Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Wawancara

Anwar Ibrahim: “Saya Tak Akan Menjual Negeri Saya”

Bagikan:

Hidayatullah.com–Sikap Mantan Deputi Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim masih seperti dahulu kala. Pemimpin Partai Oposisi Malaysia itu masih tegas membela kemelayuan. Pria yang lahir di Sungai Bakap, Seberang Perai Selatan, Pulau Pinang, Malaysia, 10 Agustus 1947 ini baru-baru ini datang ke Indonesia dalam rangka Seminar Peradaban. Lelaki yang pernah divonis enam tahun penjara di era Mahatir Muhammad ini meladeni wartawan Hidayatullah. Wawancara berlansung di kamarnya, kamar nomor 1101 lantai 11, Hotel Sahid Jaya, Jakarta, membahas banyak hal. Mulai peradaban, kebijakan ambigu Amerika, dan bagaimana seharusnya sikap Bangsa Melayu. Inilah petikannya.

Apa yang harus dilakukan oleh umat Islam, khususnya pada rumpun Melayu ini, untuk membangun peradaban Islam?

Pangkalnya tentu pada pemahaman terhadap ad-Din. Yakni agama. Kalau kita bicara umat, ini mewakili sikap, pendirian, pemahaman tentang agama, akhlak, juga fikrah (pemikiran) yang mewakili kepentingan umat. Ini dasar atau fundamennya. Kemudian kita kembangkan.

Kalau sudah paham terhadap agama kita, Islam, baru kita bisa pecahkan solusi untuk masalah lain. Kita berhadapan untuk berdialog dengan Barat.

Kalau Amerika, dia paling senang berdialog dengan kalangan paling super liberal. Itu cocok bagi dia. Tetapi (kalangan super liberal) mewakili apa? Apakah (akan) tercapai maksud dialog, kalau (Islam) diwakili oleh segelintir orang yang tersisih dari mayoritas umat.

Saya tidak melarang. Saya ambil pendekatan yang lebih toleran. Lingkaran liberalkah, lingkaran kirikah, atau lingkaran kanan, saya tidak perduli. Tetapi bukan Amerika yang tentukan siapa orang yang akan berdialog dengan Barat. Nah, ini masalahnya. Maka dia harus menerima kehendak umat.

Kita ambil contoh terpilihnya Barrack Obama (sebagai Presiden AS pertama berkulit hitam). Euforia umat terhadap Obama seringkali berlebihan. Seolah-olah dialah Presiden AS yang bisa membantu permasalahan umat. Itu tidak benar. Kelebihan Obama, dia menolak banyak prasangka dan kezhaliman George W. Bush, dan memberikan kepada kita ruang untuk berwacana yang lebih segar dan terbuka. Tapi masalah tentang Palestina masih tidak terjawab, keengganan untuk berdialog dengan HAMAS juga masih. Dengan Taliban dan al-Qaidah juga tidak mau berunding. Tapi kenapa mereka bisa berunding dengan IRA (kelompok separatis di Irlandia).

Dalam keadaan seperti ini, apakah Anda melihat rumpun Melayu mampu mengawal atau memulai peradaban Islam ini?

Rumpun Melayu punya sejarah yang baik atau positif dari segi pemahaman tentang budaya Islam itu. Tidak semestinya ideal. Tetapi seperti dikatakan oleh Ja’far Syaikh Idris, ini adalah suatu proses. Proses ini sudah dimulai dengan cukup meyakinkan. Dan ada juga Naquib al-Attas yang (menelurkan karya) tentang Islam dan sejarah kebudayaan Melayu. Dia juga menulis soal akidah, fikrah, tasawuf, soal Islam itu mengubah rupa dan jiwa. Dan hasil dari pemikir-pemikir Islam (asal Melayu) jelas. Dari politik, bahasa, budaya, dan ilmu. Cuma generasi kami belum begitu berhasil. Kita berharap generasi muda bisa membangkitkan kesadaran ini. Tapi dengan lebih canggih lagi memahami sensitifitas dan kompleksitas yang ada.

Di negeri Anda, sebagian orang menilai ada antek asing karena mau berdialog dengan Barat?

Saya tekankan ini berulang kali, kalau kita punya pegangan dan yakin, kita tidak bimbang. Tuhan beri saya rasa percaya diri (hadapi Barat). Saya tahu saya punya harga diri, saya tidak akan jual diri saya, saya tidak akan menjual negeri saya. Tapi saya yakin Islam membolehkan kita berdebat atau berbicara dengan siapa saja.   

Anda juga dinilai lembek menanggapi kasus pelanggaran HAM berat AS di penjara Abu Ghuraib?

Saya kira semua orang Islam di mana pun mengecam AS tentang Abu Ghuraib. Tapi yang tidak pernah saya dengar, (fakta) layanan penjara di negara-negara Islam dan Arab seringkali lebih jelek dari Abu Ghuraib. Kenapa tidak disebut?

Kita harus konsisten. (Kalau) kita menyerang AS soal kekejamannya di Abu-Ghuraib, kita juga harus memastikan adanya ishlah dan perubahan di negara kita masing-masing.

Dan itu lebih berat?

