Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Wawancara

Para Wanita Dibunuhi Karena Enggan Tanggalkan Hijabnya, Pantaskah Kita Berdiam Diri?

Syeikh Ahmad Ziyadah saat menjadi imam tarawih Ramadhan 1436 H
Bagikan:

Hidayatullah.com—Hingga bulan Desember ini, korban syuhada Intifada Al-Quds (yang dimulai sejak awal Oktober 2015) sudah mencapai 108 orang.

Hari Selasa (01/12/2015), penjajah Zionis mengeksekusi  wanita Palestina Maram Zamir Abd Hasunah (20) dari Nablus di perlintasan Inabah timur Tulkarm setelah borgolnya dilepas dan kepalanya langsung ditembak. Maram langsung gugur di tempat.

Selain itu, soerang bocah Palestina Makmun Raed Muhammad Al-Khateeb (16) juga gugur setelah pasukan Israel menembaknya dekat Ghos Etzion karena diduga melakukan aksi penikaman.

Kementerian Kesehatan Palestina menegaskan, total korban gugur Intifada Al-Quds sejak awal Oktober mencapai 108 orang. 24 di antaranya adalah anak-anak, 5 perempuan dan 13.500 korban luka. Korban paling kecil masih menyusui berusia 8 bulan.

Belum lagi  sebanyak 4800 warga mengalami luka selama dua bulan terakhir baik oleh luka peluru tajam, berlapis karet. Sementara yang luka karena tersedak gas air mata sebanyak 8700 orang.

Gejolak perlawanan para pemuda Palestina, khususnya di Tepi Barat yang tak berhenti ini sungguh mengejutkan dunia. Apalagi,  perlawanan yang banyak disebut Intifada al-Quds atau Intifada ke-3 dilakukan anak-anak muda di bawah usia 20 tahun, bahkan belasan tahun. Suatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Mereka tiba-tiba bereaksi dengan senjata batu dan pisau melawan Israel. Walhasil, penikaman dan penabrakan terhadap warga Yahudi dan tentara Israel di mana-mana. Di bus, mall, di jalan bahkan pasar. Aksi ini membuat suasana Israel mencekam dan dilanda ketakutan.

Akibatnya sektor ekonomi dan pariwisata Israel mengalami kerugian luar biasa, transaksi bursa efek Tel Aviv dikabarkan rontok.

Kami mewawancarai Syeikh Ahmad Ziyadah, seorang imam tahfidz dan pengajar Al-Quran di Markaz Tahfidz Al Qur’an Madama, Nablus, Tepi Barat.

Selama bulan Ramadhan 2015, Ahmad Ziyadah sempat berkunjung ke Indonesia dalam program Silaturrahim Ramadhan Imam-imam Palestina & Suriah (SIRAMAN MANIS) yang diselenggarakan lembaga kemanusiaan, Sahabat al-Aqsha. Selama sebulan, ia bersilaturrahim dengan warga Indonesia, menjadi imam shalat tarawih dan mengajar al-Quran. Inilah petikan wawancaranya dengan M Rizqy Utama.

Apa kabar, Syeikh?

Alhamdulillah sangat baik. Sejak balik dari silaturrahmi dengan masyarakat Indonesia dulu,  hingga hari ini saya terus kepikiran kalian.

Beberapa waktu lalu saya sempat beberapa kali dipenjara oleh Otoritas Palestina (FATAH).

Mengapa begitu?

Sebabnya saya tetap kukuh ingin mengajar Tahfidz Al-Qur’an. Tapi, apapun itu alhamdulillah saya tetap teguh dan sabar. Hanya balasan dari Allah yang kita harapkan.

Bagaimana kabar keluarga?

Seluruh keluarga alhamdulillah baik kabarnya. Kami berdoa agar Allah karuniai kami dengan ampunan, rahmat. Allah penuhi rumah kami dengan kebaikan serta keberkahan.

Bagaimana kondisi terkini di Tepi Barat? Bisakah menceritakan untuk umat Islam indonesia?

Keadaan di Tepi Barat saat ini, tekanan Penjajah tambah hari kian menguat. Setiap hari setidaknya satu-dua orang gugur (syahid). Zionis memasang pembatas di setiap wilayah untuk menghambat laju lalu-lintas.

Dalam jumlah besar dan meluas. Pemukim ilegal Yahudi menyerang rumah-rumah warga pribumi. Meneror dan menyakiti.

Desa tempat saya tinggal sekarang sedang dikepung oleh Yahudi. Mereka menganiaya dan membuat kerusuhan. Membakar pepohonan dan taman-taman. Hanya kepada Allah kami memohon pertolongan.

Namun yang membuat rakyat Tepi Barat senang adalah betapa gagah nya pemuda-pemuda kami. Mereka menggelorakan perlawanan. Mereka tabuhkan genderang Intifada Ketiga (Intifada Al-Quds).

Apa yang membuat para pemuda Tepi Barat begitu berani melakukan perlawanan?

Sebab pertama dan paling mendasar adalah karena itu adalah perintah dari Allah Subhanahu wata’ala. Allah wajibkan kita berjihad. Allah larang kita berkhianat.

Para pemuda menganggap bahwa segenap pengorbanan yang mereka berikan untuk Allah kemudian negeri itu, hakekatnya murah. Ringan sekali bagi mereka untuk menyerahkan nyawa, harta, dan jiwa mereka di Jalan Allah Subhanahu Wata’ala.

Karena ini adalah perang agama. Wajib hukumnya mensucikan Negeri ini dari kenajisan kaum Zionis Yahudi yang curang.

Siapa yang tidak bangkit melawan Yahudi dengan segenap yang dia miliki. Berarti berkhianat kepada Allah, Rosul-Nya. Berkhianat kepada orang-orang beriman juga Negeri.

Di Jalan Allah, betapa remeh nyawa itu. Allah membeli. Orang beriman menjual. Bayarannya adalah surga. Sudah pasti, berniaga dengan Allah pasti menguntungkan.

Ada yang berpendapat,  agar menyerah saja, berdamai dengan Israel?

Ya. Benar banyak berjatuhan korban mati, terluka, dan tertawan. Namun Allah Ta’ala berfirman dalam al-Anfal: 60, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”

Oleh karena nya apapun cara yang kita mampui, dengannya kita harus bangkit melawan. Betapapun mahalnya harga dari perlawanan itu.

Tidak dapat dipungkiri. Yahudi dibuat gentar oleh berbagai oprasi pisau dan batu itu. Bahkan saaat ini, Pemuka agama Yahudi menghimbau agar hengkang dari Masjid Al-Aqsha karena memanasnya situasi. Dulu, Yahudi melarang Muslim di bawah umur 50 tahun masuk ke dalam Masjid Al-Aqsha. Adapun sekarang, mereka izinkan umur 40 tahun ke atas.

Ini semua bukti bahwa betapapun remeh nampaknya alat perjuangan (pisau dan batu), efeknya sangat besar.

Allah berfirman tentang kaum Yahudi dalam an-Nisa’: 104, “Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Kalian bisa melihat sendiri. Betapa sabar keluarga para syuhada. Mereka hanya mengharap ganjaran Allah. Mereka menengadahkan kepala mereka. Bangga karena Allah sudi memilih anak-anak nya sebagai syuhada. Betapa berbahagianya mereka.

Apakah batu-batu itu bisa mengalahkan Zionis?

Lihatnya foto-foto di media sosial, bagaimana tentara penjajah yang bersenjata canggih itu lari terbirit-birit menghadapi pemuda berpisau. Allah sendiri berfirman, “Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan idzin Allah.”

Ya Allah. Jika saja niat kita ikhlas karena Allah Yang Maha Suci, pasti Allah berkenan memenangkan kita. Itu mudah bagi Allah Yang Maha Agung.

Lihat foto ini (Syeikh Ziyadah menunjukkan seorang Palestina bermodal sebilah pisau mengejar serdadu Zionis lari tunggang langgang)

Kenapa mereka lari, pada lengkap bersenjata? Karena sang pemuda niat nya ikhlas untuk Allah lillahi ta’ala.

Zionis tidak sanggup tegak berdiri di hadapan rakyat Palestina. Mereka mencintai mati seperti Zionis mencintai kehidupan.

Ketika kamu menyaksikan para wanita suci dibunuhi, dan pakaian mereka basah bersimbah darah karena mereka enggan menanggalkan hijabnya, masih pantaskah bagi kita berdiam diri saja? Demi Allah. Sekali kali tidak! Demi Allah! Kami bangkit berjihad!

Kami masyarakat Indonesia hanya mampu mendoakan kalian semua, syeikh

Saya mohon dari kaum Muslimin Indonesia agar menolong rakyat Palestina dengan segala daya dan upaya. Dan sebaik-baik pertolongan adalah doa, ya doa.

Dan satu lagi, semarakan muktamar, ceramah, forum-forum diskusi, tulisan, berita untuk menjelaskan hakekat keadaan kaum Muslimin di Palestina yang sesungguhnya. Kami tahu betul, kalian adalah orang-orang yang gemar menolong.

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. Allah pasti menggenapkan janji-Nya. Hanya kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.

Oiya, saya punya harapan besar kepada Allah. Agar Dia mengizinkan saya bertemu kembali dengan kalian di Indonesia pada bulan Ramadhan tahun depan.*

Rep: M Rizki U
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

HNPT: Perlu Pemetaan Batasan yang Disebut Radikal

HNPT: Perlu Pemetaan Batasan yang Disebut Radikal

Sirikit Syah: “TV Kita Sengaja Memilih Erotisme”

Sirikit Syah: “TV Kita Sengaja Memilih Erotisme”

Rezim Suriah Penjarakan Kelompok Sunni dan Membunuh Pimpinannya

Rezim Suriah Penjarakan Kelompok Sunni dan Membunuh Pimpinannya

Habib Rizieq Sang Pembela Pancasila

Habib Rizieq Sang Pembela Pancasila

“Kami Tidak Pernah Lari dari Kewajiban dalam Jihad Ini”

“Kami Tidak Pernah Lari dari Kewajiban dalam Jihad Ini”

Baca Juga

Berita Lainnya