Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Wawancara

Menkes: Tidak Mudah Menghibahkan Uang Keluar

Bagikan:

Hidayatullah.com–Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza sudah dimulai pembangunannya sejak 14 Mei 2011 lalu. Sejumlah tiang pondasi dasar sudah terpancang kokoh di rumah sakit yang diprakarsai anak bangsa Indonesia yang tergabung dalam lembaga swadaya masyarakat Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) ini. RSI berlokasi di Bayt Lahiya, Gaza Utara, 3 km dari perbatasan Israel.

Dukungan masyarakat Indonesia terhadap kondisi dan krisis Palestina memang sangat luar biasa, tak terkecuali keikutsertaan pemerintah.

Seperti dilaporkan, pada 7 Februari 2011 lalu, pemerintah Republik Indonesia melalui Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan dr Ratna Rosita MPH bersama Presiden Islamic Development Bank (IDB) Dr Ahmed Mohamed Ali, menandatangani surat kontrak kesepahaman (MoU) pendirian Indonesia Cardiac Center (Pusat Rehabilitasi Jantung) di RS Asy Shifa, Gaza City.

Dana hibah Pemerintah Indonesia untuk program tersbeut sebesar Rp 20 miliar atau US$ 2,6 juta yang digunakan untuk melengkapi Cardiac Center dengan peralatan medis yang diperlukan termasuk ruang operasi jantung.

Dengan ditandatanganinya MoU pendirian Indonesia Cardiac Center di RS Asy Shifa, maka dana hibah pemerintah Indonesia dimasukkan ke rekening Trust Fund IDB.

Praktis, dana yang sebelumnya juga sempat dijanjikan pemerintah Indonesia untuk membantu pembangunan RSI di Gaza kini tak jelas seperti apa bentuknya. Ada kesan pemerintah “balik kanan” dari komitmen sebelumnya yang menyatakan akan mendukung pembangunan RSI di Gaza.

Ditemui dalam acara peringatan Hari Cuci Tangan Se-Dunia (CTPS) di Parkir Timur Senayan, Jakarta, beberapa waktu lalu, Ainuddin Chalik dari Hidayatullah.com mewawancarai secara door stop Menteri Kesehatan RI dr. Endang Rahayu Sedyaningsih seputar pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Berikut petikannya:

Sejauh mana sudah realisasi perkembangan Indonesia Cardiac Center di Gaza?

Itu masih belum kalau dari kami, karena mekanisme pengeluaran uangnya.

Bagaimana dengan hibah Rp 20 miliar yang dijanjikan pemerintah untuk proyek tersebut, sudah disalurkan?

Oh ya, itu sama. Jadi harus persetujuan dan ke DPR dulu, harus balik lagi ke Kementerian Keuangan. Jadi lama di administrasinya.

Agenda kerjasama antara Kemenkes RI, Islamic Development Bank (IDB), dan pemerintah Palestina apakah sudah berlangsung?

Iya itu, sama, tetap aja. Tapi untuk bagian mereka (IDB dan Pemerintah Palestina, red) sih tetap mereka lakukan. Cuma bagian kami ini nanti kita akan terus. Karena rupanya tidak begitu mudah kalau kita menghibahkan uang keluar.

Sebelumnya pemerintah akan mendirikan rumah sakit Indonesia, kenapa berubah jadi Cardiac Center?

Karena itu keputusan pemerintah. Jadi saya begitu saja. Dan saya kira juga memang dengan uang dua puluh miliar itu, di mana mereka memintanya untuk jantung, ya baguslah karena itu ada bagian Indonesia di satu rumah sakit besar.

Jadi kendalanya administrasi?

Ya, administrasi mengeluarkan uang.*

Rep: Ainuddin Chalik
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

“Saya Tak Akan Menjual Negeri Saya”

“Saya Tak Akan Menjual Negeri Saya”

Kita Menghadapi Masalah Dekadensi Moral di Kalangan Pelajar

Kita Menghadapi Masalah Dekadensi Moral di Kalangan Pelajar

“Turunan Yahudi di Indonesia Mendekati 2.000”

“Turunan Yahudi di Indonesia Mendekati 2.000”

“Muhammadiyah Ingin Lebih banyak Memberi, bukan Meminta” [1]

“Muhammadiyah Ingin Lebih banyak Memberi, bukan Meminta” [1]

“RUKHP Perlu Dikawal, Agar Liberalisasi Seksualitas dan LGBT Tak Makin Marak”

“RUKHP Perlu Dikawal, Agar Liberalisasi Seksualitas dan LGBT Tak Makin Marak”

Baca Juga

Berita Lainnya