Itu yang lebih benar. Kita harus konsisten. Bedanya kita dengan AS. AS bicara soal kebebasan dan demokrasi, dan hak asasi manusia. Tapi kita tidak pernah menunjukkan contoh keteladanan yang adil. (Itu sebab) prasangka terhadap Islam (di sana) masih besar.

Haruskah kita bersahabat dengan Amerika? Apakah Anda menganjurkan hal itu?

Saya tidak apologistik terhadap Amerika. Itu hanya tuduhan orang terhadap saya. Saya bersahabat dengan individu di Amerika. Di masa pemerintahan Bush, saya tidak pernah bertemu dengan dia.  Pernah ada undangan untuk datang ke istana Presiden AS, saya tidak hadir. Saya bukan orang Amerika, dan saya tidak ada hajat untuk silaturahmi.

Bagaimana dengan pemerintahan AS sekarang?

Saya pikir wajar jika kita adakan pertemuan. Karena ada kesediaan mereka untuk mendengar dan berbicara.

Saat ini, mungkin Anda dinilai mampu untuk melakukan dialog dengan AS. Anda punya kharisma, punya kemampuan. Tapi setelah Anda, mungkin tidak banyak orang di Malaysia yang bisa lakukan itu?

Banyak orang yang lebih pintar dan lebih berkemampuan dari pada saya. Tapi ini adalah masalah mendasar dan soal karakter pribadi masing-masing. Tidak ada yang sempurna memang. Tapi setidaknya kita berusaha.

Sebagai orang yang kenal dekat dengan Samuel P. Huntington, penulis buku The Clash of Civilizations (benturan peradaban-peradaban), apakah yang ditulis Huntington dalam buku tersebut masih relevan kita bicarakan?

Dalam acara-acara saya, jarang saya mau layani (membicarakan benturan peradaban). Saya katakan, who should dictate the language and subject of discourse (Siapa yang berhak menentukan bahasa dan tema wacana)?

Kenapa setiap kali mereka (Barat) mengatakan perang terhadap terorisme, kita jawab (juga) perang terhadap terorisme? Mereka bilang benturan peradaban, kita jawab juga benturan peradaban. Jadi kerja kita hanya respon. (Harusnya) kita yang menentukan tema wacana. Kita bicara soal equality (persamaan), tapi ini (kenapa) Huntington jadi heboh. Apa-apa Huntington.

Namun bukan artinya kita tidak harus mengikuti (perkembangan wacana Barat). Kita harus ikuti, terutama di kalangan pemimpin dan ilmuan. Apa pemikiran terakhir dari Amerika? Tapi jangan itu terus yang dijadikan agenda.  

Berarti umat Islam perlu bersatu untuk merancang agenda bersama?

Iya. Tapi negara Islam itu siapa? Itu masih jadi pertanyaan.

Jadi apa upaya kongkrit yang bisa dilakukan supaya umat Islam rapat satu barisan?

Memang sulit. Generasi Khulafaur Rasyidin pun sulit. Namun setidaknya mayoritas bisa. Dan kita tidak harus setuju dalam segala hal. Tapi tidak ada kompromi dalam hal fundamental.  

Ada anggapan, kesedian Anda berdialog dengan Barat, juga dengan etnis pendatang China dan India, akan memarjinalkan dan melemahkan kekuatan etnis Melayu di Malaysia. Bagaimana sebenarnya?

Kekhawatiran itu karena orang melihatnya dari sudut pandang orang yang inferior. Dia takut melihat China menjadi kuat, sedangkan saya yang takut kalau kita lemah.

Sedikit saya singgung isu politik domestik Malaysia. Perbedaan saya dengan UMNO adalah, dia gunakan isu kekuatan China untuk merampok kekayaan dalam negeri demi membuat kaya tiga-empat orang saja. Lihat semua pemimpin-pemimpinnya. Multi milioner, melimpah kekayaannya dari khazanah yang dirampas dari rakyat.

Jadi bagi saya China kaya itu bukan masalah. Rakyat menjadi miskin bukan lantaran China yang kaya. Miskinnya rakyat karena korupsi kita.  [Ahmad/Surya/SAHID/www.hidayatullah.com]

Rep: Admin Hidcom
Editor: Administrator

Bagikan:

Berita Terkait

Dan Brown: “Jika Anda Tanya Tiga Orang Apa Arti Kristen, Anda Akan Mendapatkan Tiga Jawaban Berbeda”

Dan Brown: “Jika Anda Tanya Tiga Orang Apa Arti Kristen, Anda Akan Mendapatkan Tiga Jawaban Berbeda”

Prof Farid Wajdi Ibrahim Jamin UIN Ar-Raniry tak Akan Liberal

Prof Farid Wajdi Ibrahim Jamin UIN Ar-Raniry tak Akan Liberal

Para Pemuda Harus Meneladani dan Meniru Langkah Para Ulama

Para Pemuda Harus Meneladani dan Meniru Langkah Para Ulama

Din Syamsudin: Saya Loyalis yang Kritis

Din Syamsudin: Saya Loyalis yang Kritis

CIA: 70 Tahun Kejahatan Terorganisir                  

CIA: 70 Tahun Kejahatan Terorganisir                  

Baca Juga

Berita Lainnya