Irfan Syauqi Beik:

Pertama di Indonesia, Alat Ukur Dampak Zakat

"Padahal bicara kesejahteraan atau kemiskinan dalam Islam, tak hanya soal materi. Tapi juga aspek spiritual"

Pertama di Indonesia, Alat Ukur Dampak Zakat

Terkait

Hidayatullah.com | ZAKAT diyakini mampu meningkatkan kesejahteraan mustahik (penerima zakat). Betulkah begitu?

Tentu kita berharap demikian, karena tujuan zakat memang untuk mendongkrak kesejahteraan.

Cuma, selama ini belum ada alat ukur yang bisa memastikan dampak itu. Semuanya masih perkiraan. Inilah yang menjadi pemikiran Irfan Syauqi Beik, Direktur Pendistribusian dan Pendayagunaan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).

Irfan yang juga dosen ekonomi syariah di sejumlah perguruan tinggi ternama, seperti IPB dan Universitas Ibnu Khaldun Bogor ini, bersama istrinya, Laily Dwi Arsyianti lalu menyusun alat untuk mengukur dampak zakat. Namanya Model Center for Islamic Business and Economic Studies (CIBEST). Berikut petikan wawancara wartawan hidayatullah.com, Achmad Fazeri, dengan Irfan beberapa waktu lalu:

Bisa digambarkan Model Cibest?

Penelitian ini inspirasinya tidak datang tiba-tiba. Tapi sudah sejak saat saya mengambil S3. Desertasi saya tentang zakat, saya mengukur dampak zakat terhadap kesejahteraan mustahik (penerima zakat) dengan memakai indeks-indeks dalam ilmu ekonomi pembangunan konvensional. Saya pakai indeks kemiskinan dan indeks kesenjangan. Di Indonesia, ini penelitian yang pertama. Penelitian tentang zakat ada ‘miliaran’. Penelitian tentang kemiskinan ‘miliaran’. Demikian juga penelitian pengaruh zakat kepada kemiskinan juga ‘miliaran’. Itu saking banyaknya. Tapi meneliti pengaruh zakat kepada kemiskinan menggunakan indeks-indeks yang ada di dalam ekonomi pembanungan, di Indonesia waktu itu belum ada. Di dunia sudah ada tiga orang. Dua di Pakistan, salah satunya menjadi penguji desertasi saya. Satu lagi di Malaysia. Saya yang pertama di Indonesia. Jadi, saya menghadirkan sesuatu yang baru dalam dunia perzakatan di Indonesia.

Setelah berkecimpung di dunia zakat di Indonesia, saya melihat masih ada kekurangan. Semua itu hanya mengukur dari sisi materi. Padahal bicara kesejahteraan atau kemiskinan dalam Islam, tak hanya soal materi. Tapi juga aspek spiritual.

Lalu saya terinspirasi tipologi manusia dalam al-Qur’an berdasarkan kemampuannya memenuhi kebutuhan hidupnya. Ada empat golongan.

Ada yang material oke, spiritual oke. Ini berarti sejahtera. Contohnya ada di Surat an-Nahl ayat 97. Kedua, materialnya bermasalah, tapi spiritualnya oke, di Surat al-Baqarah 155-156. Ketiga, material oke, spiritualnya bermasalah, di Surat al-An’am ayat 44. Keempat, material bermasalah, spiritual juga bermasalah. Ini namanya kemiskinan absolut, ada di Surat Toha ayat 124.

Spiritual itu sesuatu yang kompleks. Bagaimana mengukurnya?

Bicara spiritual, ada tiga komponen. Yakni ibadah mahdoh, keluarga, dan kebijakan negara. Pada ibadah mahdoh ada tiga hal yang saya sorot: shalat, puasa, dan ZIS. Kita tak bisa mengukur takwa. Itu wilayah Allah Subhanahu Wata’ala. Tetapi kita bisa mendeteksi spiritual seseorang. Contoh shalat. Jika seseorang sengaja tidak shalat wajib, jelas dia miskin spiritual. Seseorang sengaja tidak puasa wajib, jelas dia miskin spiritual. Seseorang dalam sebulan atau setahun tak pernah berbagi, jelas miskin spiritual. Orang paling miskin pun harus berbagi. Berbagi bukan persoalan kaya miskin, tapi persoalan iman.

Keluarga, kalau tidak peduli lagi soal amar ma’ruf nahyi munkar, pasti keluarga itu miskin spiritual. Orang tua tak peduli anak shalat atau tidak, ini miskin spiritual. Tak peduli anaknya berjilbab atau tidak, ini jelas miskin spiritual.

Kebijakan pemerintah. Awalnya saya tidak masukkan unsur ini. Tapi saat kami sedang menyusun Model CIBEST ini lagi ramai kasus jilbab. Ada sebuah daerah yang melarang siswa berjilbab. Padahal jilbab ini wajib. Artinya, ada pemerintah daerah yang melarang ibadah wajib berupa jilbab. Nah, melihat fenomena itu akhirnya unsur kebijakan pemerintah saya masukkan sebagai salah satu aspek untuk mengukur kemiskinan spiritual. Kalau pemerintah sudah menghalangi kewajiban beribadah, itu termasuk miskin spiritual.

Dari masing-masing unsur tadi kemudian ada pembobotan. Ibadah 60%, keluarga 20%, dan kebijakan pemerintah 20%. Artinya, andaikan ibadah dan keluarganya bagus, lalu kebijakan negaranya kurang bagus, ia akan tetap oke secara spiritual.*

Rep: Bambang S

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !