Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Wawancara

Ulil Abshar: “1,4 milyar Itu Kecil”

Bagikan:

Ulil Abshar Abdalla (Koordinator Jaringan Islam Liberal)

Benarkah JIL didanai oleh The Asia Foundation? Benar, berapa jumlahnya?

Setiap tahun kami mendapat sekitar Rp 1,4 milyar. Selain itu, JIL juga mendapatkan dana dari sumber-sumber domestik, Eropa, dan Amerika. Tapi yang paling besar dari TAF. Tapi dana itu jauh lebih kecil daripada dana yang diperoleh ormas-ormas Islam lainnya.

Ormas mana?

Selain kami ada juga ormas Islam yang menerima dana dari TAF program Islam and Civil Society. Mereka itu adalah Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Solo, dan Departemen Agama. Dana yang diterima JIL jauh lebih kecil daripada mereka.

Ormas-ormas tersebut dipandang menggulirkan isu yang sejalan dengan JIL?

Tidak juga, justru bermacam-macam. Ada isu toleransi, kesetaraan gender, demokrasi, dan pluralisme.

TAF menjalin kerjasama dengan Yahudi dan CIA. Berarti JIL sesungguhnya menjalankan agenda mereka?

Ini cara berpikir orang yang dibingkai dalam kerangka berpikir teori konspirasi. Seolah ada agenda besar yang dipimpin oleh Amerika Serikat. Perlu Anda tahu bahwa orang-orang kaya, baik Yahudi maupun non-Yahudi, punya tradisi yang sama, yaitu menyumbangkan sebagian kekayaannya kepada kegiatan sosial. Mereka akan dibebaskan dari pajak dan memperoleh reputasi lebih tinggi karena telah berbuat baik untuk masyarakat. Hal ini sangat menakjubkan dibanding dunia Islam.

Apa yang dilakukan TAF dan Yahudinya itu tidak akan bermasalah?

Saya tidak keberatan mendapatkan dana dari Yahudi atau CIA. Memangnya kenapa? Sepanjang mereka tidak mempengaruhi kebijakan internal organisasi saya dan selama saya tidak diintervensi, tak masalah buat saya.

Tetapi tentu saja mereka tidak akan memberi bantuan secara cuma-cuma kan?

Sudah tentu mereka akan mendanai kegiatan-kegiatan yang punya satu visi dengan mereka. Tidak mungkin mereka mendanai kegiatan organisasi yang bersifat fanatisme agama. Kami, seperti JIL, NU, IAIN, Muhamammadiyah, juga tidak mungkin mencetak buku-buku Wahabi walau diiming-imingi oleh, misalnya, Arab Saudi.

Kami punya ideologi tertentu, dan kami tidak bisa menerima uang dari orang yang tidak seideologi dengan kami. Kalau Pemerintah Arab Saudi akan membiayai kegiatan JIL, fine (baik). Tapi kalau mereka menyuruh saya untuk mengadakan kegiatan yang anti Islam liberal, anti Islam progresif, menyebarkan Islam yang konservatif, ya saya tidak mau.

Pendapat Anda seringkali kontroversial dan berbeda dengan para ulama. Kenapa begitu?

Kontroversi itu bukan tujuan saya. Kontroversi itu akibat yang tak terelakkan. Saya mengemukakan pendapat tentang Islam yang berbeda dengan orang banyak. Otomatis, kalau pendapat Anda berbeda dan perbedaan itu sangat prinsip, yaitu agama, maka sudah tentu akan menimbulkan kontroversi. Jadi, kontroversi itu akibat, bukan sebab.

Secara jujur saya katakan, pandangan-pandangan saya itulah iman saya tentang Islam. Saya merasa tenteram dengan pemahaman saya itu.

Kalau boleh tahu, bagaimana dengan kehidupan keagamaan Anda sehari-hari?

Soal shalat, saya tetap shalat dengan cara seperti orang Islam yang lain. Soal puasa, saya tetap puasa seperti orang Islam lain. Karena bagi saya, soal ritual itu sudah selesai. Itu saya anggap bagian dari agama yang tidak perlu dipersoalkan. Saya merumuskan pandangangan yang liberal berkaitan dengan hal-hal di luar ritual. Pandangan tentang nikah beda agama, bagi saya, itu bukan ritual.

Anda setuju dengan pernikahan beda agama. Bagaimana jika suatu saat pernikahan beda agama itu terjadi pada anak Anda?

Saya harus menanggung, karena itu pandangan saya. Meskipun berat. Jadi, kalau saya ditantang seperti itu, secara rasional saya akan menyatakan boleh. Tetapi secara hati saya tidak mau munafik, saya mengatakan berat. Tetapi itu manusiawi.

Ada beberapa lembaga yang punya visi yang sama dengan JIL, seperti Majalah Syir’ah, ICRP, Radio 68H, dan lainnya. Ada hubungan apa?

Mereka teman seperjuangan kami. Dalam LSM itu ada yang disebut culture network (budaya jaringan). Jaringan ini bukan hanya di Indonesia, tapi global. Kami punya teman-teman di luar negeri yang punya visi yang sama, dan kami saling share (berbagi).* (Ahmad Damanik/Hidayatullah)

Baca lengkapnya di rubrik khusus majalah Hidayatullah terbaru, edisi Desember 2004, tentang “Benang Merah CIA, The Asia Foundation dan JIL(Jaringan Islam Liberal).

Baca juga wawancara panjang dengan ahli fiqh wanita ternama Indonesia, Prof. Dr. Huzaimah Tahido Yanggo. “Poligami Tidak Masalah…., “katanya.

Sejarah: “Kisah Teladan Shalahuddin al-Ayyubi saat Perang Salib”.

Juga “Saksi Penghianatan Bung Karno di Kota Amungtai”

Jangan lewatkan, keburu habis. Dapatkan di toko buku terdekat, atau di agen-agen majalah Hidayatullah

Rep: Ahmad Sadzali
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Adian Husaini dan  1.000 Artikel Pilihan

Adian Husaini dan 1.000 Artikel Pilihan

“Demi Allah, Saya Melihat Orang-orang Berteriak ‘Ya Husain!’”

“Demi Allah, Saya Melihat Orang-orang Berteriak ‘Ya Husain!’”

Rezim Suriah Penjarakan Kelompok Sunni dan Membunuh Pimpinannya

Rezim Suriah Penjarakan Kelompok Sunni dan Membunuh Pimpinannya

Mengapa Tuduhan Terorisme Tak Habis-habis untuk Kami?

Mengapa Tuduhan Terorisme Tak Habis-habis untuk Kami?

Barat Paling Diuntungkan Stigma Wahabi

Barat Paling Diuntungkan Stigma Wahabi

Baca Juga

Berita Lainnya