Fahmi Salim Berdebat dengan Liberalis (2)

Dengan Ulil debat beberapa kali. Pertama di Tvone temanya penghapusan kolom agama di KTP. Kedua, kawin beda agama di Tvone dan forum diskusi terbuka di sebuah hotel di Jakarta

Fahmi Salim Berdebat dengan Liberalis (2)
Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) DKI, Fahmi Salim

Terkait

Sambungan wawancara PERTAMA

 

 Sejak kapan bersentuhan dengan pemikiran liberal?

Mulai  1997, saat duduk di bangku aliyah. Saya baca buku-bukunya Cak Nur (Nurchalis Madjid), antara lain Islam: Doktrin dan Peradaban. Saya juga membaca buku-bukunya Amien Rais dan Jalaludin Rahmat.

Biasanya remaja itu bacaannya novel atau cerpen, tapi Anda membaca buku-buku berat…

Karena saya di pesantren yang secara khusus mendalami ilmu agama. Semua pesantren tentu mendalami agama, tapi saya masuk kelas khusus namanya Madrasah Aliyah Program Khusus Pesantren Darussalam Cianjur Jawa Barat. Di kelas khusus ini kami dianjurkan memperbanyak membaca referensi, baik  berbahasa Arab maupun Inggris.

Setelah saya lulus dan lalu masuk Al Azhar (universitas yang ada Kairo Mesir), buku-buku itu saya bawa. Di situlah saya baru tahu jika buku-buku tersebut bermasalah.

Awalnya saya tertarik dengan pemikiran-pemikiran yang ada  di dalam buku tersebut. Saya ingin tahu, mengapa pemikiran mereka menarik banyak perhatian orang.

Di sisi lain, saya juga baca artikelnya Daud Rasyid yang mengkritisi pemikirannya Cak Nur.

Bagaimana reaksi teman-teman di Azhar setelah tahu Anda suka membaca buku-bukut tersebut?

Ada kakak kelas yang bertanya, mengapa baca buku-buku tersebut? Saya bilang hanya ingin tahu saja.  Mereka kemudian mengingatkan agar hati-hati, karena buat mereka pemikiran Cak Nur dianggap liberal dan bermasalah. Sejak saat itu, saya lebih intesif lagi mengkaji pemikiran-pemikiran liberal.

Tahun 2001 di Indonesia muncul Jaringan Islam Lebiral (JIL), bertepatan saya selesai S1. Reaksi umat sangat keras terhadap JIL, bahkan sampai ada ulama yang memfatwakan hukuman mati kepada pentolan JIl.

Perkembangan liberalisasi di Indonesia itu mendorong saya melakukan penelitian lebih jauh. Saat menyusun thesis S2 (2007), masih di Al Azhar, saya mengkaji secara kritis Hermeneutika yang diusung sebagai metode tafsir oleh kalangan liberal.

Anda tidak hanya  mengkaji pemikiran liberal, tapi beberapa kali berdebat langsung dengan mereka. Apa kesan Anda kepada mereka?

Memang saya beberapa kali berdebat dengan mereka. Pertama dengan Zuhairi Misrawi saat diundang untuk membedah bukunya berjudul Al Qur`an Kitab Toleransi. Kedua bedah buku Metode Studi Al Qur`an  karya Ulil Abshar Abddalla, Abdul Moqsith Gozali dan Luthfi Syaukani.

Dengan Ulil debat beberapa  kali. Pertama di Tvone temanya penghapusan kolom agama di KTP. Kedua, kawin beda agama di Tvone dan forum diskusi terbuka di sebuah hotel di Jakarta.

Kesan saya, setelah mempelajari tulisan dan bertemu langsung dengan mereka, dalam pandangan saya mereka kliru dalam memahami teks. Entah itu sengaja atau tidak. Ada kesan mereka menyembunyikan dan memanipulasi teks untuk menopang pemikirannya. Dan sepertinya pemikiran mereka itu sudah di-setting sedemikian rupa agar sesuai dengan konstelasi global. Kesan itu begitu kuat.

Konstelasi global ingin Islam dijinakkan. Mereka ingin umat Islam berislam secara konstektual dan moderat. Di sini moderat dalam pengertian liberal. Mereka merancang semua itu sudah sejak lama. Tepatnya sejak Harun Nasution melakukan reorientasi kurikulum pendidikan Islam di Perguruan Tinggi Islam sejak tahun 73-an. Dan program itu mendapat dorongan begitu kuat saat Menteri Agama dipegang Munawir Syadzali. Apalagi Munawir berhasil membujuk Pak Harto mendukung progamnya. Jadilah libiralisasi Islam mendapat dukungan mesin politik.

Apa yang terjadi sekarang, dengan munculnya Ulil dan kawan-kawan, merupakan buah  dari program yang dicanangkan sejak lama. Buah itu bakal terus bermunculan  karena mesinnya masih terus berjalan.

Anda bilang mereka tak memahmi teks. Itu karena kebodohannya atau by design?

Dari segi kemampuan, saya yakin mereka mampu membaca teks dengan sangat baik. Mereka hampir semua lulusan pesantren yang mampu membaca Kitab Kuning dan literatur Barat. Hanya mereka kemudian memutilasi teks sesuai kepentingannya.

Mereka punya niat yang keliru, yakni lebih didorong nafsu melakukan dekonstruksi terhadap Islam. Tapi sayangnya mereka tercerabut dari khazanah dan tradisi keilmuan Islam. Karena niatnya seperti itu, wajar jika hasil kesimpulannya jauh berbeda dari ulama-ulama terdahulu. (Bersambung)

* Tulisan berikutnya membahas agenda di balik gerakan liberalisme Islam

 

Rep: Bambang S

Editor:

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !