Dr Syamsuddin Arif

Ulama Kita Tidak Pluralis dan Tidak Liberal

Posisi Imam ar-Razi dalam dialog antaragama jelas: Islamlah agama yang benar

Ulama Kita Tidak Pluralis dan Tidak Liberal
ISTIMEWA
Syamsuddin Arif di University of Oxford

Terkait

BELUM lama ini, peneliti senior Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), Dr Syamsuddin Arif melakukan riset ilmiah di Universitas Oxford, sebuah universitas tertua dan terbaik di Inggris, tentang pola hubungan Islam Kristen zaman dahulu dalam bentuk dialog dan debat sebagaimana diperlihatkan Imam Fakhruddin ar-Razi dalam kitab Munâzarah fi ar-Radd ala al-Nashâra.

Hasilnya mengejutkan, menurut penyabet gelar doktoral dari International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) dan mantan Profesor Madya di Universitas Teknologi Malaysia ini, para ulama muktabar bukankan memiliki pandangan yang pluralis, relativis dan tidak pula liberal.

Di bawah ini petikan wawancara dengan alumnus Pesantren Darussalam, Gontor, Ponorogo, Jawa Timur dengan wartawan hidayatullah.com, Andi R.

Baru-baru ini Anda telah melakukan riset di University of Oxford, berapa lama dan apa bentuk nya?

Berdasarkan surat tawaran, saya diminta berada di sana selama tiga musim belajar, yakni selama Michaelmas Term, Hilary Term dan Trinity Term. Maka izin tinggal pun diberikan mulai Oktober 2017 hingga Agustus 2018. Namun karena satu dan lain hal saya persingkat menjadi dua musim saja. Alhamdulillah, riset tersebut selesai di pekan kedua Maret kemarin.

Mengapa jauh-jauh ke Oxford?

Oxford merupakan universitas tertua dan terbaik di Inggris, khususnya dalam bidang teologi, filsafat dan studi ketimuran. Dengan fasilitas yang melimpah dan mudah di-akses, jaringan perpustakaan Bodleian adalah sorga bagi para peneliti. Segala macam bahan rujukan dalam berbagai bentuk, bermacam-macam bahasa, terutama jurnal-jurnal ilmiah langka dan buku-buku kuno semua tersedia. Atmosfer akademik yang terbuka, serius tapi nyaman juga menjadi daya tarik kuat bagi para peneliti yang perlu penyegaran intelektual dan pengisian ulang — refreshing dan recharging.

Baca:  Dr Syamsuddin Arief: “Tak Mungkin Belajar Islam pada Orang Junub

Anda mengerjakan riset ini sendiri atau bersama tim?

Kebetulan itu penelitian sendiri. Dananya sebagian dari pribadi dan sebagian lagi dari Oxford Centre for Islamic Studies yang bertindak sebagai lembaga tuan rumah (host institution). Ada sekitar 10 orang peneliti (research fellows) dari berbagai negara dengan bidang ilmu berbeda-beda yang mendapat kesempatan riset setiap tahunnya di sana. Ada yang meneliti sistem keuangan Islam, fiqih Hanafi, demokrasi pasca-Sovyet, hingga seni Islam dalam arsitektur dan keramik China. Para peneliti memperoleh akses ke semua fasilitas kampus termasuk ruang kerja lengkap dengan komputer dan sebagainya.

Apa yang Anda riset?

Penelitian saya tentang pola hubungan Islam Kristen zaman dahulu dalam bentuk dialog dan debat sebagaimana diperlihatkan Imam Fakhruddin ar-Razi dalam Kitab Munâzarah fi ar-Radd ala al-Nashâra.

Yang saya teliti adalah naskah kitab tersebut, isi kandungan dan konteks intelektualnya. Dengan pendekatan filologis, komparatif dan filosofis. Saya telusuri sejarahnya dan saya ungkap kaitan antara teks dan konteks. Namun fokus saya terutama adalah berbagai argumentasi yang beliau kemukakan dalam kitab tersebut untuk membantah keyakinan orang-orang Kristen mengenai trinitas, ketuhanan dan penyaliban Yesus.

Untuk mengetahui otentisitas kitab tersebut saya menempuh dua cara. Pertama, melalui koroborasi internal, mencari apakah kitab itu disebutkan ataukah tidak di dalam karya beliau yang lain. Kedua, dengan cara koroborasi eksternal, mencari apakah karya itu disebut atau dikutip oleh penulis lain pada masanya atau zaman sesudahnya. Terungkap secara internal memang disebutkan oleh Ar-Razi dalam Kitab Tafsir Kabir-nya dan secara eksternal disebut oleh Abu Ali al-Sakuni pada abad kedelapan Hijriah. Dengan demikian, keaslian buku ini terkonfirmasi.

Apa yang menarik dari hubungan Islam dan Kristen?

Masalah hubungan Islam dan Kristen telah, masih dan akan terus dibicarakan orang. Sejak tahun 90-an, semakin sering kita dengar seruan agar umat Islam bersikap inklusif, menerima pluralisme agama dan mengikuti dialog antaragama. Lembaga-lembaga pemerintah maupun ormas-ormas Islam banyak yang setuju dan terbawa arus pluralisasi ini.

