat itu adalah Muslim. Yesus adalah seorang manusia. Bukan Tuhan. Yesus tidak tahu dan tidak pernah ada hubungannya dengan penebusan dan pengampunan dosa. Saya garis bawahi, dengan segala rasa hormat pada saudaraku Kristen dan Katholik, bahwa Yesus tidak pernah tahu kekristenan dan kekatholikan.

Jika pembaca bisa buka internet, silakan ketik “song of song in hebrew” di google. Setelah itu, nanti di bawahnya muncul website www.mechon-mamre.org, lalu klik maka muncul tampilan seperti coretan di sebelah kiri, itu huruf Ibrani. Kemudian di sebelah kanan ada bahasa Inggris.

Scroll ke bawah sampai ayat 16, di situ Anda bisa menemukan kelompok kata ke-4, huruf pertama bentuknya seperti kursi ada sandaran, lalu kursi tanpa dasar, kursi ada sandaran, lalu ada tongkat, koma kecil di atas, dan seperti ada roti tawar. Kemudian blok dan copy paste kelompok kata itu ke google translate. Dari Ibrani, translate ke bahasa Arab. Lihat huruf Arab-nya apa? Itu yang bikin saya “jatuh”, karena di situ tertulis Muhammad.

Dari sejak 1500 SM, bahkan sampai 33 M di masa pelayanan Nabi Isa AS, nama itu telah disebutkan yaitu Muhammad. Saya merasa Allah SWT mencintaku, sehingga menuntunku dari kegelapan menuju cahaya (Islam). Saya memutuskan pulang ke Indonesia, dan tiba pada 26 Agustus 2009. Saya mengucapkan 2 kalimat syahadat di Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat.

Apakah sebab itu yang kemudian membuat Anda ragu?

Benar. Ajaran Kristian dan Katholik, mohon maaf saya garis bawahi, tak ada sama sekali diajarkan dalam Bible atau al-Kitab, bahkan oleh Yesus sendiri, tidak ada.

Artinya Anda menganggap Bible yang dipakai umat Kristiani saat ini sudah ada perubahan?

Bukan saya yang bilang. Justru para ahli teologi, para pakar, profesor, dan doktor yang membuat statement seperti itu. Kalau Anda atau pembaca bisa akses google, silakan ketik “1 yohanes pasal 5 ayat 7 tafsir al-kitab sabdaa”. Klik itu, lalu lihat di situ. Bahkan tafsir yang dibuat oleh lembaga al-kitab tertinggi Indonesia serta sah legal oleh negara menyatakan bahwa ayat ini adalah sisipan dan bukan cuma ayat ini. Namun banyak sekali ayat. Bahkan, dikonfirmasi oleh orang yang saya hormati sampai detik ini, yaitu seorang pemimpin tertinggi gereja. Dia menyatakan begitu banyak serta detail ayat-ayat sisipan, tambahan, bahkan yang dibuang.

Bagaimana respon pihak gereja mengetahui Anda memeluk Islam?

Responnya sangat saya hargai karena sangat manusiawi dan alami. Ketika mereka marah, itu alamiah. Mereka memaki-maki dan memarahi saya. Itu artinya tanda sayang. Maka, saya terima sebagai berkah. Tandanya saya masih disayangi dan diperhatikan. Jika bisa Kainama kembali lagi ke gereja, nanti diampuni dosanya. Begitu kata mereka. Saya terima itu sebagai berkah hahaha…

Bagaimana respon orangtua, saudara, dan keluarga Anda?

Pertama, menolak. Tetapi, alhamdulillah sudah 3 tahun, akrabnya luar biasa. Saya seperti diberkahi.

Apa pernah sampai mendapat ancaman atau teror?

Itu biasa. Karena mereka didorong rasa marah serta kecewa. Kenapa Kainama kok jadi begini? Ya wajarlah. Tetapi setelah bertemu, kita saling baku polo kalau orang Ambon bilang. Saling berpelukan.

Apakah ada perbedaan yang Anda rasakan setelah memeluk Islam?

Jelas. Sebab ada satu kekuatan yang tak tampak dan begitu dahsyat yang akhirnya membawaku dari jalan kegelapan menuju cahaya Islam yang terang benderang.

Apa yang ingin Anda lakukan setelah masuk Islam kala itu?

Mengabarkan kepada saudara-saudaraku Kristiani, aku berdoa, supaya banyak di antara mereka datang bertanya kepadaku, siapa Yesus? Apakah kamu kenal Yesus dan benar-benar cinta? Kalau kau cinta, mari aku kasih tahu bahwa tidak ada jalan mencintai Yesus yang benar, melainkan patuh dan taat mengikuti sunnah seorang pria yang dikabarkan oleh Yesus sendiri, namanya Rasulullah Muhammad ﷺ!* (Berasambung)

Rep: Achmad Fazeri
Editor: Insan Kamil

Bagikan:

Berita Terkait

Khalid Misy’al: Tak Bisa ditawar, Kami ingin Merdeka dari penjajah Israel

Khalid Misy’al: Tak Bisa ditawar, Kami ingin Merdeka dari penjajah Israel

Penting Bagi Masyarakat Memahami Sejarah Islamisasi Di Nusantara

Penting Bagi Masyarakat Memahami Sejarah Islamisasi Di Nusantara

Istilah “Teroris” jadi Kedok Proposal Proyek Tangan-tangan Tersembunyi di Poso

Istilah “Teroris” jadi Kedok Proposal Proyek Tangan-tangan Tersembunyi di Poso

Akibat Fanatisme, Umat Islam Kalah Pada Perang Salib [2]

Akibat Fanatisme, Umat Islam Kalah Pada Perang Salib [2]

Ulil Abshar: “1,4 milyar Itu Kecil”

Ulil Abshar: “1,4 milyar Itu Kecil”

Baca Juga

Berita Lainnya