“Kita mesti bersikap baik, benar dan adil kepada umat agama lain, tanpa perlu menjadi inklusif pluralis atau relativis!,” ujar Syamsuddin Arif

Nah, riset saya itu merupakan upaya kecil untuk melawan arus sekaligus mengingatkan masyarakat akan pedoman dan teladan para ulama dan generasi salaf kita dalam hubungan antaragama. Bahwa kita mesti bersikap baik, benar dan adil kepada umat agama lain, tanpa perlu menjadi inklusif pluralis atau relativis!

Apa hubungannya dengan masalah yang ada di Indonesia saat ini?

Jelas ada. Indonesia kan sudah lama menjadi target misionaris. Berbagai modus Kristenisasi melalui pendidikan (sekolah dan universitas, seminari dan kolese), ekonomi maupun budaya berlangsung aktif dan masif di seantero negeri mayoritas muslim ini.

Baca: Adab Murid terhadap Guru dari Imam Fakhruddin Ar Razi

Sementara itu, para cendekiawan dan tokoh-tokoh masyarakatnya dibuat tak nyaman di negeri sendiri. Banyak yang malu dan minder mengaku Islam. Tidak “pede” dengan identitas keislaman. Akhirnya menjadi pluralis dan relativis, menganggap semua agama benar. Dan cenderung sekuler liberal dalam soal agama. Harapan saya, melalui riset tersebut, umat Islam akan paham bagaimana cara bersikap dan bertindak yang benar dengan umat agama lain.

Studi yang dilakukan oleh Ar-Razi patut kita jadikan model khususnya di perguruan tinggi. Pendekatannya komparatif dan filosofis. Artinya, disamping ada usaha perbandingan, Imam ar-Razi juga menganalisa dan meneliti obyek risetnya secara logis dengan mengkritisi doktrin-doktrin dan konsep-konsep dalam agama Kristen.

Walaupun sekilas tampak apologetis, isinya dengan jelas menayangkan keterbukaan untuk dialog dan kejujuran untuk menguji kebenaran secara logis.

Apa kendala dalam riset ini?

Ibarat jalan, riset merupakan lorong yang sepi. Ini karena ketika riset kita harus menempuh perjalanan intelektual yang panjang berliku bahkan mendaki. Banyak orang yang tidak kuat menanggung derita riset, apalagi jika tidak ada sponsor, mesti pakai uang sendiri, tinggal sendiri berbulan-bulan di negeri orang, jauh dari keluarga, istri dan anak-anak, belum lagi persoalan imigrasi, urusan sewa rumah, dan sebagainya yang cukup menyita waktu dan pikiran. Bahasa juga bisa menjadi kendala, di samping bahan rujukan yang kadang susah didapat.

Hubungan Islam – Kristen sudah banyak diteliti, apakah ada temuan baru dalam riset Anda?

Penelitian saya berusaha mengangkat bukti tekstual dan fakta historis pola hubungan antaragama yang terjadi di kalangan cendekiawan pada Abad Pertengahan.

Ternyata hipotesis saya benar, bahwa para ulama kita itu tidak pluralis, tidak relativis, dan tidak liberal, meskipun mereka sangat humanis, filosofis, dan rasional. Berbeda dengan cendekiawan muslim kita “jaman now” yang gampang terbius oleh jargon-jargon kosong, hanyut dalam arus wacana Barat yang mengelirukan dan menyesatkan. Analisis kitab ar-Razi yang saya teliti itu menunjukkan bagaimana dialog antaragama seharusnya dilakukan. Yakni dengan niat berdakwah dan bermujadalah secara santun. Bahkan posisi ar-Razi dalam dialog antaragama jelas: Islamlah agama yang benar.

Baca: Muslim Tak Perlu Radikal dan Liberal

Bagaimana tanggapan orang Barat melihat hasil ini?

Dari sejumlah pertanyaan ada tiga penting yang saya anggap penting. Pertama, soal ketulusan Imam ar-Razi. Saya percaya ulama sekaliber beliau bukan seorang pembohong yang pengecut. Meski bukan hasil transkripsi, kitab tersebut merekam poin-poin perdebatan apa adanya. Sebaliknya, kalau kita meragukannya, maka kecurigaan kita itu mencerminkan ketidakjujuran diri kita sendiri.

Kedua, tergolong jenis apakah kitab tersebut, akademis atau apologetis, ilmiah atau polemik? Pertanyaan ini dilemma palsu yang saya tidak ingin jatuh ke dalam perangkapnya. Bagi saya, kitab tersebut bersifat akademis dan apologetis sekaligus, tergolong polemik tetapi juga ilmiah. Mengapa tidak?

Ketiga, soal intensi pengarang. Apakah motivasinya untuk mencerahkan atau mengalahkan, menjelaskan atau menjatuhkan. Dan apakah kita sebagai pembaca karya ini sekarang dapat memahami maksudnya dengan benar dan tepat.

Apakah hasil kongkrit dari riset Anda ini?

Insya Allah akan saya terbitkan dalam bentuk buku (monograf) supaya bisa diketahui dan dinikmati oleh khalayak yang lebih luas.*

Rep: Andi R

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !